Woko Utoro
Pada Sabtu, 31 Oktober 2026 saya menjadi salah seorang yang beruntung dapat mengikuti workshop public speaking. Pasalnya acara tersebut banyak ilmu dan pengalaman menarik yang saya dapatkan. Acara tersebut awalnya bina ruhani tapi ketika saya lihat di flayer sudah bisa ditebak pastinya berkaitan dengan komunikasi publik.
Pertama, narasumber merupakan orang komunikasi plus mengaku sebagai sarjana PAI. Kedua, tema yang dibawa adalah, " Guru Profesional, Komunikasi Optimal, Pelayanan Maksimal". Ketiga, narsum juga merupakan seorang trainer di bidang marketing, public speaking dengan pendekatan psikologi.
Apapun pernak pernik itu saya sangat menikmati suasana acara tersebut. Kebetulan acara tersebut bertepatan dengan peringatan 13 tahun Namira berdiri sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam yang ada di Probolinggo. Ibu Nabila Faza sebagai salah satu dari Trimurti Namira (Nabila, Mia, faRa) menyampaikan rasa syukur atas kebersamaan yang telah dibangun. Beliau juga berpesan kepada semua Laskar Namira agar tetap semangat dalam perjuangan dakwah ilmu. Satu pesan beliau yang paling menancap bagi saya adalah, "Kepada semuanya mari kita semangat dalam perjuangan dakwah ilmu. Semoga ini semua menjadi wasilah ketika kita membutuhkannya di hari esok".
Setelah sambutan dari Ibu Nabila akhirnya acara pun dimulai. Kebetulan narsum kali ini adalah Bapak Kevin Kautsar, S. Pd., M.Ikom, CT. atau biasa disapa Bang Kevin. Beliau merupakan Founder platform Belajar Ngajar, "Hanya yang belajar yang boleh ngajar". Beliau berasal dari keturunan Betawi sedangkan istrinya Ngapak Banjarnegara Jawa Tengah.
Hal menarik dari Bang Kevin tentu cara menyampaikan materi yang unik dan komunikatif. Suasana cair dengan pembawaan beliau yang aktif dan humoris. Karena cara penyampaian yang asyik itulah acara sekitar 4 jam begitu tidak terasa. Di sana peserta tidak hanya diberi penjelasan melainkan ada contoh dan praktek langsung. Terutama berkaitan dengan komunikasi antar guru ke wali murid.
Bang Kevin menyampaikan prinsip pertama bahwa sekolah bukan bengkel, guru bukan montir dan siswa bukan mesin atau robot. Prinsip tersebut sebagai acuan agar guru dan wali murid tidak berhierarki. Artinya bahwa guru, siswa dan wali adalah relasi dokter dan pasien. Mereka saling membutuhkan sekaligus memiliki peran tersendiri.
Perlu diingat bahwa fungsi mendidik dan mengajar ada pada keduanya. Tapi Bang Kevin memberi prosentase jika guru mendidik siswa 20% selebihnya pengajaran 80%. Begitu juga orang tua 80% mendidik anak dan selebihnya pengajaran 20%. Hal tersebut dimaksudkan agar orang tua dan guru sadar mereka sedang berperan sekaligus kerjasama, bukan melimpahkan tanggung jawab ke salah satunya.
Guru tidak bisa ditekan hanya karena mereka dibayar. Guru memiliki prinsip dan wibawa sendiri. Maka dari itu Bang Kevin memberi tips agar guru tetap tegak berdiri walaupun yang mereka hadapi membawa Alphard, Pajero, Hyptec, Lexus, dll. Mau itu anaknya RT, hingga DPR dan Bupati semua sama mereka adalah siswa didik dari guru walaupun misalnya gurunya bermotor mio, carbu, mesin geter dan helm buka tutup otomatis. Poinnya bertumpu pada ilmu, pengalaman serta cara menyampaikan. Jika dalam penyampaian berbobot dan berisi maka orang tua mudah percaya.
Orang tua butuh kepercayaan. Semakin tinggi SPP maka tinggi pula ekspektasi mereka terhadap pendidikan. Itu pula yang berlaku sebagai prinsip pasar. Maka dari itu pendidikan bukan dilihat dari bangunan tapi service alias ketersediaan. Pendidikan berbasis kebutuhan yang lebih diminati orang tua. Semakin banyak kebutuhan yang dapat menunjang anak-anak berproses maka orang tua semakin percaya dan menaruh harapan. Termasuk layanan keamanan, ramah anak dan minim bullying.
Terakhir sekolah yang baik adalah mereka dengan guru pembelajaran. Seperti motto platform Bang Kevin, bahwa yang mengajar adalah mereka yang terus belajar. Karena kita tidak dilahirkan langsung dalam keadaan mahir. Maka belajar adalah pekerjaan sepanjang hayat. Jangan berhenti belajar hanya kita sudah disebut pintar. Kata Abdullah Ibnu Mubarak, sekalinya kita menyebut pintar disitulah kita bodoh.[]
Bale Hinggil Kanigaran, 31 Oktober 2026
the woks institute l rumah peradaban 4/11/26
Komentar
Posting Komentar