Langsung ke konten utama

Untuk Seorang Kawan

         (Makam Kawanku Esa Prayogi A)

Woks

Kawan, tadi aku mengunjungi pusaramu. Aku datang sejenak dan akan pergi lagi. Maafkan, aku tak membawa banyak hal seperti kebanyakan orang selain setangkai fatihah buatmu. 

Kawan, aku masih ingat bahkan sangat segar diingatan saat pertama kita berjumpa. Sedangkan engkau sudah dipenuhi segala bully dan caci maki. Tapi saat itu pula aku mengenal diriku sendiri sebagai manusia yang penuh kealpaan.

Kawan, mungkin saat ini engkau telah lebih dulu bersua Allah dan Kanjeng Nabi Muhammad saw. Engkau telah melewati masa sulit hidup di dunia yang penuh kefanaan ini. Sedang diriku di sini masih berjuang mengikis kejahiliyahan.

Kawan, sudah berapa lama kita tak berjumpa. Atau sudah berapa hal baik yang telah kita lewati bersama. Sesekali aku mengenang saat pertemuan akhir kita diacara reuni kecil itu.

Kawan, aku mengenangmu sebagai pribadi baik yang meninggalkan arti kepasrahan, pantang menyerah, menyukai shalawat dan mencintai mesjid.

Kawan, doakan terus semoga aku bisa melewati segala rintangan di dunia ini. Semoga aku bisa mengikuti jejak langkah Nabi Muhammad sesuai apa yang kau katakan dulu. Bahwa kita harus bisa brayan urip karo sapa bae.

Kawan, di sana bagaimana rasa dan apa yang kau alami. Beri tahu aku tentang apa yang kau temui. Sesekalilah hadir ke mimpiku agar aku bisa mempersiapkan perbekalan hidup di sana. Aku sadar bahwa sebanyak apapun kebaikan dan amal tak akan ada artinya jika dibandingkan dengan keridhoan Gusti Allah SWT.

Kawan, waktu kita memang teramat singkat. Tapi semoga pertemuan ini bisa terus membuat kita sambung. Aku meyakini bahwa antara dunia dan barzakh tak jauh berbeda atau lebih tepatnya beda tipis.

Kawan, jika esok aku tak mengunjungimu yakinlah doa-doaku selalu menyelinap lewat dimensi manapun. Kawan, semoga kita bersua lagi, cerita lagi dan semoga pertemanan kita abadi. Al Fatihah

Harco, awal Januari 2021





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...