Woko Utoro
Banyak orang bertanya apa ritual yang saya lakukan sebelum menulis. Saya jawab tentu tidak ada ritual khusus. Bagi saya menulis ya menulis saja. Saya tidak seperti orang lain yang menulis harus menunggu ide, harus ada rokok kopi, harus mandi dulu, harus di depan laptop, atau harus di alam bebas. Saya bukan tipe penulis manja. Saya menulis apapun, kapan pun dan di manapun. Bahkan ketika tidak membawa smartphone saya bisa menulis.
Saya menulis seperti orang-orang biasa. Menulis dengan cara tradisional alias apapun bisa dilakukan. Soal ide saya mudah mendapatkan. Misalnya setelah membaca buku, ngopi, jalan di depan halaman, dari pasar hingga nongkrong di wc. Soal menulis jika tidak ada smartphone maka saya menggunakan buku catatan. Jika tidak membawa apapun saya menyimpan ide di otak. Setelah di rumah langsung ide itu saya tulis. Jika tidak sempat maka bisa dikembangkan esok hari.
Sebenarnya menulis itu sederhana seperti buku dan membaca yang menjadikannya kalimat. Jadi semakin banyak membaca semakin mudah kita menulis. Saya sering membaca bagaimana Cak Nun menulis. Katanya Cak Nun menulis dengan rakus. Ia biasa menulis apa saja seketika itu juga. Bahkan ketika waktu membuatnya tiada. Gus Dur juga demikian, betapa gigihnya dalam menulis. Bahkan ketika di meja redaksi Tempo dan Kompas sekali duduk jadilah tulisan.
Dari merekalah saya belajar bahwa menulis itu sangat mudah. Walaupun mungkin sedikit tersiksa tapi jika kita membiasakan pasti mampu. Problem mengapa kita sulit mengembangkan tulisan adalah menilai. Padahal rumusnya jelas sejak dulu tugas menilai pasti di akhir bukan di awal. Tulis saja apapun yang kita mampu. Setelah itu barulah memperkaya dengan ide dan gagasan. Untuk urusan terakhir tentu soal tradisi membaca. Soal menulis ini tentang berlatih, mencoba dan tidak pernah bosan. Ritual wajib itulah yang pada akhirnya akan membentuk sikap berliterasi.[]
the woks institute l rumah peradaban 12/9/26
Komentar
Posting Komentar