Langsung ke konten utama

Postingan

Santri Tulungagung Culture Carnival 2023

Woko Utoro Tulungagung -(29/10/23) Kami mengikuti pawai ta'aruf dalam rangka Hari Santri Nasional (HSN) 2023. Saya secara pribadi sangat terkesan bisa berpartisipasi di acara itu. Saya mengikuti barisan MWC NU Sumbergempol. Kebetulan saya masuk dalam barisan wali songo. Sehingga mau tidak mau saya harus cosplay ala wali songo khususnya Sunan Bonang. Kami berangkat pagi langsung menuju Kantor MWC NU Sumbergempol. Ketika di sana saya dan Pak Calvin langsung mencari sarapan. Ternyata sarapan kali ini kami menemukan Soto Lamongan. Sebenarnya yang kami pesan adalah soto ternyata si penjual malah membuatkan pecel lele plus ayam goreng. Habislah uang kami yang awalnya transport pawai karena harga ayam goreng begitu melangit. Singkat kisah kami pun berangkat dengan diantar mobil pribadi milik pengurus NU. Sampai di lokasi kami langsung merapikan barisan dan seragam. Kami memakai selempang yang sudah disediakan dengan tulisan nama-nama wali. Walaupun busana walinya kurang begitu pas akan te...

Tadarus Buku Sebagai Metode Cinta Ilmu

Woko Utoro Kegiatan membaca dan menulis adalah dua aspek yang saling berkaitan. Kegiatan tersebut saling menopang dan harus dilakukan secara bergantian. Orang yang suka membaca harus juga belajar menulis tentang isi bacaan. Orang yang menulis juga tidak mungkin tanpa membaca karena semua berkaitan dengan kualitas isi. Salah satu penopang kegiatan menulis tentu dengan mengikuti kiat membaca tiap hari, kami menyebut dengan tadarus buku. Tadarus buku tentu mengadopsi istilah membaca Al Qur'an di bulan Ramadhan. Tradisi membaca tersebut tentu dilakukan secara rutin hingga khatam. Target utama membaca tentu khatam dan paham. Jika sekadar khatam tentu bacaan kurang bernilai. Sehingga salah satu cara khatam dan paham adalah dengan mengikat makna (istilah Pak Hernowo) atau menuliskan intisarinya. Intisari buku yang ditulis pasca membaca bisa dikenal dengan resensi, review, rehal, teraju atau kupas buku. Tadarus buku bisa dilakukan kapanpun dan di manapun. Bahkan di Jepang terdapat tradisi ...

Keutamaan Menjadi Muallim

Woko Utoro Sejak kecil saya tidak berangan-angan menjadi seorang pendidik atau di dunia formal dikenal dengan guru. Saya hanya terbersit di pikiran mungkin suatu saat akan menularkan ilmu seperti guru-guru yang telah mendidik saya sejak di sekolah dasar. Sedikit banyak saya memang terinspirasi dari salah satu guru SD sebut saja namanya Bapak Yayat Syarif Hidayat. Beliau orang Sunda asli. Kepribadiannya tegas bahkan lebih disebut galak. Beliau juga guru dari orang tua saya. Saking galaknya hingga wafatnya beliau berpredikat guru legendaris. Tapi yang saya suka dari beliau adalah pengetahuannya tentang apapun begitu luas. Sehingga saya harus mengikuti jejak beliau dalam hal intelektualitas. Pak Yayat memang galak tapi favorit. Singkat kisah hari ini atau mungkin hingga esok saya berkhidmat sebagai pendidik alias guru. Tentu peran orang tua dalam hal ini bapak juga bagian tak terpisahkan. Saya ingat betul ketika bapak datang awal-awal di kampung kami. Beliau langsung mengajari anak-anak k...

