Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2025

Imajinasi Itu Penting

Woko Utoro  Seseorang datang pada ku. Katanya hidup ini makin aneh. Ia sendiri merasakan ketidakberesan itu. Ia lalu menyodorkan apa ada yang salah dari yang saya baca. Kata ku padanya tidak ada yang salah. Hanya saja kita memerlukan apa yang seharusnya diperlukan. Ya teman ku tersebut kesulitan dalam mengelola emosinya. Apalagi jika soal pasangan, katanya ia selalu bingung bagaimana cara memulai. Aku katakan padanya bahwa terkadang kita memerlukan bacaan untuk menangkap imajinasi. Lewat bacaan itulah sebenarnya kita tengah belajar mengelola emosi. Terutama berkaitan dengan empati yang beberapa dekade ini terganggu akibat adanya medsos. Maka bacaan seperti sastra nampaknya perlu kita coba untuk mendarasnya. Aku pun mencoba menjelaskan padanya tentang titik temu dalam otak yang dapat dipahat melalui tiga cara yaitu bacaan, visual dan audio visual. Coba perhatikan bagaimana pandangan anda ketika membaca kalimat, "Reranting itu telah dipatahkan oleh keserakahan" deng...

Musibah dan Konten

Woko Utoro  Orang sekarang itu makin hari makin tidak waras. Di saat duka sekalipun masih ada mereka yang tega membuat konten. Dilansir dari Kompas id dalam tragedi erupsi Gunung Semeru beberapa orang mendekat ke area berbahaya di sekitar lahar dingin Semeru hanya demi ngonten. Dalam bahasa kita seperti kurang kerjaan saja. Apa tidak ada kerjaan lain dan bahkan aktivitas itu bisa saja membunuh mereka. Ternyata di balik semua itu ada istilah kedekatan emosional karena memang dilakukan oleh warga sekitar. Selain itu ada juga istilah the first hand alias yang ingin pertama mengabarkan. Lucunya dari konten musibah itu orang sudah lupa bahwa ada yang lebih penting yaitu keselamatan. Menurut ahli psikologi digital ternyata orang kini sudah tak menghiraukan keselamatan demi keuntungan. Padahal himbauan dan contoh sering terjadi berulang kali. Seperti kata jurnalis senior Om Wicaksono, internet ibarat kucing lucu. Awalnya menggemaskan tapi lambat laun ternyata nyolong ikan. It...

Melawan Dunia dengan Ketaatan Kepada Allah SWT

Woko Utoro  Perdetik ini bahkan sejak dulu siapa orang yang tak mau kaya. Pasti sifat dasar manusia adalah ingin kaya dan terhormat. Pasti ingin hidup mulia dan jauh dari kesengsaraan. Tapi semua hanya mimpi alias angan-angan. Sebab semua pikiran itu selalu lahir dari rahim yang tak instan. Semua butuh proses, perjuangan dan doa. Tapi mengapa orang ingin kaya. Mengapa orang tidak ingin cukup. Atau hidup sederhana dan apa adanya. Ternyata hal itu tidak sederhana dan tak mudah. Memang sejak dulu manusia selalu ingin kaya terutama soal kepemilikan harta. Bahkan sejak jaman nabi sudah disebutkan seandainya gunung Uhud dijadikan emas sekalipun manusia tak merasa cukup. Walaupun misalnya dijelaskan bahwa dunia itu bangkai. Bahwa yang memburu dunia itu seperti anjing. Atau dunia itu penuh kehinaan. Tapi nyatanya semua tak merubah pikiran manusia untuk tetap di jalur dunia. Lantas bagaimana dengan kita yang tidak bakat soal urusan dunia. Sederhana saja kata ulama jika orang lai...

