Woko Utoro
Gus Faiz Syukron Ma'mun dalam berbagai ceramahnya berkisah jika semasa kecil sering dibawa ayahnya Prof. KH. Syukron Ma'mun (alm) ke berbagai pesantren. Terkhusus di Jawa Timur beliau berjumpa dengan banyak kalangan, ulama habaib. Salah satu yang mengena adalah perjumpaan dengan KH Abdul Hamid Pasuruan. Kata Kiai Syukron kepada Gus Faiz kecil kamu boleh melakukan apa saja asal tidak menolak 3 hal ini. Pertama jika bertemu kiai cium tangannya, tatap matanya dan buka mulut untuk diidoni (diludahi).
Singkat kisah tiga hal itu Gus Faiz lakukan dengan senang hati. Hingga hari ini beliau sangat bahagia bercerita tentang diludahi salah satunya oleh KH Abdul Hamid Pasuruan. Siapa yang tidak tahu Kiai Hamid yang terkenal wali dan do'anya maqbul. Tentu siapa saja berharap keberkahan walaupun kadang membuat kita berpikir apa relasi diludahi dengan keilmuan. Setelah dewasa tradisi yang tidak bisa ditolak dari ayahnya tersebut ternyata mengandung makna mendalam.
Gus Faiz mendapatkan jawaban ketika mulazamah bersama Syeikh Dr. Ali Jum'ah. Kata Gus Faiz, ketika khataman kitab bersama Syeikh, beliau meminta agar santri termasuk Gus Faiz untuk mencium tangan dan tatap matanya. Hal tersebut dimaknai sebagai sanad. Karena tangan tersebut adalah tangan yang pernah bersalaman dengan tangan yang ujungnya hingga Rasulullah SAW. Mata itu pula yang pernah memandang mata orang-orang yang bersambung kepada Rasulullah SAW. Sehingga ukuran sanad keilmuan bersumber dari belajar, ngaji, cium tangan, memandang wajah ulama dan salah satunya diidoni.
Gus Faiz sudah bergelar doktor dan ayahnya profesor. Akan tetapi sering berkisah tentang diludahi. Mereka percaya ulama kiai yang khos masih ampuh membawa berkah. Karena gelar jabatan bisa dibeli tapi keberkahan hanya dapat diyakini dan diresapi. Di era modern ini apakah kita masih percaya dengan suwuk atau ludah kiai. Atau seperti di mana-mana pemujaan terhadap logika sendiri lebih dianggap canggih dari santri hormat kiai.
Dari kisah Gus Faiz kita belajar bahwa santri boleh melangkah kemanapun. Bahkan nun jauh di sana. Tapi ingat selamanya tetap santri yang tidak bisa menghindar dari do'a para kiai. Maka tidak salah jika Mbah kiai Lirboyo dawuh, santri sangat mungkin lebih pintar dari gurunya. Tapi soal kedekatan dengan Allah SWT nanti dulu. Ini tanda bahwa terkadang keberkahan tidak selalu dapat dinalar akal tapi bisa dirasakan manfaatnya. Keberkahan justru datang dari mereka yang ikhlas dan itu tak lain bersumber dari ridho guru.[] Memperingati HSN2026.
the woks institute l rumah peradaban 22/10/26
Komentar
Posting Komentar