Woko Utoro
Malam itu barangkali merupakan momen penuh emosional buat saya. Pasalnya saya harus meninggalkan Tulungagung dan kenangan bersama Pak Dede. Rasanya nyesek sekali. Sebab saya ingat momen penuh kehangatan bersama beliau dan teman-teman. Selain itu saya sudah anggap beliau adalah orang tua. Anda tahu bagaimana rasanya anak berpisah dengan orang tua.
Malam itu saya dihidangkan kopi hitam oleh Inas (keponakan Pak Dede). Tapi kopi itu masih pahit hanya saja tidak sekental dan hangat seperti dulu. Mungkin karena ini momen terakhir saya berjumpa beliau. Semoga saja perjumpaan dengan beliau masih sering terjadi walaupun saya di luar Tulungagung. Hingga akhirnya beberapa hal saya catat dari pertemuan singkat itu.
Pak Dede berpesan kepada saya jika di sana harus banyak inisiatif. Karena status kita adalah mantu maka inisiatif misalnya membersihkan halaman, wc, ruang tamu dll harus dilakukan. Selain agar si empunya rumah senang kita juga merasa bermanfaat. Selanjutnya jangan menjadi beban buat orang lain. Syukur-syukur keberadaan kita adalah solusi atas segala masalah.
Jika ada problem keluarga jangan dipendam sendiri. Kita harus sering komunikasi dan musyawarah terutama dengan istri. Kita harus banyak mengalah dalam hal apapun. Karena mengalah bukan berarti kalah tapi justru letak kebijaksanaan. Banyak orang pintar di masyarakat tapi sedikit sekali yang bijak.
Misalnya suami menuruti kemauan istri untuk tidak merokok atau membelikan sesuatu. Maka hal itu sebuah penghargaan tertinggi. Bagi istri beberapa hal dituruti maka penghormatan terhadap suami akan tinggi. Suami yang menurut pada istri bukan tentang ketakutan tapi ia tahu peran dan posisinya. Kata Pak Dede suami yang menuruti apa kata istri tidak akan jatuh statusnya tapi ia tetaplah seorang laki-laki.
Selanjutnya harus sering mendengar dan mengamati. Karena di sana sudah beda kebudayaan maka kita perlu bersikap pelan dan hati-hati. Semua hal harus diukur berdasarkan asas etika yang berlaku. Artinya jangan mentang-mentang kita pintar justru malah mendominasi. Sesungguhnya rumah tangga itu adalah mitra dan pembagian peran bukan menguasai.
Terakhir selalu lah bertanya jika kita tidak tahu. Semua niatkan belajar dan berproses. Tidak ada kata terlambat atau gengsi. Semua butuh step dan terpenting saling percaya dan memahami. Insyaallah dari fase transisi ini kita akan melewati semua dengan baik. Jangan lupa jadikan pengalaman selama di Tulungagung sebagai bekal untuk hidup di tempat baru. Pengalaman selama ini sebagai guru yang menjadi petunjuk ketika kita kehilangan arah.[]
the woks institute l rumah peradaban 22/7/26
Komentar
Posting Komentar