Langsung ke konten utama

Mahasiswa Tidak Mencatat?




Woko Utoro

Sudah berulang kali saya menemukan di mana mahasiswa jarang mencatat. Utamanya ketika presentasi makalah di ruang online catatan akan sangat sukar ditemui. Parahnya lagi fenomena itu merebak baik dalam presentasi di kelas maupun forum seminasi ilmiah. Presentasi di ruang online tak ubahnya radio butut, tak didengarkan dan dibiarkan berlalu.

Saya berhusnudzon jika catatan mahasiswa beralih dari buku ke note digital dalam gawai. Tapi apakah hal itu bisa dipercaya? tentu saya meragukannya. Beberapa kali saya tidak menjumpai jika mahasiswa mencatat apa yang seharusnya mereka butuhkan. Selama ini kita bisa mengamati bahwa catatan sudah tidak dianggap penting. Akibatnya selain tidak membaca mahasiswa juga minim mencatat dan lengkaplah sudah ketertinggalan kita soal pengetahuan.

Saya menduga dan semoga saja ini tidak benar. Mengapa mahasiswa tidak mencatat padahal hampir seluruh kegiatan dan pelaporan dalam tugas kuliah selalu berkaitan erat dengan dunia tulis menulis. Tapi faktanya mahasiswa kini lebih percaya dengan internet atau mesin pencarian google. Mereka tidak percaya diri dengan segala kemampuan berpikir serta akal yang diberikan Tuhan. Akibatnya tingkah laku pikiran berpindah dari berpikir kritis menuju berpikir statis ala internet.

Tidak terasa memang segala macam catatan dan jawaban saat presentasi diserahkan semua kepada google. Dampaknya pikiran kita menjadi tidak terasah alias tumpul untuk menjawab segala pertanyaan. Ironisnya dosen cenderung membiarkan untuk tidak menjelaskan bagaimana cara presentasi yang baik. Saat perkuliahan pertama misalnya jarang sekali dijelaskan bagaimana menjadi presenter yang baik, moderator yang tegas, audien yang aktif, cara menyanggah, mengkritik, memberi masukan atau mendebat. Di awal kita hanya disuguhi kontrak belajar yang itupun kadang dilanggar. Atau kadangkala hanya sebatas jadwal yang seringkali berubah-ubah.

Selanjutnya malas, sikap apatis serta tak memberikan rasa hormat menjadi sebab mengapa mahasiswa tidak mencatat. Dalam kata lain catatan bukan menjadi barang mewah bagi individu atau bahkan konsumsi publik. Catatan justru hanya sekadar formalitas belaka. Dengan demikian jika mahasiswa tidak mencatat apa yang dibaca, didengar atau direnungi maka kita perlahan kehilangan ruh belajar. Bukankah sangat jelas kata Sayyidina Ali Karramallahu Wajhah bahwa ilmu itu ibarat binatang liar sedangkan cara mengikatnya adalah dengan mencatat.

Jika kesadaran mencatat tidak menjadi tradisi bagi mahasiswa maka kita bersiap mencetak generasi jumud. Generasi dengan pola yang sama, ditanya hari ini dan besok akan lupa. Sehingga ilmu pengetahuan hanya akan numpang lewat dipikiran. Pengetahuan hanya sebatas parkir untuk menyebut menghabiskan waktu 4 tahun di jenjang strata satu. Hal itu pula yang membuat ilmu menjadi kabur dan tak pernah utuh. Kita hanya percaya "katanya" daripada hasil pembacaan mandiri langsung dari sumbernya.

Sekali lagi mengapa mahasiswa tidak mencatat. Apa susahnya mencatat. Padahal catatan adalah satu dari sekian bukti bahwa kita pernah belajar. Jika lebih tinggi lagi kita ingat pesan Rocky Gerung bahwa selembar ijazah pun bukan tanda bahwa seseorang berpikir. Maka mencatat itu tanda bahwa seseorang pernah menceburkan diri di ruang akademik. Mencatat adalah oleh-oleh di mana seseorang akan mudik hidup di alam masyarakat. Catatan adalah prasasti yang membantu mengikis lupa.

Terakhir saya jadi ingat sewaktu kecil di mana saat pulang sekolah bapak selalu menjadi security. Beliau selalu bertanya belajar apa tadi di sekolah, apa yang dicatat? Jadi bapak tidak tanya berapa nilai saya melainkan apa yang saya bawa pulang dalam sebuah catatan. Bagi bapak catatan adalah mendisiplinkan pengetahuan lewat buku dan guru untuk diserap oleh para siswa. Intinya mencatat itu penting. Bahkan kita akan merasa alpa jika suatu hari pemerintah tidak mencatat bahwa kita bagian dari warga negara yang baik.

Mari mencatat, hargailah setiap ilmu dan guru. Mencatat itu bukan kepentingan setiap orang tapi kepentingan sejarah.[]

the woks institute l rumah peradaban 6/10/23

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...