Woko Utoro
Sudah lelah ya menjadi WNI. Apa sudah saatnya kabur dulu. Atau bunyikan alarm sebagai tanda bahaya. Beberapa kalimat itulah yang akhir-akhir ini mencuat kembali. Bukan tanpa alasan karena memang kondisi kepemimpinan Nasional dalam keadaan paling rendah. Sejak beberapa dekade terakhir kepemimpinan Nasional kita terpuruk bahkan dikaitkan kembali dengan peristiwa 98.
Fakta membuktikan demikian kita selalu cemas dan putus asa. Mbah Nun sejak lama sudah bicara jika berkaitan dengan penguasa kita selalu pesimis tapi jika soal kedaulatan rakyat dan budaya kita optimis. Tiyo Ardianto juga afirmasi bahwa bagi kita yang tahu banyak soal problem bangsa ini pasti pesimistis. Karena bisa dibayangkan urusan kemaslahatan serta hajat hidup orang banyak dipikul oleh pejabat nir-kompentensi. Akibatnya seperti yang kita saksikan saat ini program prioritas justru paling mengecewakan. Problem akut bangsa ini adalah bagaimana menjalankan sistem. Sedangkan soal membuat program kita akui banyak kebaikannya. Tapi jika soal sistem, jangan ditanya sangat populis, rente dan korup.
Lantas jika sudah demikian apa yang bisa dilakukan? kata Tiyo Ardianto kita isi pos-pos yang kosong. Di mana pun itu pastinya kontribusi kita akan berguna. Intinya jangan sampai lengah. Kita tetap kritis dan tidak boleh tutup mata. Kawal terus bangsa ini dengan logika, cara berpikir dan adu gagasan. Bukan mengelola dengan emosi apalagi ego diri. Bangsa ini terlalu mahal jika dijual hanya demi kepentingan sesaat. Maka dari itu pemuda hari ini bisa memulai sekarang juga. Sebab kita tak bisa berpangku tangan kepada generasi tua yang tidak baik menjadi teladan.
Hari ini kita sedang mengalami krisis besar-besaran. Tidak hanya krisis energi sehingga ketergantungan impor. Kita juga krisis budaya terutama budaya malu. Lucunya pejabat kita hari mempertontonkan bahwa korupsi, pemerasan, penyalahgunaan wewenang hingga anti kritik adalah hal biasa yang perlu dilestarikan. Padahal berabad-abad lamanya kita dikenal sebagai bangsa yang ramah. Bukan bangsa yang percaya diri jika korupsi bagian dari identitas diri. Entah mau diapakan bangsa ini ke depan. Yang jelas pembusukan selalu dimulai dari kepala.[]
the woks institute l rumah peradaban 11/6/26
Komentar
Posting Komentar