Langsung ke konten utama

Kapan Perdebatan Nasab Berakhir



Woko Utoro 

Perdebatan seputar nasab masih meruncing hingga kini. Seolah tak pernah reda dan entah sampai kapan berakhirnya. Perdebatan tersebut memang bukan sekadar isu tapi sudah ditahap pergesekan. Yang lucu pergesekan tersebut terjadi dari pucuk pimpinan hingga di akar rumput.

Bicara perdebatan nasab seolah kita berharap agar konflik Israel Palestina dapat berhenti. Tapi faktanya tidak semudah itu dan pertanyaan jelas apa yang sebenarnya dicari. Apa motif dari fenomena itu dan siapa bermain di belakangnya. Siapa yang untung rugi dari peristiwa ini. Tentu hingga kini kita masih sukar menjawabnya.

Sebagian orang perdebatan tersebut dinilai sebagai perebutan panggung kuasa atau soal pendapatan. Sehingga kita sebagai penonton cukup melihat saja. Karena kita tidak mampu dan memang tak berkepentingan maka menjadi penonton sepertinya lebih baik. Biarkan saja mereka bermain sendiri dan semoga segera bertaubat.

Ada yang mengatakan perdebatan nasab adalah soal pengaruh, pertarungan wacana dan misi sejarah. Sehingga jika soal pengaruh maka berkaitan dengan massa. Jika soal wacana maka ada pertaruhan literatur serta data. Termasuk soal sejarah yang berkaitan dengan orisinilitas. Dari itulah maka konflik ini nampaknya begitu kompleks dan pelik.

Lantas bagaimana kita menyelesaikan konflik tersebut. Sederhana saja yaitu mengajak mereka untuk kembali ke pesan-pesan para ulama. Termasiku kembali menghayati bahwa ada yang lebih penting dari nasab yaitu nasib. Sepertinya nasib itulah yang perlu kita perjuangkan. Hal lainnya yaitu ada yang lebih tinggi dari ilmu yaitu keikhlasan. Tanpa hal itu semua kita lucu di depan manusia lebih lagi hadapan Allah SWT.

Mungkin dalam pandangan orang lain pun kita ini aneh. Sebenarnya perdebatan nasab itu apa sih yang dicari. Mengapa mereka begitu semangat yang ternyata soal nasfu perut dan urusan dunia. Sepertinya kita jadi bertanya katanya mereka orang alim tapi faktanya demikian. Jadi siapa sebenarnya yang bodoh dan awam?

the woks institute l rumah peradaban 19/11/25

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Catatan Lomba Esai Milad Formasik ke-14 II

Woko Utoro Dalam setiap perlombaan apapun itu pasti ada komentar atau catatan khusus dari dewan juri. Tak terkecuali dalam perlombaan menulis dan catatan tersebut dalam rangka merawat kembali motivasi, memberi support dan mendorong untuk belajar serta jangan berpuas diri.  Adapun catatan dalam perlombaan esai Milad Formasik 14 ini yaitu : Secara global tulisan mayoritas peserta itu sudah bagus. Hanya saja ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Terutama soal ketentuan yang ditetapkan oleh panitia. Rerata peserta mungkin lupa atau saking exited nya sampai ada beberapa yang typo atau kurang memperhatikan tanda baca, paragraf yang gemuk, penggunaan rujukan yang kurang tepat dll. Ada yang menggunakan doble rujukan sama seperti ibid dan op. cit dll.  Ada juga yang setiap paragrafnya langsung berisi "dapat diambil kesimpulan". Kata-kata kesimpulan lebih baik dihindari kecuali menjadi bagian akhir tulisan. Selanjutnya ada juga yang antar paragraf nya kurang sinkron. Se...

Catatan Lomba Esai Milad Formasik ke-14 I

Woko Utoro Senang dan bahagia saya kembali diminta menjadi juri dalam perlombaan esai. Kebetulan lomba esai tersebut dalam rangka menyambut Milad Formasik ke-14 tahun. Waktu memang bergulir begitu cepat tapi inovasi, kreasi dan produktivitas harus juga dilestarikan. Maka lomba esai ini merupakan tradisi akademik yang perlu terus dijaga nyala apinya.  Perasaan senang saya tentu ada banyak hal yang melatarbelakangi. Setidaknya selain jumlah peserta yang makin meningkat juga tak kalah kerennya tulisan mereka begitu progresif. Saya tentu antusias untuk menilainya walaupun disergap kebingungan karena terlalu banyak tulisan yang bagus. Setidaknya hal tersebut membuat dahaga ekspektasi saya terobati. Karena dulu saat saya masih kuliah mencari esais itu tidak mudah. Dulu para esais mengikuti lomba masih terhitung jari bahkan membuat acara lomba esai saja belum bisa terlaksana. Baru di era ini kegiatan lomba esai terselenggara dengan baik.  Mungkin ke depannya lomba kepenul...