Langsung ke konten utama

Teladan Keselamatan

Woko Utoro

Saya mau bicara tentang jalan Pantura. Saya tidak bicara jalan dalam di pedesaan. Apalagi jalan setapak yang menuju hutan. Ini bicara bukan tentang jalan tapi berkaitan keselamatan. Saya tiap hari ketika berangkat atau pulang kerja selalu mendapati guru-guru naik motor tanpa helm. Entah apa faktornya lebih lagi mereka menaiki sepeda listrik.

Saya kadang lucu melihat ironi ini. Apa yang membuat para guru tidak pakai helm. Apakah karena terbiasa atau jarak dekat. Jika terbiasa mengapa kebiasaan buruk itu dilakukan. Padahal guru bertugas menjadi teladan bagi muridnya. Ini bukan soal helm tapi keselamatan. Harusnya teladan Keselamatan dimulai dari guru. Bukankah polisi selalu sosialisasi ke sekolah tentang pentingnya taat lalu lintas. Apakah guru tidak mengetahui hal tersebut?

Saya sering berpikir mengapa guru-guru tersebut tidak pakai helm padahal mereka melewati jalan besar. Jalan Pantura seperti kita tahu dilalui kendaraan besar tiap hari. Tanpa helm tentu membahayakan bagi pengendara. Tentu kita tahu helm tidak menjamin keselamatan tapi itu bagian dari upaya preventif.

Saya menganalogikan helm adalah syariat. Sedangkan hakikat keselamatan semua di tangan Allah. Tapi apakah setiap kita tahu tentang pengetahuan makrifat. Jangan-jangan kita hanya mengandalkan insting kebiasaan. Atau kita memang lalai, kapok menunggu kejadian. Analogi tersebut sebenarnya bagian dari taat kepada ulil amri.

Taat kepada ulil amri bukan ketika kapan awal puasa atau esok lebaran atau tidak. Taat ulil amri juga salah satunya memakai helm ketika berkendara. Terutama dalam konteks melewati jalan Pantura yang penuh resiko. Bayangkan saja orang yang (mohon maaf) kecelakaan dengan tanpa helm. Berarti ia tengah mengabaikan syariat. Harusnya syariat tetap dipegang untuk ikhtiar selamat.

Walaupun kita tahu penunjang keselamatan itu banyak seperti skill mengemudi, fokus, faktor medan hingga kondisi kendaraan. Tapi setidaknya dengan memakai helm kita menjadi bagian orang yang mawas diri. Keselamatan dan kecelakaan tidak ada dalam kalender jika kita sudah berikhtiar. Jika pun hal itu terjadi maka Allah SWT sangat memaklumi bahwa takdir membawanya ke sana.

Kita tidak bisa menolak jika jalanan mengakhiri kehidupan. Tapi ingat bahwa jalanan hanya syariat. Sejatinya keselamatan dalam genggaman Nya dan upaya kita menunjangnya. Mari pakai helm dan harusnya dimulai dari para guru.[]

the woks institute l rumah peradaban 28/9/26

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Hierarki Rasa Menerbitkan Buku Perspektif Psikologi

Woks Bagaimana rasanya menulis, bagaimana rasanya jika tulisan tersebut dibukukan, terbit, beredar ke muka umum hingga tiba di hati pembaca. Tentu segala rasa itu sangat subjektif tapi sedikitnya bisa dijabarkan walaupun setiap orang punya pengalaman tersendiri. Saya punya 3 pendapat bagaimana rasanya punya buku dan sampai dibaca oleh orang lain. Secara psikologis hal itu dapat kita jabarkan secara singkat. Secara hierarkis 3 tingkatan rasa tersebut bisa kita lihat dari sejak kehadiran buku pertama hingga buku ke sekian. Pertama, akan muncul rasa bangga, senang, haru, campur aduk bahkan agak sedikit pamer atau semi-semi riya. Akan tetapi di fase ini penulis masih belum hilang rasa mindernya karena kepercayaan diri belum terbangun seutuhnya. Rasa percaya diri hanya terbangun untuk menerbitkan saja sehingga godaan untuk konsisten menulis bisa dilihat di sini. Fase ini biasanya terjadi pada buku pertama, bahkan buku antologi alias buku keroyokan pun jika lahir pertama begitu nampak berha...

Tuan Krabb, Uang dan Ajaran Zuhud

             ( Sumber gambar canva.com) Woks Jika anda penikmat serial kartun Spongebob Squarepants tentu tak asing dengan tokoh Eugene H. Krabs atau biasa disapa tuan Krab. Ia adalah tokoh kartun dengan jenis kepiting. Ia merupakan majikan dari Spongebob dan Squidward, pemilik restoran cepat saji paling terkenal selautan yaitu Krusty Krabs. Restoran yang menyajikan Krabby Patty alias Burger itu selalu berseteru dengan saingan utamanya yaitu Seldon Plankton. Tapi bukan itu yang dibahas, melainkan perilaku dari sang pemilik restoran yaitu tuan Krabs. Tuan Krab seperti judul tulisan ini ialah sosok yang digambarkan sebagai pecinta uang. Bahkan kecintaan kepada uang melebihi sayangnya pada anak semata wayangnya yaitu Pearl. Stephen Hillenburg sebagai pencipta tokoh kartun tersebut begitu ciamik dalam menyajikan karakter pada tokoh tuan Krab tersebut. Ia bahkan berhasil menciptakan penonton yang membuat gemas saat tuan Krab kikir terhadap karya...