Langsung ke konten utama

Memoar Tentang Sakit (4)




Woko Utoro

Menuliskan tentang sakit tentu subjektif. Tapi bukannya tidak bisa melainkan sangat bisa. Setiap orang pasti pernah merasakan sakit. Walaupun pengalaman setiap orang sangat berbeda. Yang jelas bisa saja perasaan sakit itu sama. Hanya saja dalam penanganan nya yang berbeda. 

Saya ingat ketika malam hari kepala begitu pening. Badan masih panas tinggi dan batuk tak kunjung reda. Belum lagi hidung tersumbat membuat nafas tersengal. Rasanya tidak karuan. Belum lagi rasa dingin sulit terbendung padahal saya sudah memakai dobelan baju. Di sinilah kadang pikiran berputar-putar ke mana-mana. Kata orang tua di posisi inilah kadang setan menebar was-was. 

Setan datang seolah membawa kabar agar orang sakit terputus dari rahmat Allah. Termasuk putus asa dan merasa sudah tidak ada yang bisa membantu dari sakit. Dari fenomena itulah makanya orang tua memberi nasihat untuk lebih banyak nyebut alias istighfar. Kadang memang ketika sakit perasaan kematian lebih mudah datang. Terlebih di saat sakit sedang parah-parahnya. 

Di saat sakit selain melawan kondisi tubuh kita juga melawan pikiran sendiri. Misalnya kadang terpikir apakah sakit disebabkan karena kesambet mahluk halus. Sehingga sebagian masyarakat kadang malah datang ke orang pintar untuk meminta air. Di sinilah pengobatan sains dan metafisik sering menjadi pilihan. Maka kendali atas pikiran sangat penting. Sebab 78% penyakit justru berpusat pada pikiran. 

Menjaga pikiran itulah tak kalah pentingnya. Setelah itu menjaga kesehatan tubuh dengan rajin berolahraga, konsumsi makanan bergizi dan pola tidur yang teratur sangat dianjurkan. Selanjutnya kita berdoa memohon agar diri sehat wal afiah. Sehat tubuh penting dan tak kalah penting nya adalah kesehatan jiwa raga. []

The Woks Institute|rumah peradaban 21/6/24

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...