Langsung ke konten utama

Budaya Primitif dalam WAG

..
Kecanggihan teknologi yang melahirkan berbagaimacam platform digital, fitur-fitur aplikasi dan segala macam media sosial sesungguhnya bertujuan untuk memudahkan komunikasi manusia. Teknologi tersebut juga menawarkan segala macam penunjang kebutuhan manusia, mulai dari belanja, transaksi, kirim paket, pesan antar, tarik tunai, menanyakan kabar, serta komunikasi lainya. Akan tetapi segala macam kemudahan tersebut sering luput dari pandangan yaitu sisi negatifnya. Kita memang cenderung mudah terbuai sampai-sampai tidak sadar bahwa ada bahaya yang mengancam.

Kita sering dapati banyak penyalahgunaan media sosial yang tidak bijak dari penggunanya. Mereka mengunakan media dengan "semau gue" sehingga etika bermedia benar-benar tidak diperdulikan. Anggapan bahwa media hanya milik sendiri telah disalahpahami. Padahal media sosial selalu memberi ruang kepada publik untuk mengetahui segala macam aktivitas. Bahkan tidak jarang ruang privat sekalipun kini sangat mudah dibobol oleh mereka yang tak bertanggungjawab.

Terus terang saya mengikuti banyak WhatsApp Group (WAG) dari banyak group tersebut tentu bermacam-macam isinya, ada group menulis, komunitas, jual beli, tanya jawab agama, organisasi sosial dan banyak lagi termasuk group teman dan kelas. 
Ada yang miris dalam group tersebut yaitu banyaknya teman-teman yang masih sering termakan berita hoax, adu domba dan unsur politis lainya. Belum lagi penggunaan stiker pornografi yang masif menambah kentarannya masyarakat yang bodoh. Persoalannya adalah sekedar iseng dan guyon padahal semua itu sama sekali tidak lucu. Hal itu memang mencirikan ke pribadian pengirimnya. Dalam otak tersebut pasti sudah dikuasai mindset cabul dan ngeres lainya. Padahal stiker lucu lainya seperti kartun masih banyak dari pada meng-share stiker porno. Ironisnya si pengirim itu bergelar sarjana alias orang yang pernah makan bangku sekolah.

Tak kalah prihatinnya yaitu adanya homo videns yaitu sebuah istilah buat mereka yang kerangka berfikirnya dibentuk lewat media modern. Homo videns merupakan spesies baru setelah homo sapien di mana dulu manusia berfikir dengan akalnya tapi saat ini media benar-benar mengubah segalanya. Mereka mempelajari agama dan pengetahuan hanya lewat internet. Apakah mempelajari pengetahuan lewat internet salah? tentu tidak, istilah homo videns hanya ingin memberi pencerahan bahwa ambilah pengetahuan tersebut dengan kritis. Kita perlu tahu adanya data valid dan memverifikasinya. Sehingga pengetahuan tersebut tidak hanya instan tanpa kita tahu apa maksudnya, maka meminjam istilah Gus Nadir "saring sebelum sharing". Kita patut tahu bahwa tidak semua pengetahuan di internet semua baik dan tidak menyebut negatif pula. Akan tetapi sebagai cerminan masyarakat yang literat kita harus cerdas dalam memilih mana pengetahun yang benar-benar dapat dikonsumsi. Karena dewasa ini internet dan dunia maya kita masih keruh diwarnai oleh berbagaimacam problem seperti berita hoax, fake news, ideologi menyimpang hingga penggiringan opini. Perlu kita ketahui bahwa rekam jejak dunia maya tidak bisa terhapus. Ia akan terus terkoneksi seiring dengan berjalanya sistem logaritma internet.

Dalam tulisan singkat ini sebenarnya tidak hanya pada WAG saja melainkan media sosial lainya perlu diberi rambu agar kita sebagai pengguna dapat lebih bijak lagi dalam bermedia. Maka dari itu pantaslah jika kita harus melek membaca agar tidak terkecoh mana informasi yang seharusnya kita hindari. Jangan sampai budaya primitif yang tidak mendidik malah justru menjadi konsumsi sehari-hari. Kita perlu mengekang segala macam nafsu untuk terus mengikuti segala macam keinginan yang sejatinya menenggelamkan diri sendiri. Kita memang perlu pikiran jernih dan hati yang bersih, sebelum berbuat pikirlah lebih jauh.

the woks institute, 18/7/20


.

Komentar

  1. Fikih media sosial perlu disebarluaskan. Catatan yang informatif dan inspiratif.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Tuan Krabb, Uang dan Ajaran Zuhud

             ( Sumber gambar canva.com) Woks Jika anda penikmat serial kartun Spongebob Squarepants tentu tak asing dengan tokoh Eugene H. Krabs atau biasa disapa tuan Krab. Ia adalah tokoh kartun dengan jenis kepiting. Ia merupakan majikan dari Spongebob dan Squidward, pemilik restoran cepat saji paling terkenal selautan yaitu Krusty Krabs. Restoran yang menyajikan Krabby Patty alias Burger itu selalu berseteru dengan saingan utamanya yaitu Seldon Plankton. Tapi bukan itu yang dibahas, melainkan perilaku dari sang pemilik restoran yaitu tuan Krabs. Tuan Krab seperti judul tulisan ini ialah sosok yang digambarkan sebagai pecinta uang. Bahkan kecintaan kepada uang melebihi sayangnya pada anak semata wayangnya yaitu Pearl. Stephen Hillenburg sebagai pencipta tokoh kartun tersebut begitu ciamik dalam menyajikan karakter pada tokoh tuan Krab tersebut. Ia bahkan berhasil menciptakan penonton yang membuat gemas saat tuan Krab kikir terhadap karya...

Pesan Untuk Temanten

Woko Utoro  Beberapa waktu lalu saya diminta oleh Widayanti untuk hadir dipernikahannya. Saya bilang tidak bisa, selain karena kesibukan tentu sebagai artis jadwal bookingnya mahal (kami pun tertawa). Widayanti adalah adik kelas kami sejak di MTs, Aliyah hingga kuliah. Kebetulan kami satu almamater yaitu Nurul Hikmah Squad baik di Gantar maupun Haurgeulis. Singkat kisah Widay sapaan akrabnya mengabari saya jika ia pamit untuk menikah. Saya bilang oke ndak papa, semoga lancar dan berkah. Lantas ia pun langsung meminta agar saya memberi nasihat. Tanpa berlama-lama saya pun menuliskan spesial buatnya. Dan memang hanya itu yang saya mampu. Pesan ini tentu tidak hanya untuk Widay tapi semua orang dan saya secara pribadi. Pertama,  berkaitan dengan nikah sudah jelas yaitu bertujuan untuk mengikuti sunnah Nabi-Nya. Melahirkan generasi terbaik dan tujuan menggapai ridha Allah SWT. Tidak ada pesan lain kecuali segala sesuatu bersandar kepada Allah SWT. Kedua , saya dapat pe...