Langsung ke konten utama

Belajar Mendengar

Woko Utoro

Di manapun dan di setiap tempat yang saya singgahi. Kebetulan mic dan panggung saya jajaki. Di sana saya tidak bosan berpesan kepada teman-teman untuk belajarlah mendengar. Karena pembelajaran mendengar adalah hal pertama sebelum belajar bicara. Seorang bayi mungkin belum bisa bicara kecuali tangis tapi mereka sudah mendengar atas suara sekelilingnya. Maka teorinya jelas bicaralah hal-hal baik karena bayi merekam dengan cara mendengar.

Perihal mendengar ini penting. Sebab tidak setiap orang mampu bahkan orang dewasa sekalipun. Lebih lagi konteks lebih luas yaitu penguasa hari ini. Anda bayangkan mungkinkah orang tidak dengar ketika orang sekitarnya menjerit. Mungkinkah ksatria sakti tidak tahu dengan kondisi rakyatnya. Rasanya aneh jika telinga dan kesaksian tak mampu merespon derita. Sederhana saja barangkali yang sedang di atas tengah tuli atau tak berfungsi alat pendengaranya.

Terkadang bukan soal fungsi pendengaran tapi justru empati yang tak tergugah. Orang mestinya tahu, orang pastinya sadar tapi atas kepentingan lain maka suara-suara lantang sekalipun tak akan terdengar. Mendengar itu tanda respon etika luar biasa. Di masyarakat kita hari ini terlampau banyak yang pandai bicara tapi lupa caranya mendengar. Akibatnya orang mudah percaya diri tapi sekaligus kehilangan arah. Itu barangkali yang tengah melanda pucuk pimpinan kita. Bisa jadi ia mendengar tapi yang didengar adalah pembisik di sekitar. Sedangkan suara lirih masyarakat terabaikan. Suara lantang mahasiswa dan akademisi dianggap musuh.

Jika sudah begitu suara siapa yang akan didengar. Bukankah nasihat, saran dan kritik adalah jamu. Mungkin awalnya pahit tapi lambat laun menyehatkan. Di sinilah kita paham bahwa mengapa orang sukar mendengar salah satunya karena terjangkitnya virus gengsi. Di Al Qur'an jelas jika orang summun, bukmun, umyun harus kembali kepada kebenaran. Jika tidak maka mereka tengah di jalan kesesatan. Jika tak mau mendengar maka kita tak bisa menjamin mereka kembali ke relnya. Sebab mendengar itu hal dasar. Jika hal dasar tak bisa dilakukan maka aspek lain pun mestinya akan lepas landas. Kita berharap pemerintah segera insaf dan mau mendengar suara rakyat.

the woks institute l rumah peradaban 15/6/26

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Tuan Krabb, Uang dan Ajaran Zuhud

             ( Sumber gambar canva.com) Woks Jika anda penikmat serial kartun Spongebob Squarepants tentu tak asing dengan tokoh Eugene H. Krabs atau biasa disapa tuan Krab. Ia adalah tokoh kartun dengan jenis kepiting. Ia merupakan majikan dari Spongebob dan Squidward, pemilik restoran cepat saji paling terkenal selautan yaitu Krusty Krabs. Restoran yang menyajikan Krabby Patty alias Burger itu selalu berseteru dengan saingan utamanya yaitu Seldon Plankton. Tapi bukan itu yang dibahas, melainkan perilaku dari sang pemilik restoran yaitu tuan Krabs. Tuan Krab seperti judul tulisan ini ialah sosok yang digambarkan sebagai pecinta uang. Bahkan kecintaan kepada uang melebihi sayangnya pada anak semata wayangnya yaitu Pearl. Stephen Hillenburg sebagai pencipta tokoh kartun tersebut begitu ciamik dalam menyajikan karakter pada tokoh tuan Krab tersebut. Ia bahkan berhasil menciptakan penonton yang membuat gemas saat tuan Krab kikir terhadap karya...

Pesan Untuk Temanten

Woko Utoro  Beberapa waktu lalu saya diminta oleh Widayanti untuk hadir dipernikahannya. Saya bilang tidak bisa, selain karena kesibukan tentu sebagai artis jadwal bookingnya mahal (kami pun tertawa). Widayanti adalah adik kelas kami sejak di MTs, Aliyah hingga kuliah. Kebetulan kami satu almamater yaitu Nurul Hikmah Squad baik di Gantar maupun Haurgeulis. Singkat kisah Widay sapaan akrabnya mengabari saya jika ia pamit untuk menikah. Saya bilang oke ndak papa, semoga lancar dan berkah. Lantas ia pun langsung meminta agar saya memberi nasihat. Tanpa berlama-lama saya pun menuliskan spesial buatnya. Dan memang hanya itu yang saya mampu. Pesan ini tentu tidak hanya untuk Widay tapi semua orang dan saya secara pribadi. Pertama,  berkaitan dengan nikah sudah jelas yaitu bertujuan untuk mengikuti sunnah Nabi-Nya. Melahirkan generasi terbaik dan tujuan menggapai ridha Allah SWT. Tidak ada pesan lain kecuali segala sesuatu bersandar kepada Allah SWT. Kedua , saya dapat pe...