Langsung ke konten utama

Tangisan Anak SD

Woko Utoro

Sudah masuk tahun ajaran baru. Itu artinya ada semangat baru, teman baru dan seragam baru. Hal-hal baru itu menjadi bahan bakar seorang anak menikmati masa berprosesnya. Tapi saya menemukan satu siswa menangis tersedu-sedu karena ditinggal guru lesnya. Siswa tersebut akhirnya lemas dan kurang bergairah ketika dihadapkan dengan realita saya harus belajar sendiri.

Tangisan anak SD tersebut tentu mengingatkan saya akan banyak peristiwa serupa. Dulu ketika masih di SDI Al Azhaar Tulungagung saya berproses bersama anak-anak sejak di kelas 2-6 selama 2 tahun. Lalu saya tidak memperpanjang kontrak dan ada saja siswa yang menangis karena harus berpisah. Bahkan beberapa masih sering menghubungi saya lewat pesan WhatsApp.

Setelah itu saya ulangi lagi di SD Ringinpitu 1 juga sekitar 2 tahun masa pengabdian. Ketika momen pamit undur diri saya langsung kabur. Karena pastinya saya tidak kuasa menangis tangis. Benar saja beberapa di antara mereka mengejar saya hingga pintu gerbang sambil menderu tangis. Mungkin saya nampak raja tega buat mereka menangis. Tapi apa mau dikata itu yang saya bisa. Saya sendiri paling tidak kuasa menahan tangi air mata.

Selanjutnya di SD 2 Kepatihan saya pun memilih cabut bukan karena terjadi konflik. Melainkan ada tugas lain yang tidak bisa saya tinggal. Akhirnya ketika momen pamit saya sengaja berdiam diri. Dengan harapan tidak ada siwa yang tahu. Ternyata di luar dugaan beberapa di antara mereka datang menghampiri seraya bersalaman dan berkaca-kaca. Saya pun memegangi pundak dan kepala mereka. Saya titipkan salam dan doa semoga mereka diliputi kesuksesan.

Yang paling ikonik yaitu tahun 2018 ketika saya KKN di Sidomulyo Bakung Blitar. Di sana kebetulan ada sekolah dasar. Kami mengajar di sana, berbagi dan bermain bersama. Tidak terasa 40 hari bersama mereka melahirkan jalinan emosional yang kuat. Akhirnya benar saja ketika kami harus pamit pulang hampir seluruh siswa dari kelas 1-6 menangis semua. Mereka tidak ingin kami tinggal dan berharap terus bersama untuk waktu lebih lama.

Kami pun mencoba menenangkan mereka dan memberikan pengertian bahwa program KKN memiliki waktu yang terbatas. Termasuk kami juga janji suatu saat akan kembali dan mengunjungi mereka. Tak diduga akhirnya tangis malah semakin pecah. Mereka menarik, merangkul, bahkan berguling dan menjaga gerbang. Mereka berusaha sekuat mungkin agar kami tidak pergi untuk secepatnya.

Tapi bagaimanapun tangis itu akhirnya kami mengajarkan mereka untuk melepas dengan tabah. Serupa dengan kematian kita belajar untuk tegar dan ikhlas bahwa pertemuan pasti ada perpisahan. Tapi itulah anak SD dengan segala keluguannya.

Tangis Sebagai Simbol Ekspresi Jiwa

Dari banyak peristiwa itu saya memaknai bahwa tangis tak lebih dari ekspresi jiwa. Apalagi bagi anak SD tangis adalah simbol spontanitas yang menggambarkan emosi mereka seketika itu juga. Lambat laun 1-3 hari semuanya akan normal kembali. Tapi mungkin jika soal kenangan setiap orang berbeda dalam memaknainya. Bisa jadi kenangan akan lebih melekat dari sekadar tangisan.

Saya juga melihat bahwa tangisan anak SD bersifat orisinil dan tulus. Sebab anak SD belum bisa mendramatisir laiknya orang dewasa dengan tangis buaya nya. Anak SD itu mudah melupakan rasa senang dan sedihnya seketika itu juga. Dan hal itu bagian dari keunikan mereka.

Bagi saya kenangan, perjumpaan atau kebersamaan yang berakhir kadang perlu ditangisi. Itulah barangkali keberhasilan anak SD yang sekaligus membuat orang dewasa tertawa tapi sebenarnya batinnya menangis. Mungkin tangis itu simbol kenyamanan mereka yang jarang ditemukan dalam keseharian. Selama anak SD masih menangis dalam momentum tertentu bagi saya itu kehidupan yang sehat. Karena empati mereka masih terasah dan tajam. Bayangkan saja jika anak SD acuh dan abai bagaimana saat dewasa nanti ketika tahu dunia begitu kompleks dan problematik.[]

the woks institute l rumah peradaban 17/7/26

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Catatan Lomba Esai Milad Formasik ke-14 II

Woko Utoro Dalam setiap perlombaan apapun itu pasti ada komentar atau catatan khusus dari dewan juri. Tak terkecuali dalam perlombaan menulis dan catatan tersebut dalam rangka merawat kembali motivasi, memberi support dan mendorong untuk belajar serta jangan berpuas diri.  Adapun catatan dalam perlombaan esai Milad Formasik 14 ini yaitu : Secara global tulisan mayoritas peserta itu sudah bagus. Hanya saja ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Terutama soal ketentuan yang ditetapkan oleh panitia. Rerata peserta mungkin lupa atau saking exited nya sampai ada beberapa yang typo atau kurang memperhatikan tanda baca, paragraf yang gemuk, penggunaan rujukan yang kurang tepat dll. Ada yang menggunakan doble rujukan sama seperti ibid dan op. cit dll.  Ada juga yang setiap paragrafnya langsung berisi "dapat diambil kesimpulan". Kata-kata kesimpulan lebih baik dihindari kecuali menjadi bagian akhir tulisan. Selanjutnya ada juga yang antar paragraf nya kurang sinkron. Se...

Catatan Lomba Esai Milad Formasik ke-14 I

Woko Utoro Senang dan bahagia saya kembali diminta menjadi juri dalam perlombaan esai. Kebetulan lomba esai tersebut dalam rangka menyambut Milad Formasik ke-14 tahun. Waktu memang bergulir begitu cepat tapi inovasi, kreasi dan produktivitas harus juga dilestarikan. Maka lomba esai ini merupakan tradisi akademik yang perlu terus dijaga nyala apinya.  Perasaan senang saya tentu ada banyak hal yang melatarbelakangi. Setidaknya selain jumlah peserta yang makin meningkat juga tak kalah kerennya tulisan mereka begitu progresif. Saya tentu antusias untuk menilainya walaupun disergap kebingungan karena terlalu banyak tulisan yang bagus. Setidaknya hal tersebut membuat dahaga ekspektasi saya terobati. Karena dulu saat saya masih kuliah mencari esais itu tidak mudah. Dulu para esais mengikuti lomba masih terhitung jari bahkan membuat acara lomba esai saja belum bisa terlaksana. Baru di era ini kegiatan lomba esai terselenggara dengan baik.  Mungkin ke depannya lomba kepenul...