Langsung ke konten utama

Mengenang Mang Riswad

 

Woks

Nama panjangnya Riswad bin Witra, kami biasa memanggilnya Mang Riswad. Lazimnya orang Jawa Dermayu (Indramayu) Mang adalah kependekan dari Mamang atau dalam bahasa Indonesia ialah paman. Mang adalah sebutan keumuman bagi orang dewasa di sini selain Kang (kakang) untuk laki-laki dan Yu (Yayuk) untuk perempuan. Akan tetapi panggilan Mang baik orang Sunda atau Jawa semua bertemu pada pedagang dengan gender laki-laki. Tapi saya tidak membahas tentang kata ganti orang tersebut. Saya akan membahas tentang Mang Riswad dan kisah hidupnya.

Di akhir ramadhan seperti ini bayangan tentang Mang Riswad begitu jelas di dalam pikiran kami. Betapa tidak beliau adalah orang sederhana yang mengabdikan hidup dalam kesederhanaan pula. Dalam laku keseharianya beliau tenang, tegas dan tidak banyak omong. Termasuk juga kesan yang humoris, humanis dan responsif dengan siapapun termasuk kepada anak kecil selalu melekat padanya. Saya dan bapak mungkin salah seorang yang mengenang akan kebaikan beliau.

Terakhir saya melihat beliau mungkin sekitar 5-6 tahun yang lalu, saya agak lupa kapan waktu terakhir berjumpa beliau. Yang jelas pertemuan itu sangat membekas di hati saya dan bapak. Pada saat itu di akhir bulan Sya'ban Mang Riswad dikabarkan tak sadarkan diri di sawahnya. Badan yang kurus dengan perawakan yang tinggi membuatnya harus kerja keras di sawah seharian. Beratapkan langit, beralas tanah serta diterangi sinar mentari. Kadang diguyur hujan kadang diterpa panas mentari semua tak ada halangan untuk bekerja. Melakoni hidup sebagai petani. Menggarap lahan untuk ditanami padi, semua demi anak istri. Singkat cerita karena tenaga yang diporsir ekstra dalam menggarap tanah beliau jatuh pingsan. Cangkul dan capingnya menjadi saksi kegigihan beliau dalam bekerja keras. Sampai di rumah keadaanya lemas dan suhu tubuh terasa panas demam disertai batuk. Hingga akhirnya masuk awal ramadhan beliau di bawa ke rumah sakit terdekat.

Ramadhan berjalan dengan begitu cepatnya. Suasana puasa bergulir apa adanya, tapi hampir separuh perjalanan kami tidak melihat Mang Riswad di barisan belakang pojok pada jamaah terawih. Saya lupa bahwa beliau memang tengah di rawat di rumah sakit. Sebelum itu saya mendengar kabar dari tetangga sebelah rumah bahwa keadaan beliau memburuk dan mengharuskan operasi pada bagian dalam perut. Hal ini yang menjadi keganjilan bagi beberapa orang, sebab baru juga masuk rumah sakit langsung dihadapkan dengan penanganan serius. Emang seserius apa penyakitnya?, kata sebagian warga.

Sekitar sepuluh hari menjelang penghabisan ramadhan, bapak saya menjenguk beliau dan alhamdulillah keadaanya membaik. Bahkan beliau masih menampakan wajah ceria seperti tak pernah merasakan sakit. Atau bahkan beliau tidak merasa bahwa telah berhari-hari di rumah sakit. Dalam cengkrama penuh canda itu beliau kadang berkata pada bapak saya bahwa "aja lara kaya kita, wong lara mah ora enak, angger bae metu duit. Wong mah pada ibadah, kita mah malah ning kene. Gagian waras ah ya, bokat beh ai waras mah gagian melu puasa maning kaya batur kah" (jangan sakit seperti saya, orang sakit itu tidak enak, tetap saja mengeluarkan uang. Orang lain pada ibadah, saya malah di sini (RS). Cepatlah sembuh ya, semoga jika sembuh maka saya segera ikut puasa lagi seperti orang lain). Begitulah kiranya pesan beliau yang berkeinginan saat sembuh nanti segera melakukan aktivitas kerja dan ibadah lagi.

