Langsung ke konten utama

Ketabahan Rasulullah SAW

Woko Utoro

KH Said Aqil Siradj menangis ketika mengisahkan ketabahan Rasulullah SAW. Betapa tidak, beliau memang faham tarikh Rasulullah SAW sampai ke sisi paling dalam. Makanya kata para ulama semakin memahami jejak keilmuan tentang Rasulullah SAW niscaya mereka mudah menghayati kehidupan. Rasulullah SAW sebaik-baik uswah hasanah bagi kita umatnya.

Misalnya suatu hari ketika Rasulullah SAW pulang dari Thaif beliau terlihat sangat lelah. Seperti kita tahu di Thaif Rasulullah SAW mendapat perlakuan tidak baik, dicemooh, diludahi hingga dilempari batu. Dalam riwayat beberapa anggota tubuh beliau sampai berdarah. Peristiwa itulah yang membuat Malaikat Jibril geram. Padahal jika mau Rasulullah SAW tinggal berkata, "ya" maka penduduk Thaif bakal serupa kaum Nuh yang ditenggelamkan air bah, kaum Nabi Hud yang diguncang gempa. Atau beberapa kaum Musa yang disambar petir. Tapi Rasulullah SAW berkata, "Saya bukan Nuh, Hud atau Musa. Saya adalah Muhammad". Jikapun ini yang didapatkan beliau dalam dakwah selama Allah tidak marah maka akan jalan terus.

Singkat kisah Attabah seorang pemilik anggur melihat Rasulullah SAW beristirahat di dekat kebunnya. Lalu ia meminta Addas budaknya untuk memberikan anggur kepada Rasulullah SAW. Ketika beliau hendak makan seraya membaca basmalah. Dari itulah Addas kaget dan sadar bahwa ucapan itu bukan dari orang Arab biasa. Ia yakin bahwa ucapan itu berasal dari seorang khatamin nabiyyin. Rasulullah SAW pun menjawab bahwa ia sang nabi penutup seperti tertulis di kitab suci ahli kitab. Addas pun berkata, "saya di sini rela menjadi budak hanya karena ingin bertemu dengan engkau". Akhirnya ia pun bersyahadat.

Ketabahan Rasulullah SAW memang luar biasa. Selepas ditinggal pergi paman dan istrinya beliau juga diperlakukan kasar oleh penduduk Thaif. Hingga akhirnya beliau mendapat apresiasi dan hiburan untuk mikraj. Karena level ketabahan Rasulullah SAW sudah tingkat tinggi maka perjumpaan dengan Allah SWT adalah puncaknya. Di sana arwah auliya sholihin semua menghormati beliau. Bahkan beliau didorong untuk menjadi imam. Akhirnya itulah kisah ketabahan beliau yang tak ada bandingannya.[]

the woks institute l rumah peradaban 10/9/26

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Ngaji Ngopi: Edisi Konsep Dakwah di Era Milenial

               (Ngaji Ngopi: doc penulis) Woks Ngaji Ngopi kali ini begitu istimewa sebab acara tersebut kedatangan narasumber yang keren bahkan hingga dipenuhi sesak jamaah. Narasumber tersebut tak lain merupakan founder dari masing-masing orang yang telah memiliki jamaahnya tersendiri dan sesuai bidang kajian yang diampunya. Mereka yaitu Pak Nurwakhidun founder Ngaji Gayeng, Gus Abdillah Subhikin founder Kampung Sufi dan Gus Muhammad Balyahu founder A.T.I (Anak Thariqoh Indonesia). Ngaji Ngopi edisi kali ini tentu membicarakan konsep dakwah dari masing-masing founder tersebut guna mengajak kepada semua orang terutama generasi milenial agar terus membumikan hal-hal baik di kehidupan. Tentu dari masing-masing halaqoh yang mereka nahkodai memiliki ciri khasnya tersendiri sehingga bisa menjadi pilihan anak muda untuk menggali ilmu. Maka dengan adanya mereka dan kelompok binaanya setidaknya menjadi alasan kuat untuk kita terus menc...

Hierarki Rasa Menerbitkan Buku Perspektif Psikologi

Woks Bagaimana rasanya menulis, bagaimana rasanya jika tulisan tersebut dibukukan, terbit, beredar ke muka umum hingga tiba di hati pembaca. Tentu segala rasa itu sangat subjektif tapi sedikitnya bisa dijabarkan walaupun setiap orang punya pengalaman tersendiri. Saya punya 3 pendapat bagaimana rasanya punya buku dan sampai dibaca oleh orang lain. Secara psikologis hal itu dapat kita jabarkan secara singkat. Secara hierarkis 3 tingkatan rasa tersebut bisa kita lihat dari sejak kehadiran buku pertama hingga buku ke sekian. Pertama, akan muncul rasa bangga, senang, haru, campur aduk bahkan agak sedikit pamer atau semi-semi riya. Akan tetapi di fase ini penulis masih belum hilang rasa mindernya karena kepercayaan diri belum terbangun seutuhnya. Rasa percaya diri hanya terbangun untuk menerbitkan saja sehingga godaan untuk konsisten menulis bisa dilihat di sini. Fase ini biasanya terjadi pada buku pertama, bahkan buku antologi alias buku keroyokan pun jika lahir pertama begitu nampak berha...