Woko Utoro
Kata Nabi Muhammad SAW ada peperangan yang lebih dahsyat dari perang Badar yaitu perang melawan hawa nafsu. Perang melawan hawa nafsu dianggap perlawanan sepanjang usia. Perlawanan ini tidak hanya menuntut fisik tapi pikiran dan hati. Terpenting lagi ilmu, manajerial dan bagaimana cara mengelolanya. Nafsu dalam bahasa psikologi sering disebut emosi dan emosi tersebut tidak untuk dimusnahkan tapi dikelola.
Seorang teman bilang di fase usia 25 tahun katanya sering mengalami keterasingan. Apakah kondisi itu umum atau memang bagian dari hawa nafsu. Kata saya setiap fase dalam kehidupan selalu terselip hawa nafsu. Hanya saja tinggal bagaimana kita menyikapinya. Contoh, seorang remaja di masa transisi merasa bingung kemana ia melangkah, bagaimana menentukan pilihan. Seorang pemuda juga demikian dari mana ia berasal, apa yang hendak dicari dan kemana setelah ini. Semua hal itu bagian dari proses bagaimana kita menentukan pilihan.
Memang problem terkait mental, pikiran dan kondisi hati lebih berat daripada fisik. Jika tidak dilatih sejak dini maka kita mudah terjebak antara harapan dan putus asa. Menerima kenyataan pahit lebih sulit ketimbang memberi maaf. Tapi semua itu soal bagaimana kita berpikir mendalam. Jika kita sadar bahwa hidup bermasa depan, maka berdamai dengan masa lalu adalah kunci. Bahwa kita berharga, hidup itu mahal dan setiap masalah ada jalan keluarnya merupakan kata-kata ajaib. Semua dalam rangka agar kita tidak terlarut dengan kondisi batin yang menenggelamkan.
Pengelolaan terhadap diri sendiri adalah wajib. Jika kita ingin tampil sebagai kampiun maka menangkanlah peperangan melawan hawa nafsu. Hidup tidak harus ideal. Hidup tidak wajib sempurna. Hidup hanya perlu diakui jika ada rongga yang kosong. Hidup harus jujur bahwa kita pasti punya salah. Tapi sekali lagi pengelolaan terhadap emosi diri adalah jalan terbaik mengenal diri sendiri. Sampai ketika kita berkata saya ikhlas, saya pasrah berarti itu bagian puncak dari penerimaan. Selama kata-kata itu tidak terucap berarti kita sebenarnya tengah menenggelamkan diri sendiri ke dalam lubang yang kita gali sendiri.
Hidup harus banyak bersyukur dan tak lupa untuk sabar. Bahwa emosi itu adalah energi untuk kita dapat berkarya. Hanya saja kita harus tahu batasan kapan saatnya ngegas dan ngerem. Semua diatur oleh kita sendiri sebagai kemudi. Karena prinsipnya problem kehidupan bukan akibat faktor eksternal tapi pilihan kita sendiri.[]
the woks institute l rumah peradaban 4/6/26
Komentar
Posting Komentar