Woko Utoro
Dalam sesi diskusi bersama Kompas com Mbah Jiwo Tejo berkisah ada seorang anak gadis mungkin usianya masih remaja SMP. Si anak perempuan itu memasuki sebuah club malam. Entah apa yang dia lakukan di sana. Yang jelas ia pulang larut malam. Ketika hendak pulang ia menelepon ibunya untuk minta dijemput. Singkat kisah sang ibu pun menjemput anak gadisnya.
Dalam hati kecil anak gadis itu berharap jika ia akan ditanyai oleh ibunya. Hingga kendaraan melaju bahkan sampai rumah ia tidak mendapati pertanyaan apapun dari sang ibu. Aneh juga bahkan hal itu berlangsung sejak perjalanan di dalam mobil. Hingga esok harinya ternyata sang ibu masih tidak mempertanyakan apapun padanya. Bahkan sang ibu malah membuatkannya sarapan.
Kata Mbah Tejo, si anak gadis itu paham setelah ia dewasa dan menjadi ibu. Bahwa selama yang dihubungi ibu maka itu adalah kehormatan. Si anak gadis yang kini menjadi ibu itu paham bahwa ibu nya dulu tengah memberinya pelajaran berharga. Bahwa sejauh atau apapun yang ia lakukan, selama ibu yang dihubungi bukan orang lain maka hal itu sebuah penghormatan tertinggi. Ibarat layang-layang, kamu boleh terbang kemanapun bangkan lebih tinggi lagi tapi ingat bahwa ibu adalah tempat kembali.
Sejauh apapun kita melangkah selama masih berkabar itu tandanya kamu berharga. Dan kita tahu manusia yang paling tulus cintanya adalah ibu. Orang yang paling resah ketika tidak ada kabar ya ibu. Orang yang paling khawatir ketika kita di perjalanan ya ibu. Ibu adalah perasaan itu sendiri. Ia tidak bisa membohongi semesta. Bahwa bagaimana pun keadaannya anak hari ini ia adalah sanubari ibu. Maka dari itu kabari ibu dalam keadaan apapun, walaupun sekadar ibu aku baik-baik saja. Jangan sampai membuat ibu was-was. Karena jika anaknya terjadi sesuatu ibu lah yang paling remuk hatinya pertama kali.[]
the woks institute l rumah peradaban 17/6/26
Komentar
Posting Komentar