Langsung ke konten utama

Belajar Kebijaksanaan

Woko Utoro 

Jaman di kampus kami berdebat tentang filsafat dan tasawuf. Padahal ketika perdebatan reda jawabannya satu bahwa puncak dari filsafat dan tasawuf bertemu pada kebijaksanaan. Bijaksana seolah hanya teori padahal itu ilmu yang mendalam. Bijaksana kadang lebih sederhana dari yang dibayangkan tapi bernilai tinggi ketika tahu maknanya. Kita akan belajar kepada semut di jaman Nabi Sulaiman AS dan penghulu alam Nabi Muhammad SAW.

Dulu ketika Nabi Sulaiman AS dan tentaranya melewati jalan ada segerombolan semut yang juga melintas. Melihat rombongan Nabi Sulaiman AS ratu semut pun memerintahkan, "Hai para semut segera masuklah ke lubang agar kita selamat dari injakan tentara Sulaiman AS sedangkan mereka tidak menyadari". Mendengar instruksi tersebut Nabi Sulaiman AS tersenyum dan kagum betapa bijaksana pemimpin semut tersebut. Hingga akhirnya Nabi Sulaiman AS memerintahkan pasukannya berhenti sejenak karena ada semut yang akan masuk ke lubang.

Saat sepulang dari Thaif Nabi Muhammad SAW diberi kebebasan oleh Malaikat Jibril untuk memberikan azab kepada penduduk di sana. Karena penduduk Thaif sudah dzalim kepada nabi terlampau batas. Tapi Nabi Muhammad SAW justru berkata, "Maaf Jibril, aku bukan Nuh atau Musa. Aku Muhammad SAW. Jangan kau timpakan azab kepada mereka, sungguh mereka adalah umat yang belum mengetahui". Ini kebijaksanaan Nabi Muhammad SAW. Beliau tahu jika kedzaliman penduduk Thaif dilakukan karena ketidaktahuan mereka. Andai mereka tahu dan sadar akan kebenaran niscaya tidak akan berbuat aniaya.

Nabi Muhammad SAW berpikir mungkin saja mereka hari ini belum bertaubat. Tapi kita optimis esok hari anak atau cucu mereka akan bertaubat. Hal itu terbukti hingga kini penduduk di sana sudah Muslim semua. Ajaran itulah yang juga dibawa oleh Wali Sanga dalam menyebarkan agama Islam. Sungguh bijaksana adalah puncak sikap memuliakan sesama.[]

the woks institute l rumah peradaban 26/10/26

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Ngaji Ngopi: Edisi Konsep Dakwah di Era Milenial

               (Ngaji Ngopi: doc penulis) Woks Ngaji Ngopi kali ini begitu istimewa sebab acara tersebut kedatangan narasumber yang keren bahkan hingga dipenuhi sesak jamaah. Narasumber tersebut tak lain merupakan founder dari masing-masing orang yang telah memiliki jamaahnya tersendiri dan sesuai bidang kajian yang diampunya. Mereka yaitu Pak Nurwakhidun founder Ngaji Gayeng, Gus Abdillah Subhikin founder Kampung Sufi dan Gus Muhammad Balyahu founder A.T.I (Anak Thariqoh Indonesia). Ngaji Ngopi edisi kali ini tentu membicarakan konsep dakwah dari masing-masing founder tersebut guna mengajak kepada semua orang terutama generasi milenial agar terus membumikan hal-hal baik di kehidupan. Tentu dari masing-masing halaqoh yang mereka nahkodai memiliki ciri khasnya tersendiri sehingga bisa menjadi pilihan anak muda untuk menggali ilmu. Maka dengan adanya mereka dan kelompok binaanya setidaknya menjadi alasan kuat untuk kita terus menc...

Hierarki Rasa Menerbitkan Buku Perspektif Psikologi

Woks Bagaimana rasanya menulis, bagaimana rasanya jika tulisan tersebut dibukukan, terbit, beredar ke muka umum hingga tiba di hati pembaca. Tentu segala rasa itu sangat subjektif tapi sedikitnya bisa dijabarkan walaupun setiap orang punya pengalaman tersendiri. Saya punya 3 pendapat bagaimana rasanya punya buku dan sampai dibaca oleh orang lain. Secara psikologis hal itu dapat kita jabarkan secara singkat. Secara hierarkis 3 tingkatan rasa tersebut bisa kita lihat dari sejak kehadiran buku pertama hingga buku ke sekian. Pertama, akan muncul rasa bangga, senang, haru, campur aduk bahkan agak sedikit pamer atau semi-semi riya. Akan tetapi di fase ini penulis masih belum hilang rasa mindernya karena kepercayaan diri belum terbangun seutuhnya. Rasa percaya diri hanya terbangun untuk menerbitkan saja sehingga godaan untuk konsisten menulis bisa dilihat di sini. Fase ini biasanya terjadi pada buku pertama, bahkan buku antologi alias buku keroyokan pun jika lahir pertama begitu nampak berha...