Langsung ke konten utama

Murah Hati di Jalan Raya

Woko Utoro

Jika kita amati ketika berkendara di jalan raya orang-orang mendadak berwatak beringas. Orang yang biasanya tenang menjelma pembalap dadakan. Maklum saja setiap hari orang-orang diburu waktu. Hidup di jalan raya tak pernah tenang dan selalu terburu-buru. Walaupun begitu ada momen kebaikan yang bisa kita petik saat di jalan raya.

Saya bolak-balik melewati jalan Pantura Paiton-Kraksaan. Setiap pagi dan siang. Hampir di waktu itu saya menyaksikan orang memberi sejumlah uang kecil di perempatan, di penyebrangan dll. Tapi uniknya rerata yang memberi adalah kendaraan mobil besar. Jika diurutkan kebaikan diawali dari truk besar, trus biasa, mobil pribadi dan kendaraan roda dua. Terkhusus di stand amal misalnya pembangunan masjid mobil pick up dan motor lebih murah hati. Sedangkan di persimpangan jalan dan bangjo, mobil truk lebih ringan tangan.

Dari pengamatan sederhana itu saya jadi ingat bahwa berdasarkan World Giving Index (WGI) 2024 yang dirilis oleh Charities Aid Foundation (CAF) menempatkan Indonesia sebagai negara paling dermawan sedunia selama 7 tahun berturut-turut. Walaupun di survei itu tidak ada keterangan apa faktor Indonesia didaulat sebagai negara paling dermawan. Jika saya baca sekilas bisa jadi kedermawanan orang Indonesia didasari ajaran agama. Bagi mereka murah hati dan ringan tangan bukan tradisi melainkan kewajiban atas sesama. Dalam Al Qur'an dijelaskan saling tolong menolong dalam kebaikan.

Faktor lain bisa saja orang kita merasakan empati. Atau merasakan betapa mencari penghidupan itu sangat sulit. Sehingga kemampuan memberi walaupun kecil adalah investasi akhirnya. Mereka tidak tahu pemberian kecil itu bermanfaat atau tidak. Yang jelas agama mengajarkan itu jika kita memiliki kelebihan harta maka bersedekahlah. Selanjutnya orang kita memberi tanpa berpikir. 

Selama ada mereka akan memberi dan biasanya tak kenal ruang waktu. Bisa jadi ini merupakan fenomena kepolosan sosial atau orang bersedekah tanpa perlu bertanya uangnya untuk apa. Bahkan seringkali orang kita memberi di tempat yang salah. Tapi hal itu bagian dari perlawanan jalanan, apakah negara hadir ketika masyarakat sering saling bantu?

Faktanya jika bicara murah hati masyarakat kita memang jagonya. Banyak bukti soal ini misalnya bagaimana heroiknya masyarakat Aceh ketika mengawal kemerdekaan. Bagaimana luar biasanya masyarakat kita ketika berdonasi saat covid 19 dll. Dan menyenangkan ketika murah hati itu masih kita dapati di jalanan. Kita selalu menaruh respect yang tinggi bagi mereka yang tak pernah berhenti peduli.[]

the woks institute l rumah peradaban 30/9/26

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Tuan Krabb, Uang dan Ajaran Zuhud

             ( Sumber gambar canva.com) Woks Jika anda penikmat serial kartun Spongebob Squarepants tentu tak asing dengan tokoh Eugene H. Krabs atau biasa disapa tuan Krab. Ia adalah tokoh kartun dengan jenis kepiting. Ia merupakan majikan dari Spongebob dan Squidward, pemilik restoran cepat saji paling terkenal selautan yaitu Krusty Krabs. Restoran yang menyajikan Krabby Patty alias Burger itu selalu berseteru dengan saingan utamanya yaitu Seldon Plankton. Tapi bukan itu yang dibahas, melainkan perilaku dari sang pemilik restoran yaitu tuan Krabs. Tuan Krab seperti judul tulisan ini ialah sosok yang digambarkan sebagai pecinta uang. Bahkan kecintaan kepada uang melebihi sayangnya pada anak semata wayangnya yaitu Pearl. Stephen Hillenburg sebagai pencipta tokoh kartun tersebut begitu ciamik dalam menyajikan karakter pada tokoh tuan Krab tersebut. Ia bahkan berhasil menciptakan penonton yang membuat gemas saat tuan Krab kikir terhadap karya...

Hierarki Rasa Menerbitkan Buku Perspektif Psikologi

Woks Bagaimana rasanya menulis, bagaimana rasanya jika tulisan tersebut dibukukan, terbit, beredar ke muka umum hingga tiba di hati pembaca. Tentu segala rasa itu sangat subjektif tapi sedikitnya bisa dijabarkan walaupun setiap orang punya pengalaman tersendiri. Saya punya 3 pendapat bagaimana rasanya punya buku dan sampai dibaca oleh orang lain. Secara psikologis hal itu dapat kita jabarkan secara singkat. Secara hierarkis 3 tingkatan rasa tersebut bisa kita lihat dari sejak kehadiran buku pertama hingga buku ke sekian. Pertama, akan muncul rasa bangga, senang, haru, campur aduk bahkan agak sedikit pamer atau semi-semi riya. Akan tetapi di fase ini penulis masih belum hilang rasa mindernya karena kepercayaan diri belum terbangun seutuhnya. Rasa percaya diri hanya terbangun untuk menerbitkan saja sehingga godaan untuk konsisten menulis bisa dilihat di sini. Fase ini biasanya terjadi pada buku pertama, bahkan buku antologi alias buku keroyokan pun jika lahir pertama begitu nampak berha...