Langsung ke konten utama

Mi'raj Sebagaimana Rasulullah




Woks

Malam Jum'at kemarin saya bisa berziarah ke warkop ngaji ngopi. Kali ini saya ditemani member anyaran yaitu Ocit dari Jombang. Niat saya ke sana tentunya berganda selain ngaji sambil ngopi, nostalgia dan tentu silaturahmi. Alhamdulillah kendati hujan turun hampir tiap sore tapi tidak menyurutkan langkah kami untuk ke sana. Menurut kami kehadiran kali ini sebuah keberuntungan karena pasti akan mendapat banyak ilmu.

Di sana narasumber sekaligus guru kami sudah hadir. Mereka adalah Gus Abdillah Subikhin (Tawangsari) dan Ustadz Dr Rizqa Ahmadi (Dosen Tasawuf dan Hadits UIN SATU Tulungagung). Kebetulan kedua beliau sudah saya kenal sejak menjadi mahasiswa S-1. Maka dari itu pertalian tersebut perlu saya sambung lagi mungkin sekedar menyebutnya sebagai isi ulang. Termasuk juga dengan moderator kondang yaitu Mas Anwar Isbanison yang sejak di kelas merupakan rival abadi.

Kali ini entah ngaji ngopi menginjak edisi keberapa. Yang jelas konsep dengan rangkaian jajan di atas tergantung mengingatkan pada edisi Canda Candu Nabi. Dan benar saja malam tersebut suasana nampak syahdu, selain kopi hitam khasnya juga perdiskusian begitu gayeng dan asyik. Beberapa hal yang bisa saya catat dari ngaji ngopi tersebut di antaranya:

Pertama, perdebatan dan ragam pendapat mengenai isra mi'raj masih terus bergulir. Setiap tahun terus dibahas dan tak pernah berkesudahan bahkan sampai memunculkan banyak hal termasuk ilmu baru. Misalnya ada yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad bukan berjalan sendiri melainkan diperjalankan (dan ini yang mashur). Beliau juga isra mi'raj dengan ruh saja atau jasad dan ruh. Pendapat dengan ruh saja atas alasan bahwa jasad manusia akan hancur jika berjalan dengan kecepatan penuh bahkan hanya satu malam. Alasan tersebut diperkuat atas pendapat Siti Aisyah bahwa nabi pada saat itu berada di sampingnya. Tapi mayoritas ulama sepakat Nabi Muhammad isra mi'raj dengan jasadi wa ruhi atas dasar semua kehendak Allah SWT (diperjalanankan) tak terbantahkan.

Kedua, peristiwa agung isra mi'raj selalu menarik dan bisa ditinjau lewat berbagai sisi. Bahkan era kekinian bisa menempatkan peristiwa tersebut menjadi inspirasi dari segi ilmiah misalnya teknologi mutakhir, alat medis, kendaraan, hingga pemanfaatan gelombang elektromagnetik termasuk sinar x dan ukuran kecepatan cahaya.

Ketiga, penekanan dalam momentum isra mi'raj tak ada lagi selain shalat. Shalat sebagai titik pusat yang mengatur kehidupan manusia. Jika seseorang sudah berani meninggalkan shalat maka ibadah lain pun jauh pasti akan terbengkalai. Di sinilah isra mi'raj sebagai momentum miqat agar seseorang terus diingatkan agar kembali untuk memperbaiki shalatnya.

Keempat, dimensi ruhani harus lebih diunggulkan. Karena bagaimanapun juga dimensi ruhani lebih canggih dari apapun. Maka tak salah jika shalat sebagai mi'raj nya orang-orang beriman. Dimensi ruhani seperti kita ketahui mampu menembus ruang waktu. Maka dari itu teknologi secanggih apapun tidak bisa mewakili dimensi batin manusia. Termasuk segala hal yang bersifat fisik tak akan mampu menjangkau dalam hal ini peristiwa isra mi'raj kecuali keimanan. Menurut Gus Abdillah sebagimana isra mi'raj justru banyak orang modern yang mempertentangkan padahal jika berpikir ala orang Jawa akan beres. Karena orang Jawa settingan-nya bukan mempertanyakan melainkan memakai maknanya.




Kelima, dalam perspektif sufisme mi'raj tidak hanya bisa dilakukan oleh nabi melainkan umat bisa melakukannya. Shalat adalah sarana di mana seorang hamba dapat mi'raj kepada Allah setiap hari. Maka dari itu eling saja tidak cukup akan tetapi kita membutuhkan sarana yaitu shalat.

Keenam, prosesi mi'raj dengan shalat itu bisa dilihat lewat ilustrasi orang Jawa pada bangunan rumah. Misalnya dulu di depan rumah ada jalan lurus agar seorang tamu tidak berbelok menuju tujuan utama. Setelah itu ada pohon Nam alias dinam-nam atau dianyam bermakna agar tamu menata hati sebelum memasuki rumah. Ada juga pohon Mundu atau bermakna orang harus tawadhu. Dan ada pohon Tanjung bermakna tan kena sinanjung bahwa orang dalam ibadah tidak boleh tersanjung.

Ketujuh, prosesi nabi isra dari Masjidil Haram (Mekah) ke Masjidil Aqsha (Palestina) tak lain merupakan bentuk sowan. Itu artinya bahwa Al Aqsha merupakan kiblat pertama sebelum akhirnya dipindahkan ke Ka'bah Mekah. Hal inilah yang menjadi rumus bahwa peran sesepuh tidak boleh dilupakan dan harus disowani terlebih dahulu.




Kedelapan, inti dari semua perdiskusian tersebut adalah seperti yang ditambahkan Gus Fahaq bahwa seorang hamba tidak boleh mengenyampingkan peran Tuhan. Maka dari itu pesan dari segala pesan dalam isra mi'raj adalah tentang shalat. Karena mi'raj sebagaimana Rasulullah tak lain agar kita mendirikan shalat. Sudah berapa kali kita ngaji ngopi dan apakah shalat kita sudah diperbaiki?

Sebenarnya masih banyak lagi hal lain yang dapat saya tuliskan dalam catatan sederhana ini. Namun karena keterbatasan maka saya cukupkan di sini. Jika anda menginginkan hal yang lengkap dari perdiskusian tersebut bisa disimak melalui kanal YouTube Ngaji Ngopi Tulungagung.

the woks institute l rumah peradaban 18/2/23

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...