Woko Utoro
Kapan hari saya iseng bahkan menerka sambil bertanya pada ChatGBT mengapa guru bahasa Indonesia tidak menulis. Jika pun menulis rasanya bisa dihitung jari. Kata ChatGBT mengapa guru bahasa Indonesia tidak menulis. Katanya guru bahasa Indonesia itu bukannya tidak menulis. Mereka menulis dalam bentuk lain misalnya soal ujian, RPP, modul pembelajaran, hingga resume materi.
Tapi hal yang mendasar mengapa guru bahasa Indonesia tidak menulis. Secara psikologis mereka mengalami kecemasan hingga ketakutan. Terutama takut jika EYD nya salah, takut tulisannya jelek, tidak enak dibaca secara mereka guru bahasa Indonesia yang tiap hari bergumul dengan aksara.
Mereka juga menyimpan semacam trauma jika tulisannya tidak sebagus orang lain. Terutama jika melihat betapa di luar jurusan bahasa Indonesia banyak yang piawai menulis. Selanjutnya guru bahasa Indonesia tidak menulis karena sistem membentuk mereka untuk menjadi penilai bukan penulis. Di sisi lain mereka juga harus bergelut dengan administrasi yang seabrek.
Guru secara umum tidak menulis karena memang sistem menciptakan. Sekaligus mereka berjibaku dengan administrasi yang tak kunjung usai. Lucunya administrasi itu tidak menunjang mereka bisa menulis. Akhirnya guru mudah terkena burnout alias kelelahan secara fisik maupun psikis. Guru seperti tak pernah punya waktu untuk bagaimana berproses menghasilkan tulisan.
Sisi lain yang kentara adalah menulis atau membuat buku tidak membuat karir mereka melesat. Apalagi bicara gaji yang bertambah. Sehingga menulis terasa hampa seolah tidak ada tujuan praktisnya. Orang malas menulis karena sistem sendiri tidak berpihak pada mereka. Jadi jangan tanya mengapa guru bahasa Indonesia enggan menulis.
Di sini jelas bahwa menulis bukan hanya tugas guru bahasa Indonesia. Tapi kita semua. Apapun problem serta alasan bagi saya menulis ya menulis saja. Harusnya prinsip nasyrul ilmi jadi pertimbangan mengapa orang harus menulis. Tanpa menunggu gaji atau sertifikasi.[]
the woks institute l rumah peradaban 2/11/26
Meskipun bukan guru bahasa Indonesia, kita tradisikan untuk menulis
BalasHapus