Woko Utoro
Saya membaca banyak tentang Mbah Nun. Sebelum mengerti langsung orangnya saya berkenalan dengan ratusan tulisannya. Satu hal yang sering disampaikan Mbah Nun baik dalam tulisan maupun di forum Maiyah adalah berdaulat diri. Ya, daulat adalah kata yang sering diurai Mbah Nun dalam aktivitas sinau bareng.
Berdaulat diri artinya mengerti tentang diri sendiri. Kata itu Mbah Nun peras dari tradisi sufi, "man arofa nafsah faqod arofa robbah" sopo wonge seng pingin ngerti Gusti Allah ngertio awakmu dewe. Jika kita ingin mengerti siapa Allah maka harusnya mengerti tentang diri sendiri. Lebih dalam lagi mengerti tentang ciptaan Nya. Bagaimana mungkin kita mengerti khaliq sedangkan kita sendiri belum dikenal. Dalam bahasa Irfan Arifi sebenarnya saya ini Islam apa Jawa. Atau saya ini Jawa yang Islam, atau orang Islam yang tinggal di Jawa, atau apa. Nah dari term itu akhirnya kita jadi berpikir dan terus mencari.
Daulat diri bermakna mengerti batas. Sering kali kita melampaui batas. Akhirnya sebagaimana dalam Al Qur'an azab nan pedih bagi mereka yang melampaui batas. Kita bisa lihat melalui kisah Haman, Qorun, Fir'aun dll. Mereka adalah orang-orang yang melampaui batas dalam urusan harta dan kekuasaan. Sehingga dalam sejarah mereka sebenarnya diperbudak oleh syahwat, nafsu dan ambisi. Jika saja mereka berdaulat maka harta dan kekuasaan tak ubahnya ujian yang esok dimintakan pertanggungjawaban.
Kata Mbah Nun ciri orang berdaulat itu sederhana yaitu mengerti kelemahan diri. Bahwa untuk apa menimbun harta jika makan hanya butuh satu piring. Untuk apa menyingkirkan liyan jika jabatan tidak menyelamatkan. Buat apa menguasai semua jika hidup tak menikmatinya. Jadi melalui daulat diri harusnya kita sadar tentang arti cukup, sabar dan nriman. Karena daulat diri adalah menyadari dan memaknai atas segala pemberian Allah SWT. Bahkan kata Mbah Nun menikmati segala ujian apapun itu asalkan Allah SWT tidak marah kepada kita.[]
the woks institute l rumah peradaban 29/7/26
Komentar
Posting Komentar