Langsung ke konten utama

Muslimat NU Kekuatan Baru Masyarakat Sipil dalam Memperjuangkan Demokrasi..


Woks

Sejak reformasi bergulir peran perempuan hanya menjadi arus kedua dalam percaturan politik negeri ini. Seolah-olah suara mereka tidak berguna atau paling sesekali dimanfaatkan untuk kontestasi politik sektoral. Anggapan bahwa peran perempuan tidak terlihat mungkin tidak selamanya benar bahkan tidak boleh dipandang sebelah mata. Saat ini kekuatan perempuan melipat ganda bisa melumatkan siapa saja. Hal itu terbukti dengan banyaknya pemimpin perempuan yang ikut bertarung dalam pemilu. Alasan kuat mengapa perempuan terjun ke gelanggang politik tak lain karena panggilan jiwa "lek koe iso tapi meneng kui elek, lek koe ra iso tapi rumongso iso kui yo elek. Seng apik kui nek tengah-tengah tur panggah disinaui".

Secara psikologis pemilih perempuan menaruh harapan besar pada pemimpin yang terpilih untuk pro rakyat dan menegakan keadilan. Tapi ironisnya kadang kala siapapun pemimpinya bisa berpotensi untuk menghianati rakyat tidak peduli apa jendernya. Saat ini kita buka kembali sejarah masa lalu saat peran perempuan diwadahi melalui gerakan Muslimat, IPPNU, Fatayat dan lain sebagainya. Termasuk kehadiran organisasi penggerak perempuan lainya yang ada di Indonesia di bawah komando KOWANI. 

Kita mengingat di tahun 1938 di mana kaum perempuan ingin mendeklarasikan berdirinya organisasi yang mewadahi kaum ibu untuk sama-sama berjuang. Setidaknya mampu mendidik dan menyampaikan aspirasi. Dulu organisasi perempuan hadir karena fokus dalam dunia pendidikan sebagaimana Dewi Sartika dan RA Kartini mempelopori hal itu. Hingga sejarah mencatat pada Muktamar NU ke-13 di Menes Banten embrio organisasi perempuan sudah santer bergulir. Puncaknya yaitu berdiri dan diakui sebagai Banom NU dengan nama Nahdlatul Ulama Muslimat (NUM) pada Muktamar ke-15 tahun 1946 di Purwokerto. Akan tetapi Muslimat bukan satu-satunya organisasi perempuan yang berdiri, sebelumnya sudah ada perguruan Thawalib di Padang Panjang dan Aisyiyah di Jogjakarta.

Saya meyakini bahwa walaupun pergerakan perempuan tidak segesit lelaki akan tetapi kontribusi mereka tidak bisa dianggap remeh. Sejak pemilu 1955 peran mereka termasuk sentral di mana selalu turut serta dalam membayangi suara-suara sumbang dari partai lain. Termasuk pada saat itu membayangi organisasi GERWANI milik PKI. Bahkan hingga saat ini Muslimat tidak hanya berdiri karena keterpaksaan melainkan sudah mampu mandiri. Mereka hadir bukan sekadar berjamiyyah belaka melainkan mampu mengatur percaturan dalam hal ini politik.

Kita juga tahu di balik 2 periodenya Jokowi apalagi untuk di periode 2 berpasangan dengan KH Maruf Amin pastinya tidak lepas dari campur tangan Muslimat. Kehadiran mereka tidak hanya soal suara tapi juga peran berupa pengkaderan, pendidikan serta kekuatan basis masa yang besar. Apakah ada di dunia ini organisasi perempuan dengan jumlah masa besar dan masih eksis selain Muslimat? Saya rasa tidak ada. Pada Harlah ke- 73 di GBK tahun 2019 Yeni Wahid sebagai ketua pelaksana mencatat ada sekitar 100 ribu lebih Muslimat yang hadir dalam acara harlah tersebut.

Yang paling menarik adalah saat pemilihan Gubernur dan wakilnya di Jawa Timur. Tentu kita tahu Khofifah Indar Parawansa yang berpasangan dengan Emiel Dardak dinyatakan sebagai pemenang. Kita tahu Khofifah masih berstatus sebagai ketua Muslimat PBNU pusat. Dikutip dari CNN Indonesia pasangan Khofifah-Emiel memperoleh 10.465.218 suara atau 53,55 persen, mengalahkan pasangan Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno dengan memperolehan 9.076.014 suara atau 46,5 persen.

Yang terbaru adalah Rini Syarifah atau Mak Rini yang berpasangan dengan Rahmad Santoso di pilkada Blitar. Mereka memenangkan pilkada dengan mengalahkan petahana, dikutip dari Antaranews pasangan Rijanto-Marhaenis Urip Widodo mendapat 255.694 suara atau 41,15% dan pasangan Rini Syarifah-Rahmad Santoso mendapat 365.365 suara atau 58,84%. Sekilas dalam kemenangan tersebut, manuver politik Mak Rini memang selalu dekat dengan petinggi ormas salah satunya Muslimat. Prediksi kecil itu salah satunya bisa menjadi jawaban atas kemenangan mereka selain memang warga kabupaten Blitar menginginkan pemimpin yang baru.

Berkaca secara singkat dari fenomena politik tersebut kini perempuan telah memainkan peranannya. Mereka bukan lagi sebagai objek statis melainkan pemain yang bisa diperhitungkan. Apalagi saat ini dalam berdemokrasi masyarakat kita sudah cerdas. Walaupun di kalangan akar rumput masih sering ditemukan suara perempuan masih bisa dibeli atau bahkan diarahkan oleh karena ada sosok yang dianggap sebagai guru pemimpin. Akan tetapi lagi-lagi perempuan bisa berdikari sendiri.

Terkhusus kepada para kaum ibu dan umumnya kepada seluruh kader perempuan mari sejenak kita mengingat pidato revolusioner pembakar jiwa dari Nyai Djuaesih dalam acara ulama perempuan berpidato di Muktamar NU ke-13 di Menes Banten "Di dalam agama Islam, bukan saja kaum laki-laki yang harus dididik mengenai pengetahuan agama dan pengetahuan lainnya. Kaum wanita juga wajib mendapatkan didikan yang selaras dengan kehendak dan tuntutan agama.” (nu.online)

Jika melihat isi pidato tersebut tentu kita akan mengira bahwa beliau adalah alumnus dari sekolah bonafit waktu itu padahal bukan. Beliau justru tidak mengenyam bangku sekolah akan tetapi semangat dan kesadaran jiwanya meronta bahwa kaum perempuan harus juga berpendidikan. Dengan cara itulah mereka dapat berdaya saing dengan orang lain. Sehingga tidak keliru jika pepatah mengatakan bahwa perempuan adalah pondasi negara. Jika perempuan kuat maka negara pun kuat dan bermartabat.

Majulah kaum ibu muslimat
Pengemban, pembawa amanat
Pendidik, pembina bunga bangsa
Menunaikan tugas mulia
Berilmu, beramal, dan berbakti
Bertaqwa pada Ilahi

Begitulah penggalan mars ibu muslimat. Mari bersama kita bangun Indonesia dan didiklah anak-anak untuk generasi masa depan dengan segenap doa, jiwa raga dan ilmu.

the woks institute l rumah peradaban 28/01/21





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...