Langsung ke konten utama

Al Qur'an dan Sebuah Jalan Cerita


Woks

Bulan Agustus pasca panen raya usai, tepatnya sekitar 7 tahun yang lalu aku memiliki keinginan sederhana. Selain ingin memiliki hp Nokia X2, aku juga ingin memiliki sajadah dan al Qur'an sendiri. Alhamdulillah waktu beranjak dan semua keinginan sederhana itu terwujud. Sebenarnya keinginan itu bagi orang lain adalah hal yang remeh tanpa pernah meninggalkan arti, tapi berbeda bagi diriku keinginan itu adalah hal yang berarti. Harga memang mudah untuk digapai tapi di mata kebutuhan semua itu belum ada apa-apanya.

Kadang saat mengingat momen itu aku merasa ingin tertawa. Betapa tidak, al Qur'an dengan harga 30 ribu baru bisa terbeli saat aku duduk dibangku Aliyah. Apakah uang 30 ribu begitu mahalnya sehingga tidak bisa membeli al Qur'an sendiri? Jawabnya sebenarnya sederhana bahwa aku hanya ingin mendapat hal-hal yang diinginkan karena usahaku sendiri, bukan karena belas kasihan orang lain. Pada akhirnya memang ada yang aneh yaitu sajadah ku miliki dari pemberian seorang tetangga yang baru pulang dari ibadah haji. Sedangkan al Qur'an ku beli di pasar sabtuan. Kini dua benda tersebut telah melewati panjangnya usia, dengan tidak terasa sudah 7 tahun lamanya.

Sebelum sajadah itu usang aku ingin bersujud di atasnya dengan meninggalkan harum mewangi. Saat-saat di mana keadaan paling dekat bersamaNya. Ya, sujud artinya tidak hanya sekedar gerakan di mana kepala berada di posisi terbawah dari anggota tubuh yang lain. Ia juga merupakan simbol bahwa proses penghambaan manusia kepada Tuhanya harus dipasrahkan dengan serendah-rendahnya. Mahluk tak memiliki daya apapun di hadapan sang khalik. Manusia selalu berada di bawah dari al a'la (yang maha tinggi). Maka dari itu momen bersama sajadah tak akan ku sia-siakan dengan hambarnya.

Kembali lagi ke cerita al Qur'an yang kini sudah berumur 7 tahun itu. Al Qur'an yang sudah melewati batas sepi dan dibaca sepanjang hari itu dari pondok ke pondok, rumah ke rumah dan bahkan harus rela ditinggal pergi. al Qur'an itu memang pernah usang beberapa waktu karena si pemilikanya pernah meninggalkanya untuk beberapa saat. Akan tetapi saat ia kembali barulah sadar bahwa al Qur'an adalah mujizat warisan dari Kanjeng Nabi Muhammad yang masih bisa dipelajari hingga hari ini. Sebuah kado pusaka yang harus kita pegang erat hingga akhir masa.

Apakah kita tega membiarkan al Qur'an usang tanpa pernah dijamah. Orang yang senang dengan al Qur'an atau hanya sekedar mendengarkan pun ikut berpahala, lalu apalagi alasan tidak mau membaca al Qur'an. Padahal al Qur'an adalah kitab yang akan memberi syafaat kepada si pembacanya kelak di akhirat. Jika tak mampu membaca segeralah bergegas belajar mumpung masih ada waktu. Al Qur'an adalah kitab komplit yang di dalamnya berisi ajaran moral kehidupan, akan tetapi untuk mempelajarinya perlu sunnah Nabi Muhammad sebagai alat kupasnya, tanpa sunnah beliau al Qur'an hanya kitab biasa.

Jalan di kehidupan ini masih teramat panjang, maka dari itu al Qur'an sebagai bekal menuju perjalanan abadi harus terus dijadikan rujukan utama. Kini saatnya kita terus belajar menyelami firman Allah itu dengan sebaik-baiknya. Sederhananya dipelajari, difahami di amalkan. Bukan diamalkan dulu baru dipahami, jika alasan ini diprektekan anda akan tau akibatnya banyak orang salah tafsir alias ngawur. Contoh nyatanya yaitu alih-alih berbuat sesuatu karena Allah melalui Qur'an beberapa orang justru berbuat sesuatu hanya karena nafsunya. Ini menjadi pengingat kita semua bahwa belajar al Qur'an itu harus diilmui alias ada gurunya. Maka dari itu cuma karena gerakan di medsos seseorang dengan mudah melabeli orang lain salah. Jika demikian faktanya maka al Qur'an mu hanya bacaan kering tak syarat makna. Seharusnya al Qur'an itu jadi pedoman dan tuntunan tidak yang lain-lain apalagi diredusir dan dipolitisir. Sungguh terlalu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Tuan Krabb, Uang dan Ajaran Zuhud

             ( Sumber gambar canva.com) Woks Jika anda penikmat serial kartun Spongebob Squarepants tentu tak asing dengan tokoh Eugene H. Krabs atau biasa disapa tuan Krab. Ia adalah tokoh kartun dengan jenis kepiting. Ia merupakan majikan dari Spongebob dan Squidward, pemilik restoran cepat saji paling terkenal selautan yaitu Krusty Krabs. Restoran yang menyajikan Krabby Patty alias Burger itu selalu berseteru dengan saingan utamanya yaitu Seldon Plankton. Tapi bukan itu yang dibahas, melainkan perilaku dari sang pemilik restoran yaitu tuan Krabs. Tuan Krab seperti judul tulisan ini ialah sosok yang digambarkan sebagai pecinta uang. Bahkan kecintaan kepada uang melebihi sayangnya pada anak semata wayangnya yaitu Pearl. Stephen Hillenburg sebagai pencipta tokoh kartun tersebut begitu ciamik dalam menyajikan karakter pada tokoh tuan Krab tersebut. Ia bahkan berhasil menciptakan penonton yang membuat gemas saat tuan Krab kikir terhadap karya...

Pesan Untuk Temanten

Woko Utoro  Beberapa waktu lalu saya diminta oleh Widayanti untuk hadir dipernikahannya. Saya bilang tidak bisa, selain karena kesibukan tentu sebagai artis jadwal bookingnya mahal (kami pun tertawa). Widayanti adalah adik kelas kami sejak di MTs, Aliyah hingga kuliah. Kebetulan kami satu almamater yaitu Nurul Hikmah Squad baik di Gantar maupun Haurgeulis. Singkat kisah Widay sapaan akrabnya mengabari saya jika ia pamit untuk menikah. Saya bilang oke ndak papa, semoga lancar dan berkah. Lantas ia pun langsung meminta agar saya memberi nasihat. Tanpa berlama-lama saya pun menuliskan spesial buatnya. Dan memang hanya itu yang saya mampu. Pesan ini tentu tidak hanya untuk Widay tapi semua orang dan saya secara pribadi. Pertama,  berkaitan dengan nikah sudah jelas yaitu bertujuan untuk mengikuti sunnah Nabi-Nya. Melahirkan generasi terbaik dan tujuan menggapai ridha Allah SWT. Tidak ada pesan lain kecuali segala sesuatu bersandar kepada Allah SWT. Kedua , saya dapat pe...