Langsung ke konten utama

Rezeki Yang Tak Terduga-duga




Woko Utoro

Ketika mendapat rezeki yang tak terduga ingatan langsung tertuju pada term dalam al Qur'an Min Haitsu La Yahtasib [At Thalaq 2-3]. Term tersebut sangat populer bahkan orang awam pun meyakini tanpa harus bersusah payah mengartikannya. Rezeki tak disangka-sangka atau tak terduga memang sudah masuk ranah keyakinan. Orang mudah menemukan peristiwa rezeki tak terduga tersebut daripada sekadar teori. Misalnya seperti yang saya alami pagi ini. Ingat bahwa rezeki tidak harus berupa uang.

Pertama, ketika motor saya rusak seorang teman dengan baik hati rela meminjamkan motornya untuk dipakai. Saya kadang membatin untung saja masih ada teman yang dengan ringannya meminjamkan motornya kepada saya. Bisa saja motor tersebut akan dipakai atau bisa jadi tidak boleh dipinjamkan. Ini barangkali disebut rezeki kepercayaan.

Kedua, ketika di Ngantru saya menemui 2 orang untuk mengantarkan sesuatu. Kebetulan di sana pas ada acara wisuda SMP yang jelas suasana begitu padat. Tanpa saya sadari, tanpa saya duga dan tanpa bersusah payah. Di tengah hiruk-pikuk orang antri masuk orang yang dimaksud ternyata ada di samping saya. Tanpa berlama-lama akhirnya barang tersebut tersampaikan dengan baik. Ini barangkali disebut rezeki kebetulan.

Jika ditanya mengapa kebetulan disebut rezeki? Jelas karena kebetulan adalah sebuah momentum langka. Sebuah waktu yang singkat, tipis dan tidak bisa diulang. Tapi manfaatnya luar biasa. Contoh sederhana anda pernah bertemu teman lama yang kebetulan ternyata sebenarnya sering bertemu. Tapi begitulah skenario Allah jauh lebih indah mempertemukan seseorang di tengah ketidaktahuan.

Ketiga, sepulang perjalanan saya dari Ngantru. Saya berhenti di pet shop untuk membeli susu kucing. Alhamdulillah susu tersebut sisa 2 bungkus. Jika saja susu tersebut habis bisa dibayangkan saya akan memutar balik untuk mencari pet shop yang stok susu kucingnya masih banyak. Ini barangkali disebut rezeki jarak.

Keempat, setelah dari pet shop motor saya melaju ke arah selatan. Padahal sebelumnya saya melihat ada pedagang gethuk lindri sedang singgah di trotoar utara jalan. Akhirnya saya balas kiri berbalik arah menuju ke pedagang gethuk lindri tersebut. Spontan saja saya membeli 5K (dalam prediksi paling mendapat 5 buah gethuk lindri) karena memang ukurannya lumayan besar. Awalnya saya tidak berniat membeli cuma entah sepertinya Allah menggerakkan saya menjadi konsumen si penjual gethuk. 

Ketika memberikan gethuknya sang bapak berjalan ke arah saya seraya menundukan kepala, "Matursuwun, njjih". Halus sekali bahasanya dan itulah yang membuat saya senang. Ternyata ketika dibuka di rumah jumlah gethuk nya 2 kali lipat. Saya kaget, "Ya Allah, sudah bapaknya ramah beliau juga melebihkan gethuknya". Saya pun bergumam seraya mendoakan kesehatan dan keberkahan beliau. Ini barangkali disebut rezeki husnudzan.

Kelima, kebetulan saya belum sarapan. Saya pun mencari warung nasi jika pun ada di pinggir jalan maka rezeki pedagang tersebut. Motor pun melaju dari utara Tunggulsari dan tepat berhenti di timur jalan pedagang nasi kuning. Tanpa lama saya pun membeli. Saya berpikir pasti harganya kisaran 7-10. Jika 7 ribu adalah nasi tanpa toping sedangkan 10 ribu lengkap dengan telur dadar suwir dan ayam. Singkatnya ketika saya tanya, "pinten bu?". Saya pun menyodorkan uang 10 ribu. "Wes mas, 5 ewu ae," tegas beliau. "Lha yo umum e prayo enten regi ne to bu?"

