Woko Utoro
BGS itu singkatan dari biaya hidup, gaya hidup dan sikap hidup. Tiga hal itu sering kita dengar dalam berbagai forum diskusi maupun seminar. Hal-hal tersebut sangat mudah dipahami sebagai konsep tapi sering lupa jika sebagai spirit aplikatif. Bahkan lebih sering kita terjebak di antara salah satunya.
Di era yang tidak menentu seperti saat ini kita tahu biaya hidup semakin mahal. Dulu orang cari makan satu piring sangatlah mudah bahkan mampu menyimpan makanan hingga esok hari. Tapi saat ini mencari sesuap nasi saja sulitnya minta ampun. Belum lagi soal pendidikan, kesehatan, kendaraan dan tempat tinggal yang tidak setiap orang memilikinya. Di sudut yang lain ada orang yang menonjolkan gaya hidup. Jika tidak hidup bergaya katanya ia bisa mati gaya.
Bagi si kaya gaya hidup mungkin menyesuaikan isi dompet. Tapi ironisnya yang tak berpunya ikut-ikutan trend "biar tekor asal kesohor". Fenomena tersebut tentu bukan hal biasa melainkan sebuah penyakit. Terkadang rasa gengsi membuat orang kalap untuk menuruti gaya hidup. Padahal gaya hidup itu syahwat, keinginan yang tak berujung. Orang memperturutkan gaya hidup sampai kapan dan memang tidak ada batasan.
Harusnya kita berprinsip sikap hidup. Artinya kita berkarakter, berintegritas. Tidak malu bersikap sederhana. Sekalipun misalnya bergelimang harta. Kita bisa bergaul dengan siapapun tanpa melihat kelas atau status sosial. Jadi sikap hidup adalah cara pandang di mana seseorang mampu menempatkan sesuatu sesuai porsinya. Sikap hidup adalah jalan bahwa kehidupan dinilai bukan berdasarkan ana, saya, aku tapi kebenaran kolektif. Bahwa kebenaran itu mudah dirasakan dan bisa diterima. Ciri sederhana atas orang yang memiliki sikap hidup adalah selalu bersyukur atas segala nikmat dan merasa cukup atas berbagai karunia serta berbagi kepada sesama.[]
the woks institute l rumah peradaban 29/7/26
Komentar
Posting Komentar