Langsung ke konten utama

Tentang Surga

Woko Utoro 

Beberapa waktu lalu saya ngobrol dengan teman-teman santri apa sih surga itu. Mengapa banyak orang menginginkan surga. Jika tidak masuk surga apa salah? Pertanyaan itu sederhana tapi memantik kami untuk berdiskusi. Tentu saya melepaskan makna surga ke mereka sesuai kemampuan berpikirnya. Intinya semua sepakat bahwa surga sebagaimana gambaran al Qur'an yaitu sebuah tempat yang penuh dengan kenikmatan. Ilustrasinya yaitu sungai dengan ragam jenis minuman, buah-buahan yang kaya, kilau emas, zamrud, bantal dan dipan yang tertata rapi serta bidadari bermata bening dll.

Makna pengertian surga tersebut benar adanya. Siapa pula yang mau menolak al Qur'an. Tapi tentu ada makna lain yang menarik perihal surga. Pertama, surga itu جنّ yang bermakna tersembunyi, rimbun, istimewa dll. Jadi ibarat kebun dengan daun yang lebat dan buah yang banyak itu juga surga. Sehingga siapa saja dibuat takjub dengan keindahannya. Kedua, surga itu sesuatu yang melekat pada diri. Misalnya jika kita berbuat buruk maka telah diciptakan neraka (api) dan jika kita berbuat baik maka telah diciptakan surga (kesejukan).

Ketiga, surga bermakna taat, ridho, kerelaan. Contoh: Allah menciptakan konsep pahala agar orang termotivasi beribadah kepada-nya. Jika seorang istri taat pada suaminya, seorang ibu meridhoi anaknya dan ayah merelakan putrinya maka itulah surga. Sebaliknya mereka yang tidak taat kepada ajaran Allah dan rasulnya maka neraka akibatnya. Surga neraka juga dimaknai sebagai sebab akibat.

Keempat, surga adalah imajinasi bangsa Arab pada saat itu. Bayangkan padang pasir dengan di Indonesia konsep surga yang mana yang paling cocok untuk motivasi agar mereka percaya adanya hari akhirat. Tentu konsep tersebut dibantah oleh Rabiah Adawiyah dengan madzhab mahabbahnya. Bahwa jika menyembah Allah hanya ingin surga maka aku bakar dengan api. Jika menyembah Allah karena takut neraka akan aku padamkan dengan air. Sungguh sembahlah Allah hanya karena kita cinta padanya. Surga neraka itu terbatas sedangkan keridhoan Allah SWT tak berbatas.[]

the woks institute l rumah peradaban 24/6/26

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Catatan Lomba Esai Milad Formasik ke-14 II

Woko Utoro Dalam setiap perlombaan apapun itu pasti ada komentar atau catatan khusus dari dewan juri. Tak terkecuali dalam perlombaan menulis dan catatan tersebut dalam rangka merawat kembali motivasi, memberi support dan mendorong untuk belajar serta jangan berpuas diri.  Adapun catatan dalam perlombaan esai Milad Formasik 14 ini yaitu : Secara global tulisan mayoritas peserta itu sudah bagus. Hanya saja ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Terutama soal ketentuan yang ditetapkan oleh panitia. Rerata peserta mungkin lupa atau saking exited nya sampai ada beberapa yang typo atau kurang memperhatikan tanda baca, paragraf yang gemuk, penggunaan rujukan yang kurang tepat dll. Ada yang menggunakan doble rujukan sama seperti ibid dan op. cit dll.  Ada juga yang setiap paragrafnya langsung berisi "dapat diambil kesimpulan". Kata-kata kesimpulan lebih baik dihindari kecuali menjadi bagian akhir tulisan. Selanjutnya ada juga yang antar paragraf nya kurang sinkron. Se...

Catatan Lomba Esai Milad Formasik ke-14 I

Woko Utoro Senang dan bahagia saya kembali diminta menjadi juri dalam perlombaan esai. Kebetulan lomba esai tersebut dalam rangka menyambut Milad Formasik ke-14 tahun. Waktu memang bergulir begitu cepat tapi inovasi, kreasi dan produktivitas harus juga dilestarikan. Maka lomba esai ini merupakan tradisi akademik yang perlu terus dijaga nyala apinya.  Perasaan senang saya tentu ada banyak hal yang melatarbelakangi. Setidaknya selain jumlah peserta yang makin meningkat juga tak kalah kerennya tulisan mereka begitu progresif. Saya tentu antusias untuk menilainya walaupun disergap kebingungan karena terlalu banyak tulisan yang bagus. Setidaknya hal tersebut membuat dahaga ekspektasi saya terobati. Karena dulu saat saya masih kuliah mencari esais itu tidak mudah. Dulu para esais mengikuti lomba masih terhitung jari bahkan membuat acara lomba esai saja belum bisa terlaksana. Baru di era ini kegiatan lomba esai terselenggara dengan baik.  Mungkin ke depannya lomba kepenul...