Langsung ke konten utama

Mengantri Ada Manajemennya

Woko Utoro 

Kemarin saya dan istri kontrol kehamilan ke dr Doni di Klinik Sartika Kandangjati Kulon Kraksaan Probolinggo. dr. Donny Rahadianto, Sp.OG., M.H.Kes sangat terkenal di sini sebagai spesialis kandungan. Tapi sayang di balik profesionalitas beliau ada kekurangan yang mengakar yaitu soal sistem registrasi dan jam tunggu.

Di klinik kandungan dr Doni sistem registrasinya masih sangat kolot alias konvensional. Orang datang jam 12 malam untuk menumpuk buku KIA. Setelah itu pagi sebelum jam 7 diabsen sebagai tanda masuk list pelayanan. Ironisnya banyak kasus buku KIA tersebut diacak oleh oknum entah petugas atau sesama pasien.

Ada kasus lain yaitu pasien ditolak karena datang lebih beberapa menit dari jam 7 pagi. Padahal pasien tersebut sudah menumpuk buku jam 12 malam. Alasan petugas hal itu dianggap hangus dan slot sudah penuh. Jadi di sini terjadi ambivalensi di mana yang menumpuk jam 12 malam terasa sia-sia.

Jika pasien datang di siang hari itu wajar tidak diterima karena memang antrian sudah penuh. Tapi yang disayangkan sistemnya masih jadul. Orang datang dari jauh tidak bisa masuk hanya karena sudah penuh. Harusnya pihak klinik melihat kondisi pasien baik secara fakta maupun maya. Fakta menyebutkan banyak pasien yang dirugikan karena masa tunggu begitu lama. Bayangkan orang datang 06:30 wib dan pelayanan dokter dibuka jam 16:00. Saya sendiri berangkat jam 6 pagi dan selesai jam 20:00 malam.

Jika misalnya dokter berhalangan harusnya diberi penjelasan sejak awal. Agar pasien bisa datang tidak sejak pagi tapi sesuai kebutuhan misalnya siang atau sore. Sungguh menyedihkan orang datang sejak pagi hanya demi mengamankan list pelayanan. Belum lagi adanya calo yang membuat antrian panjang menjadi tidak karuan.

Segala macam keluhan bisa disimak di catatan geotag maps klinik. Di sana orang yang mayoritas jauh merasa dirugikan. Lebih lagi ketika mengetahui ketidakramahan petugas. Tentu membuat pasien merasa kecewa. Mayoritas pasien yang bertahan karena relasi kebutuhan. Jika tidak karena itu mereka juga akan pulang seperti yang lainnya.

Harusnya pihak klinik berpikir bagaimana merealisasikan pendaftaran dengan Google form atau link web. Jadi pasien bisa mengisi pendaftaran cukup dari rumah. Dari aplikasi itu pula orang bisa tahu kapan mereka berangkat, jam berapa dokter datang dan siapa saja yang sudah daftar.

Harusnya segala macam keluhan tersebut menjadi catatan untuk pihak klinik. Agar ke depannya bisa lebih baik dan manusia. Belum lagi kondisi kaca depan yang tertutup mengkhawatirkan jika ada kasus pencurian kendaraan. Di sini juga pihak klinik harusnya berpikir bahwa hak keamanan pasien adalah hal utama.[]

the woks institute l rumah peradaban 3/11/26

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Hierarki Rasa Menerbitkan Buku Perspektif Psikologi

Woks Bagaimana rasanya menulis, bagaimana rasanya jika tulisan tersebut dibukukan, terbit, beredar ke muka umum hingga tiba di hati pembaca. Tentu segala rasa itu sangat subjektif tapi sedikitnya bisa dijabarkan walaupun setiap orang punya pengalaman tersendiri. Saya punya 3 pendapat bagaimana rasanya punya buku dan sampai dibaca oleh orang lain. Secara psikologis hal itu dapat kita jabarkan secara singkat. Secara hierarkis 3 tingkatan rasa tersebut bisa kita lihat dari sejak kehadiran buku pertama hingga buku ke sekian. Pertama, akan muncul rasa bangga, senang, haru, campur aduk bahkan agak sedikit pamer atau semi-semi riya. Akan tetapi di fase ini penulis masih belum hilang rasa mindernya karena kepercayaan diri belum terbangun seutuhnya. Rasa percaya diri hanya terbangun untuk menerbitkan saja sehingga godaan untuk konsisten menulis bisa dilihat di sini. Fase ini biasanya terjadi pada buku pertama, bahkan buku antologi alias buku keroyokan pun jika lahir pertama begitu nampak berha...

Ngaji Ngopi: Edisi Konsep Dakwah di Era Milenial

               (Ngaji Ngopi: doc penulis) Woks Ngaji Ngopi kali ini begitu istimewa sebab acara tersebut kedatangan narasumber yang keren bahkan hingga dipenuhi sesak jamaah. Narasumber tersebut tak lain merupakan founder dari masing-masing orang yang telah memiliki jamaahnya tersendiri dan sesuai bidang kajian yang diampunya. Mereka yaitu Pak Nurwakhidun founder Ngaji Gayeng, Gus Abdillah Subhikin founder Kampung Sufi dan Gus Muhammad Balyahu founder A.T.I (Anak Thariqoh Indonesia). Ngaji Ngopi edisi kali ini tentu membicarakan konsep dakwah dari masing-masing founder tersebut guna mengajak kepada semua orang terutama generasi milenial agar terus membumikan hal-hal baik di kehidupan. Tentu dari masing-masing halaqoh yang mereka nahkodai memiliki ciri khasnya tersendiri sehingga bisa menjadi pilihan anak muda untuk menggali ilmu. Maka dengan adanya mereka dan kelompok binaanya setidaknya menjadi alasan kuat untuk kita terus menc...