Langsung ke konten utama

Satpam, Pengetahuan dan Bahasa


Woks

Saya dapat cerita menarik siang ini yaitu saat berada di Bank tempat di mana saya akan transaksi dan menabung. Siang itu keadaan Bank tidak seperti biasanya, kali ini ramai dan padat. Maklum pasca lebaran Bank buka langsung diserbu nasabah. Padahal masih dalam keadaan melawan Covid-19 akan tetapi masyarakat tidak menghiraukan itu, mereka masih enjoy dengan keadaan seperti biasanya tanpa jarak. Cuma bedanya mereka mencuci tangan dan bermasker. Bank begitu ramai karena bertepatan dengan banyaknya masyarakat yang mengambil pencairan dana BLT, PKH, KIP dan Prakerja. Keadaan yang ramai itu saya pun menyaksikan beberapa hal menarik yang perlu saya abadikan dalam sebuah catatan kecil.

Hal yang menarik saya temui di bagian depan Bank, tepatnya pada seorang satpam dan mesin antrianya. Saya mencoba mengilustrasikan betapa cekatanya seorang satpam tersebut. Menurut penuturan pak satpam tugas sebagai seorang pengaman itu tidak mudah. Ia harus memiliki keahlian tambahan lainya seperti komunikasi, memahami, mengetahui dan membantu pastinya. Bahkan ia dituntut untuk peka dengan keadaan. Tidak jarang juga seorang satpam seperti dirinya harus siap menjadi posisi yang lain di saat tempat tersebut kosong. Kadang ia harus menjadi satpam, OB, tukang parkir, sampai customer service (CS) dadakan di depan pintu.

Semua posisi itu dapat terjadi karena kondisi genting saja. Sehingga kesannya tidak ingin menguasai semua posisi itu. Ia hanya coba membantu meringankan beban orang lain. Saat saya berada di Bank tersebut tentu pak satpam memperlihatkan kemampuanya mengolah data dan informasi seputar Bank dan keluhan customer. Saya melihat ia seorang yang sudah senior dalam pengetahuan atau memang cerdas dalam sosial. Sehingga saat pengetahun dan sosial dikomparasikan maka akan melahirkan satu kondisi di mana nasabah merasa nyaman.

Saya melihat pak satpam itu dengan cekatan memberikan penjelasan kepada nasabah terkait tujuan dan keluhanya sebelum datang ke CS atau teller. Di tangan pengetahuan satpam semua keluhan sudah terjawab. Sehingga dari upaya gesit itu antrian langsung teratasi. Satu sisi yang lain ia sangat peka dengan apa yang dibutuhkan nasabah. Termasuk juga cara memperlakukan orang disesuaikan dengan usianya. Ia nampak begitu ramah kepada siapa saja dan tegas kepada mereka yang lebih muda. Terutama kepada nasabah orang sepuh ia begitu cekatan dalam memberikan informasi tentu sesuai dengan bahasa yang mereka pahami.

Selain pengetahun dan sosial yang tak kalah pentingnya adalah bahasa. Bayangkan saja bagi mbah-mbah mereka tidak memahami bahasa nasional dan teknologi. Yang mereka pahami adalah bahasa Jawa atau bahasa daerah. Sehingga seorang satpam di bagian harus juga memiliki kemampuan dalam bidang bahasa ini. Mereka dituntut untuk memahami karakteristik yang beragam dari para nasabah. Jika kemampuan bahasa dapat dikuasai nisyaca seorang satpam tidak mudah dibodohi. Satu lagi pastinya seorang satpam telah ditempa sejak awal dengan berbagai pelatihan seperti pengetahuan, pelayanan, skill dan trik berhadapan dengan orang, komunikasi, bahasa dan keintelejenan. Latihan terakhir inilah yang juga sebagai pegangan utama agar seorang satpam bisa mengetahui segama macam tindak kriminal.

Sejak awal saya memahami bahwa seorang satpam itu hanya tinggi besar dan kerjanya hanya menjaga serta membukakan pintu nasabah. Tapi saat bertemu satpam di Bank tersebut ternyata saya baru sadar bahwa pekerjaan ini tidak mudah dan belum tentu setiap orang mampu melakukannya. Sehingga saya menyimpulkan bahwa untuk menjadi seorang satpam setidaknya minimal memiliki tiga aspek seperti fisik yang tegak, pengetahun luas dan komunikasi/bahasa yang luwes. Ketiga aspek tersebut tentu berkorelasi dengan sikap dan tindakannya sebagai seorang individu. Karena manusia adalah mahluk berbudaya jadi segalak apapun satpam ia hanya dalam profesionalitas kerja. Jika di rumah mungkin tak jauh berbeda. Ia takut istri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...