Langsung ke konten utama

Ritual

Woko Utoro

Apa yang ada di benak anda ketika mendengar kata ritual. Pasti langsung tertuju pada perdukunan. Padahal ritual itu step, tata cara, kebiasaan atau rutinitas. Misalnya ketika orang memulai shalat pasti harus berwudhu, masuk masjid, rapihkan barisan dan shalat. Setelahnya lalu berdzikir, berdoa hingga shalat sunnah. Semua rangkaian itu merupakan ritual. Tentu ketika kita menyebut hal sunnah dan wajib maka ritual setiap orang berbeda. Karena perbedaan itulah akhirnya kita harus saling menghormati.

Ritual itu tanda setiap sesuatu ada sesi atau fase yang memantapkan prosesi utama. Dalam arti ritual itu penunjang menuju yang pokok. Walaupun tidak selalu dimaknai demikian. Yang jelas adanya ritual membuat aktivitas kita makin mantap. Misalnya sebelum mahalul qiyam ada ritual salam tawasul, melantunkan qasidah, membaca maulid, diakhiri doa dan mahalul qiyam. Bayangkan tanpa adanya ritus itu mana mungkin membaca maulid diawali dengan mahalul qiyam. Bagaimanapun juga mahalul qiyam adalah prosesi puncak. Jadi jelas bahwa ritual adalah rangkaian yang menghantar menuju aktivitas puncak.

Jika sudah memahami arti ritual maka kita tidak boleh langsung berkonotasi pada mistis. Bahwa sebelum berangkat kerja kita bangun tidur, mandi, sarapan itu juga bagian dari ritual. Mungkin bisa saja setiap orang tidak mandi dan langsung beraktivitas. Tapi pada akhirnya itu menyalahi ritual pagi. Karena namanya ritual hampir dipastikan harus dilakukan, sebut saja wajib. Dalam perdukunan bisa dibayangkan tanpa ritual komat-kamit kembang, menyan, sembur, mungkin akan terasa hambar. Jadi semua rangkaian itu disebut ritual.

Terakhir bahwa ritual adalah cara seseorang menghargai proses. Artinya dengan ritual seseorang tidak menuntut hasil. Ritual mengajarkan jika ingin mendapatkan harus mengusahakan. Dengan itu semua kita memahami cara kerja Tuhan lewat alam yang begitu teratur. Keteraturan itulah yang kita sebut ritual.[]

the woks institute l rumah peradaban 13/9/26

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Ngaji Ngopi: Edisi Konsep Dakwah di Era Milenial

               (Ngaji Ngopi: doc penulis) Woks Ngaji Ngopi kali ini begitu istimewa sebab acara tersebut kedatangan narasumber yang keren bahkan hingga dipenuhi sesak jamaah. Narasumber tersebut tak lain merupakan founder dari masing-masing orang yang telah memiliki jamaahnya tersendiri dan sesuai bidang kajian yang diampunya. Mereka yaitu Pak Nurwakhidun founder Ngaji Gayeng, Gus Abdillah Subhikin founder Kampung Sufi dan Gus Muhammad Balyahu founder A.T.I (Anak Thariqoh Indonesia). Ngaji Ngopi edisi kali ini tentu membicarakan konsep dakwah dari masing-masing founder tersebut guna mengajak kepada semua orang terutama generasi milenial agar terus membumikan hal-hal baik di kehidupan. Tentu dari masing-masing halaqoh yang mereka nahkodai memiliki ciri khasnya tersendiri sehingga bisa menjadi pilihan anak muda untuk menggali ilmu. Maka dengan adanya mereka dan kelompok binaanya setidaknya menjadi alasan kuat untuk kita terus menc...

Hierarki Rasa Menerbitkan Buku Perspektif Psikologi

Woks Bagaimana rasanya menulis, bagaimana rasanya jika tulisan tersebut dibukukan, terbit, beredar ke muka umum hingga tiba di hati pembaca. Tentu segala rasa itu sangat subjektif tapi sedikitnya bisa dijabarkan walaupun setiap orang punya pengalaman tersendiri. Saya punya 3 pendapat bagaimana rasanya punya buku dan sampai dibaca oleh orang lain. Secara psikologis hal itu dapat kita jabarkan secara singkat. Secara hierarkis 3 tingkatan rasa tersebut bisa kita lihat dari sejak kehadiran buku pertama hingga buku ke sekian. Pertama, akan muncul rasa bangga, senang, haru, campur aduk bahkan agak sedikit pamer atau semi-semi riya. Akan tetapi di fase ini penulis masih belum hilang rasa mindernya karena kepercayaan diri belum terbangun seutuhnya. Rasa percaya diri hanya terbangun untuk menerbitkan saja sehingga godaan untuk konsisten menulis bisa dilihat di sini. Fase ini biasanya terjadi pada buku pertama, bahkan buku antologi alias buku keroyokan pun jika lahir pertama begitu nampak berha...