Sekitar dua hari setelah bapak menjenguk beliau, kami mendapat kabar dari salah satu saudaranya bahwa beliau akan melalui operasi yang kedua. Entah apa masalahnya? apa pula penyakitnya yang mengharuskan operasi untuk ke sekian kalinya. Padahal saat diagnosa awal beliau hanya mengalami kelelahan (drop) dan sedikit bermasalah di bagian lambung. Saya sendiri tidak bisa menerka, tentu tim medis lebih paham soal ini. Seperti mayoritas orang desa saat ada sanak keluarganya yang sakit mereka akan pasrah kepada yang kuasa dan tim medis. Yang jelas bagaimana caranya, "sing penting mah waras, embuh biayane olih dadak ngeclok atau apa" (yang penting bisa sehat lagi, entah biayanya dari mana, hutang atau apa). Kesehatan memang mahal harganya. Maka tak aneh jika sanak keluarga jatuh sakit, orang desa rela melakukan apa saja. Yang terpenting orang tersebut bisa sembuh.

Beberapa warga sekitar seperti biasanya tradisi rasan-rasan deras mengalir. Katanya aneh juga, apa beliau terkena malpraktek karena dilakukan operasi yang kedua itu. Atau entahlah, memang beberapa kasus terjadi di sana. Bahwa rumah sakit tersebut terkenal dengan kinerja buruknya. Tapi saya tidak tahu menau soal itu, saya juga hanya bisa diam seribu bahasa. Intinya jangan berkomentar jika kita bukan ahlinya. Setelah itu dua hari menjelang lebaran beberapa jamaah selain sebelumnya menjenguk beliau bergiliran, mereka pun mengadakan kirim doa bersama di tajug (mushola) untuk kesembuhan beliau. Solidaritas doa itu mereka tujukan sebagai penguat dhohir batin salah satu anggota masyarakat yang sedang menempuh ujian sakit. Semoga saja doa tersebut dikabulkan oleh Allah.

Petasan atau mercon sudah terdengar di mana-mana. Gema takbir menyambut hari raya idul fitri pun berdengung dari setiap masjid tak terkecuali di tajug kami. Anak-anak dengan gembira memukul bedug dan melantangkan takbir di mana. Malam itu menjelang isya beliau dikabarkan meninggal dunia. Waktu yang begitu singkat untuk kami mendengar kabar duka itu. Padahal suasana lebaran dengan takbirnya lantang mengalir. Singkatnya, suara sirine ambulan menerobos mengalahkan setiap suara takbir dari corong mushola itu. Satu persatu warga mulai berdatangan mendekat ke rumah beliau. Suasana malam itu berubah menjadi tangis air mata.

Seketika gema takbir dan pukulan bedug anak-anak berhenti seketika. Keadaan dusun kami pun berubah menjadi senyap, sunyi sepi. Yang ada adalah linangan air mata menyambut kepergian salah satu jamaah terawih di tajug kami. Mang Riswad laka, kata simbah yang melayat ke rumah beliau. Pengumuman berita duka pun mewarnai corong-corong mushola dan malam itu hari raya tanpa takbir. Semua orang terdiam, semua orang membisu. Perayaan dari bahagia berubah jadi duka.

Tepat satu syawal hari di mana kesucian tercecer, pintu maaf terbuka. Seketika semua berubah jadi lautan tangis. Tak ada pesta ketupat atau kembang api. Semua orang di dusun kami berbondong-bondong ke rumah Mang Riswad untuk mengantarkannya ke tempat peristirahatan terakhir. Gema takbir berubah istirjah. Mungkin inilah waktu idul fitri yang akan kami kenang sebagai momen paling menyayat sepanjang sejarah. Kami mengenang Mang Riswad sebagai tetangga yang baik. Andai waktu dapat diputar kembali mungkin saya dan kami semua masih sempat untuk bertatap muka, bersalaman, memohonkan maaf pada sesama dan tentunya bersuka cita. Lebaran di waktu itu akan jadi pelajaran buat saya untuk terus menjaga kesehatan dan berdoa panjang umur agar diberikan kesempatan-kesempatan bersua ramadhan. Mang Riswad telah mengajarkan banyak hal bahwa kehidupan yang singkat ini harus digunakan sebaik mungkin untuk kerja-kerja ibadah. Sebab ada ibadah yang hanya menjadi amalan dunia dan sebaliknya ada kerja yang berlabel dunia akhirat.

Mang Riswad pun berpulang. Beliau meninggalkan dua anak laki-laki dan satu orang istri. Tepat beberapa hari ini saya mengenang kepulangan beliau menghadap keabadian sebagai seorang hamba lemah nan sederhana, humanis humoris dan apa adanya. Selamat jalan Mang, kita nyaksiaken bahwa Mamang wong kang sae. Al fatihah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...