Langsung ke konten utama

Menulislah Terus


Woks

Saya bukanlah orang yang terlalu fanatik akan menulis. Yang jelas menulis hanya salah satu jalan menjelaskan kehidupan dengan kumpulan kalimat. Ia adalah cara di mana pena bicara bahkan bersahabat dengan siempunya. Padahal secara empirik pena hanyalah bendawi yang bisu. Ia hanya tempat singgah para tinta sebelum semua berakhir di atas lembaran buku, mencorat-coret yang menjadikanya tulisan. Terlepas tulisan tersebut dibaca atau tidak itu perkara lain.

Kita sebenarnya tidak pernah lepas dari dunia tulis menulis. Bahkan dalam riwayat takdir diistilahkan dengan sudah tertulis di monitor maha canggih bernama lauh mahfudz. Di sana segala macam takdir, amal baik buruk dan gerak gerik telah tertulis. Semua tinggal menjalani dengan sepenuh hati tanpa pernah protes.

Selanjutnya nenek moyang kita memberikan pelajaran hidup dan kisah-kisah masa lampau dengan menuliskanya melalui media seperti batu, kulit kayu, tulang belulang, daun lontar, dan banyak lagi sebelum akhirnya kita mengenal kertas dari negeri Cina melalui Tsai Lun bahkan disempurnakan lagi dengan penemuan mesin cetak ala Johan Gutenberg.

Dulu nenek moyang kita melewati masa di mana dunia belum seperti saat ini yang serba instan dan canggih. Kamus kehidupan mereka tak lain adalah perjuangan. Melihat dunia walaupun dengan susah payah. Akan tetapi melalui tulisan mereka mewariskanya kepada kita. Zaman Yunani kuno, Mesir, Arab, Eropa, Cina atau apalah sebutanya yang jelas saat mereka mengenal dunia tulis lantas dunia seperti tercerahkan. Plato mengenal tulisan dari Socrates, Imam al Ghazali dari gurunya Imam al Haramain, Imam Hambali dari Imam Syafi'i, Mbah Hasyim dari Syeikh Ahmad Zaini Dahlan dan lain sebagainya. Intinya mereka pun hingga saat ini kita kenal lewat tulisannya. Bahkan pusaka umat yang diwariskan kepada kita melalui Nabi Muhammad saw yaitu al Qur'an juga tak luput dari tulisan. Di mana dulu sebelum kodifikasi Qur'an dibukukan pada zaman Umar ibn Khattab lalu berakhir di zaman Utsman ibn Affan (yang kelak kita kenal dengan Rasm Utsmani) ditulis oleh Sahabat Zaid ibn Tsabit melalui Rasulullah saw. 

Lantas jika kita telah mengetahui akan hal itu apakah lalu kita diam? tentu tidak. Jangan biarkan satu jengkal pengetahuan pun luput dari ingatan. Kita juga harus berperan, entah meluruskan atau mewarnai. Begitu pula yang didawuhkan Mbah Moen bahwa kita (saya pribadi ingin diakui santri beliau) harus turun ke gelanggang ikut berperan walau melalui tulisan. Tentu kita tidak ingin jika media baik cetak atau digital dipenuhi sesok oleh mereka kaum sebelah, padahal untuk menyebut ahli saja menjadi sesuatu yang tak pantas apalagi sampai membawa embel-embel ustadz, dai atau bahkan anak kardinal. Ini sungguh keterlaluan. Maka saat ini kita niatkan untuk belajar menulis. Lebih-lebih kepada mereka yang telah berniat mewakafkan dirinya untuk ilmu pengetahuan jangan sampai mandeg di tengah jalan.

Kita saat ini hanya sebagai generasi penerus maka layaknya untuk meneruskan bahkan menginovasinya. Justru hal itulah yang menjadi tanggungjawab kita. Saya sendiri mencoba meyakinkan melalui motivasi orang, dari video, tulisan, atau petuah siapapun bahwa menulis saja, jangan takut salah, jangan takut tidak dibaca. Buang semua rasa minder dan segala macam ketakutan, munculkanlah percaya diri. Sebab orang-orang yang PD dengan foto selfinya mengapa penulis malu dengan tulisanya. Ini hidup yang perlu dipilih. Sebab kehidupan banyak menyediakan kaca untuk kita bercermin. Kemana jiwa harus melangkah. Apa pula yang mesti dituliskan? jika bukan tentang banyak hal. Atau sesuatu yang kita sukai. Dunia terlalu luas untuk hanya sekedar dikurung dalam sangkar.

Enjoy your life...

the woks institute, 6/7/20

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Hierarki Rasa Menerbitkan Buku Perspektif Psikologi

Woks Bagaimana rasanya menulis, bagaimana rasanya jika tulisan tersebut dibukukan, terbit, beredar ke muka umum hingga tiba di hati pembaca. Tentu segala rasa itu sangat subjektif tapi sedikitnya bisa dijabarkan walaupun setiap orang punya pengalaman tersendiri. Saya punya 3 pendapat bagaimana rasanya punya buku dan sampai dibaca oleh orang lain. Secara psikologis hal itu dapat kita jabarkan secara singkat. Secara hierarkis 3 tingkatan rasa tersebut bisa kita lihat dari sejak kehadiran buku pertama hingga buku ke sekian. Pertama, akan muncul rasa bangga, senang, haru, campur aduk bahkan agak sedikit pamer atau semi-semi riya. Akan tetapi di fase ini penulis masih belum hilang rasa mindernya karena kepercayaan diri belum terbangun seutuhnya. Rasa percaya diri hanya terbangun untuk menerbitkan saja sehingga godaan untuk konsisten menulis bisa dilihat di sini. Fase ini biasanya terjadi pada buku pertama, bahkan buku antologi alias buku keroyokan pun jika lahir pertama begitu nampak berha...

Tuan Krabb, Uang dan Ajaran Zuhud

             ( Sumber gambar canva.com) Woks Jika anda penikmat serial kartun Spongebob Squarepants tentu tak asing dengan tokoh Eugene H. Krabs atau biasa disapa tuan Krab. Ia adalah tokoh kartun dengan jenis kepiting. Ia merupakan majikan dari Spongebob dan Squidward, pemilik restoran cepat saji paling terkenal selautan yaitu Krusty Krabs. Restoran yang menyajikan Krabby Patty alias Burger itu selalu berseteru dengan saingan utamanya yaitu Seldon Plankton. Tapi bukan itu yang dibahas, melainkan perilaku dari sang pemilik restoran yaitu tuan Krabs. Tuan Krab seperti judul tulisan ini ialah sosok yang digambarkan sebagai pecinta uang. Bahkan kecintaan kepada uang melebihi sayangnya pada anak semata wayangnya yaitu Pearl. Stephen Hillenburg sebagai pencipta tokoh kartun tersebut begitu ciamik dalam menyajikan karakter pada tokoh tuan Krab tersebut. Ia bahkan berhasil menciptakan penonton yang membuat gemas saat tuan Krab kikir terhadap karya...