Hari Santri Yang Menyenangkan

Woko Utoro Di momen hari santri tahun ini ada yang berbeda. Jika tahun lalu saya mengikuti pawai HSN bersama teman santri di Tapan. Namun kali ini saya justru mengikuti upacara hari santri di Pesantren Subulussalam. Suasana berbeda itu justru membuat saya gugup. Pasalnya saya bertindak sebagai tamu alias dewan asatidz. Rasanya campur aduk. Saya kadang berpikir apakah diri ini layak disebut guru? Singkat kisah saya dan Mas Thoriq mengikuti upacara HSN bersama pengasuh yaitu Bunda Salamah dan Abah Zainal. Kami bersama asatidz lainnya mengikuti rangkaian upacara awal hingga akhir. Tentu yang membuat kami khusyu adalah ketika lagu Indonesia Raya bergema merdu. Rasanya seperti ruh para pahlawan hadir sebagai pejuang kusuma bangsa. Kami hanya bisa mendoakan khususnya buat para pejuang kaum santri yang telah wafat semoga Allah menempatkan mereka di sisi yang mulia. Singkat kisah setelah upacara usai kami langsung memasuki sesi foto. Sesi foto inilah yang sebenarnya saya hindari. Saya tidak ra...

Mengantar Lamaran

Woko Utoro Malam itu barangkali salah satu momen bersejarah dalam hidup. Kendati hal itu bukan berkaitan dengan saya yang jelas malam itu pengalaman mengesankan. Saya menghantar teman ke daerah Mangunan Udanawu Blitar untuk lamaran. Kami berangkat magrib dan sampai di tempat tujuan sekitar jam 20:00. Walaupun terdapat kendala macet karena ada pengajian Gus Iqdam alhamdulillah acara kami berjalan lncar. Singkat kisah sesampainya di sana kami langsung di sambut pihak keluarga perempuan. Ternyata kami termasuk terlambat dan memang sudah ditunggu sejak sore. Benar saja ketika sampai, salaman lalu bincang sekedarnya. Lalu acarapun di mulai. Saya sangat kaget karena ditodong untuk menjadi pembawa acara. Akhirnya mau tidak mau saya pun memberanikan dini. Saya tampil dengan bahasa Indonesia campur Jawa krama. Walaupun sempat salah menyebutkan seharusnya keluarga Pak Ali, bukan Pak Anwar. Akan tetapi acara berjalan dengan baik. Setelah pembukaan, Pak Dede selaku perwakilan pihak laki-laki membe...

Review Buku Teraju (Strategi Membaca Buku dan Mengikat Makna)

Woko Utoro Salah satu inspirasi menulis adalah dengan membaca buku lalu mencatat intisarinya. Dengan membuat ulasan buku seseorang mendayung dua pulau sekaligus yaitu menikmati bacaan dan menuliskan pengetahuan. Ulasan buku tersebut sering juga disebut resensi, review atau di buku ini diistilahkan teraju. Sebelumnya saya pernah membaca rehal di rubrik milik Basabasi co. Di sana dimuat rubrik khusus mengulas isi buku. Salah satu yang menarik yaitu rubrik resensi buku di koran Jawa Pos. Tentu ulasan buku banyak kita jumpai dengan berbagai nama misalnya kupas buku, tahlilan buku dan saya sendiri menyebut dengan review pada rubrik ekstraksi. Seperti di buku Teraju ini cara mereview memudahkan pembaca memahami ide utama. Atau biasa anak muda bertanya apa inti dari buku. Dengan cara mencatat dan menemukan pokok pikiran kita diajak masuk ke ruang ide. Setelah membaca itu seseorang akan lebih kaya dalam hal pengetahuan. Membaca memang cara seseorang berpikir dengan banyak kepala. Lewat membaca...

Resiliensi Perempuan dan Laki-laki

Woko Utoro Saya pernah bertanya bagaimana cara seseorang bangkit dari keterpurukan. Atau bagaimana cara orang menyikapi kehilangan. Karena kadang kehilangan mendalam justru mengambil alih peran logika dan dikuasai perasaan. Memang jika berkaitan dengan perasaan selalu lebih sulit disembuhkan daripada luka fisik. Terlebih jika mengenai pikiran, aspek psikis sulit untuk dipulihkan. Bicara soal bangkit dari keterpurukan atau kehilangan kita mengenal istilah move on atau bahasa psikologi resiliensi. Resiliensi menurut Reivich & Shatte (2002) ialah kemampuan seseorang dalam mengatasi, melalui, dan kembali kepada kondisi semula setelah mengalami kejadian yang menekan. Resiliensi berasal dari bahasa Latin re-silere yang bermakna bangkit kembali (Connor & Davidson, 2003). Lantas bagaimana perempuan dan laki-laki jika menghadapi peristiwa kelam atau kehilangan. Saya menerka beberapa perbedaan antara perempuan dan laki-laki ketika mereka ditimpa kehilangan. Saya menemukan pola bahwa per...