Kapan Perdebatan Nasab Berakhir

Woko Utoro  Perdebatan seputar nasab masih meruncing hingga kini. Seolah tak pernah reda dan entah sampai kapan berakhirnya. Perdebatan tersebut memang bukan sekadar isu tapi sudah ditahap pergesekan. Yang lucu pergesekan tersebut terjadi dari pucuk pimpinan hingga di akar rumput. Bicara perdebatan nasab seolah kita berharap agar konflik Israel Palestina dapat berhenti. Tapi faktanya tidak semudah itu dan pertanyaan jelas apa yang sebenarnya dicari. Apa motif dari fenomena itu dan siapa bermain di belakangnya. Siapa yang untung rugi dari peristiwa ini. Tentu hingga kini kita masih sukar menjawabnya. Sebagian orang perdebatan tersebut dinilai sebagai perebutan panggung kuasa atau soal pendapatan. Sehingga kita sebagai penonton cukup melihat saja. Karena kita tidak mampu dan memang tak berkepentingan maka menjadi penonton sepertinya lebih baik. Biarkan saja mereka bermain sendiri dan semoga segera bertaubat. Ada yang mengatakan perdebatan nasab adalah soal pengaruh, perta...

Masih Adakah Angin di Tulungagung

Woko Utoro  Judul tulisan kecil ini mengingatkan pada puisi Umbu Landu Paranggi yang digubah menjadi syair lagu oleh Mbah Nun dengan judul yang sama, "Apakah ada angin di Jakarta". Pertanyaan apakah ada angin di Jakarta juga dapat diterapkan di Tulungagung. Tentu sangat relevan dan pertanyaan itu bukan tentang climate change alias perubahan suhu akibat iklim global. Pertanyaan tersebut berkaitan dengan tradisi dan budaya di kota ini yang telah berkembang lama. Masihkah bertahan di tengah arus deras perubahan. Sebagai perantau yang masuk ke Tulungagung sejak tahun 2015 tentu saya lumayan paham bagaimana saat dulu dan hari ini. Tentu saja kita semua merasakan hal apa saja yang sudah berubah dari kota di selatan Jawa ini. Dari segi infrastruktur mungkin yang paling terasa perubahannya. Dulu sekitar kampus UIN SATU rerimbunan tebu masih begitu hijau atau juga beberapa pohon perdu menjalar menghidupi hewan ternak. Tapi kini suasana itu sudah ditelan oleh ragam pembang...

Membaca Hingga Lelah

Woko Utoro  Sebelum berpulang salah satu pesan Gus Dur kepada putri bungsunya Inayah Wahid yaitu "Teruslah membaca. Membaca sampai mati". Pesan tersebut bagi saya sangat kuat dan nendang. Jarang ada orang tua yang berpesan membaca kepada anaknya dan mayoritas justru tentang ekonomi, status atau jabatan. Pesan membaca di era kekinian memang sangat penting. Dulu orang membaca untuk memahami dan menghayati penciptaan. Atau paling jauh membaca agar orang tidak kesasar dalam pengetahuan. Tapi di era globalisasi ini membaca tidak sekadar memahami tapi menemukan kebenaran di antara kesalahan yang campur aduk. Ya di era digital ini kebenaran dan kebathilan sangat sulit dibedakan bahkan cenderung menipu. Maka dari itu pesan agar kita membaca sangat relevan sampai kapanpun. Membaca di sini tentu bermakna luas terutama mengamati, memahami dan mengelola perubahan informasi yang disebabkan modernisasi. Sedangkan membaca dalam arti sempit yaitu bercengkrama dengan buku secara l...

Masjid Kita Masih Belum Berdaya

Woko Utoro  Alhamdulillah saya berkesempatan berbincang dengan salah satu penyuluh agama Kemenag Kabupaten Tulungagung yaitu Bapak Samsul Arifin, S.Sos.I. Kali ini perbincangan kita bertemakan masjid. Terutama bagaimana anak muda mencintai masjid. Sebagaimana kita tahu masjid lebih lagi mushala masih didominasi kalangan tua. Fenomena masjid dan orang tua mungkin bukan satu dua kasus melainkan hampir menyeluruh. Faktornya tentu banyak salah satunya masih hidupnya mindset kolot dari pengurus takmir masjid. Akibatnya anak-anak muda menjadi enggan untuk datang ke masjid. Berbeda dengan era lampau misalnya tahun 90an, masjid mushola selalu ramai dipenuhi anak-anak remaja. Terutama di bulan Ramadhan masjid dan anak muda menjadi tempat tak terpisahkan. Mungkin salah satu faktor mengapa anak muda malas ke masjid salah satunya karena keberadaan gadget. Bagi mereka gadget lebih menggiurkan daripada beribadah ke masjid. Tapi apakah benar faktor gadget yang menjadi problem utama? f...