Kata saya, pedagang ya ingin untung. Ayolah Bu jual dengan harga asli tidak mengapa, tandas saya. Si Ibu malah bilang dengan penuh senyum, "Wes Mas, 5 ewu ae. Saman kan santri". Padahal di sesi ini saya tidak menjelaskan pada beliau apakah saya santri beneran atau gadungan. Cuma karena saya pakai sarung dan kopiah sang Ibu dengan mudah melabeli saya santri. Saya hanya bisa ngelus dada, "Ya Allah masih terlampau banyak orang baik di bumi mu". Saya pun berlalu sambil berterimakasih, menitipkan doa, sehat lancar dan berkah buat jualan si Ibu. Inilah barangkali disebut rezeki menjadi santri, rezeki aura, style, berbusana dll.

Terakhir saya ingin mengatakan seperti apa yang didawuhkan Mbah Nun. Bahwa sekuat atau renggangnya. Sedekat atau sejauh apapun. Seputih atau sehitam warna bagaimanapun. Segelap atau terangnya kita. Semesra atau naik turunya kita kepadaNya. Sungguh Allah akan tetap memberikan hambanya rezeki yang kita tidak akan pernah menduganya. Jadi rumusnya jelas bahwa soal rezeki Allah lebih mengetahui daripada hambanya.[]

the woks institute l rumah peradaban 16/6/24

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Hierarki Rasa Menerbitkan Buku Perspektif Psikologi

Woks Bagaimana rasanya menulis, bagaimana rasanya jika tulisan tersebut dibukukan, terbit, beredar ke muka umum hingga tiba di hati pembaca. Tentu segala rasa itu sangat subjektif tapi sedikitnya bisa dijabarkan walaupun setiap orang punya pengalaman tersendiri. Saya punya 3 pendapat bagaimana rasanya punya buku dan sampai dibaca oleh orang lain. Secara psikologis hal itu dapat kita jabarkan secara singkat. Secara hierarkis 3 tingkatan rasa tersebut bisa kita lihat dari sejak kehadiran buku pertama hingga buku ke sekian. Pertama, akan muncul rasa bangga, senang, haru, campur aduk bahkan agak sedikit pamer atau semi-semi riya. Akan tetapi di fase ini penulis masih belum hilang rasa mindernya karena kepercayaan diri belum terbangun seutuhnya. Rasa percaya diri hanya terbangun untuk menerbitkan saja sehingga godaan untuk konsisten menulis bisa dilihat di sini. Fase ini biasanya terjadi pada buku pertama, bahkan buku antologi alias buku keroyokan pun jika lahir pertama begitu nampak berha...

Tuan Krabb, Uang dan Ajaran Zuhud

             ( Sumber gambar canva.com) Woks Jika anda penikmat serial kartun Spongebob Squarepants tentu tak asing dengan tokoh Eugene H. Krabs atau biasa disapa tuan Krab. Ia adalah tokoh kartun dengan jenis kepiting. Ia merupakan majikan dari Spongebob dan Squidward, pemilik restoran cepat saji paling terkenal selautan yaitu Krusty Krabs. Restoran yang menyajikan Krabby Patty alias Burger itu selalu berseteru dengan saingan utamanya yaitu Seldon Plankton. Tapi bukan itu yang dibahas, melainkan perilaku dari sang pemilik restoran yaitu tuan Krabs. Tuan Krab seperti judul tulisan ini ialah sosok yang digambarkan sebagai pecinta uang. Bahkan kecintaan kepada uang melebihi sayangnya pada anak semata wayangnya yaitu Pearl. Stephen Hillenburg sebagai pencipta tokoh kartun tersebut begitu ciamik dalam menyajikan karakter pada tokoh tuan Krab tersebut. Ia bahkan berhasil menciptakan penonton yang membuat gemas saat tuan Krab kikir terhadap karya...