Langsung ke konten utama

Mencari Format Menangis

Woko Utoro 

Menangis itu fitrah. Siapa saja boleh. Tanpa memandang gender. Tanpa harus menunggu kisah haru atau kegetiran. Menangis adalah bagian dari ekspresi jiwa. Kedalamannya begitu jujur dan tak bisa dibohongi. Barangkali setiap tangis adalah ruang paling luas ketika usai meluapnya. Tangis adalah lorong paling jauh ketika usai tumpah air mata.

Pertanyaannya kapan atau di mana kita menangis. Apakah tangis membutuhkan ruang dan waktu. Nampaknya hanya ada 3 tempat yang sesuai untuk kita menangis. Bagi perempuan tentu tangisan tak pernah kenal ruang waktu. Perempuan bisa menangis kapanpun sesuai perasaan mereka. Tapi bagi laki-laki menangis di hadapan ibu adalah keteguhan. Ibu barangkali tidak tahu tangisan kita saat dewasa. Tapi bagi ibu tangisan itu sama saja seperti kanak-kanak. Dan memang bagi ibu sampai kapanpun kita adalah anaknya.

Selanjutnya menangis di pangkuan istri atau saat kita memeluknya erat. Itu adalah bentuk pengakuan batin bahwa sekuat apapun melangkah ia membutuhkan sentuhannya. Laki-laki yang menangis bukan tanda ia lemah. Tapi justru itu sinyal bahwa kekuatan dan kelemahan harus diakui. Seseorang tidak bisa merasa superior hanya karena ia maskulin. Justru lewat tangis itu adalah jalan kita melihat seberapa dalam empat manusia.

Terakhir menangis di majelisnya Rasulullah SAW. Atau bahkan di pusara para auliya. Di tempat itulah kerinduan benar-benar nampak nyata. Seseorang boleh pernah pergi jauh, menggapai apapun atau memperoleh dunia. Tapi ingat ada para pendahulu yang tak boleh kita lupakan. Itulah barangkali tempat terbaik menangis adalah bersama senandung yang memuji Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Hanya di tempat itulah kita bisa melihat suasana dengan jujur. Maka dari itu jika ingin menangis lihatlah ke dalam sisi batin terjauh. Karena ini bukan soal air mata. Ini soal suasana batin yang terbentuk halus sejak lama.[]

the woks institute l rumah peradaban 11/9/26

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Ngaji Ngopi: Edisi Konsep Dakwah di Era Milenial

               (Ngaji Ngopi: doc penulis) Woks Ngaji Ngopi kali ini begitu istimewa sebab acara tersebut kedatangan narasumber yang keren bahkan hingga dipenuhi sesak jamaah. Narasumber tersebut tak lain merupakan founder dari masing-masing orang yang telah memiliki jamaahnya tersendiri dan sesuai bidang kajian yang diampunya. Mereka yaitu Pak Nurwakhidun founder Ngaji Gayeng, Gus Abdillah Subhikin founder Kampung Sufi dan Gus Muhammad Balyahu founder A.T.I (Anak Thariqoh Indonesia). Ngaji Ngopi edisi kali ini tentu membicarakan konsep dakwah dari masing-masing founder tersebut guna mengajak kepada semua orang terutama generasi milenial agar terus membumikan hal-hal baik di kehidupan. Tentu dari masing-masing halaqoh yang mereka nahkodai memiliki ciri khasnya tersendiri sehingga bisa menjadi pilihan anak muda untuk menggali ilmu. Maka dengan adanya mereka dan kelompok binaanya setidaknya menjadi alasan kuat untuk kita terus menc...

Hierarki Rasa Menerbitkan Buku Perspektif Psikologi

Woks Bagaimana rasanya menulis, bagaimana rasanya jika tulisan tersebut dibukukan, terbit, beredar ke muka umum hingga tiba di hati pembaca. Tentu segala rasa itu sangat subjektif tapi sedikitnya bisa dijabarkan walaupun setiap orang punya pengalaman tersendiri. Saya punya 3 pendapat bagaimana rasanya punya buku dan sampai dibaca oleh orang lain. Secara psikologis hal itu dapat kita jabarkan secara singkat. Secara hierarkis 3 tingkatan rasa tersebut bisa kita lihat dari sejak kehadiran buku pertama hingga buku ke sekian. Pertama, akan muncul rasa bangga, senang, haru, campur aduk bahkan agak sedikit pamer atau semi-semi riya. Akan tetapi di fase ini penulis masih belum hilang rasa mindernya karena kepercayaan diri belum terbangun seutuhnya. Rasa percaya diri hanya terbangun untuk menerbitkan saja sehingga godaan untuk konsisten menulis bisa dilihat di sini. Fase ini biasanya terjadi pada buku pertama, bahkan buku antologi alias buku keroyokan pun jika lahir pertama begitu nampak berha...