Langsung ke konten utama

Pancasila Tidak Sakti

Woko Utoro

1 Oktober diperingati sebagai hari kesaktian Pancasila. Hari itu diperingati sebagai kesuksesan atas penumpasan terhadap pelaku pemberontakan 30 September 1965. Hingga hari ini mengheningkan cipta, doa dan harapan masih terus dipanjatkan. Entah seberapa empatinya kita faktanya momen itu hanya meninggalkan berkas sejarah.

Jika bertanya hari ini apakah Pancasila masih sakti? tentu kita bisa menjawabnya. Kesaksian seperti apa ketika menyaksikan banyak hal ironi di negeri sendiri. Jika Pancasila sakti hanya dimaknai sebagai kemenangan atas penumpasan G30S maka hal itu tidak lebih dari sejarah. Hari ini kesaktian Pancasila kembali diuji terutama soal nurani bangsa. Lebih khusus lagi untuk mereka yang berada di puncak kekuasaan.

Kasus terbaru misalnya soal kamar ekslusif napi koruptor di Lapas Cibinong. Jika kita membaca berita tersebut rasanya aneh. Memang sejak dulu negara bermain dengan kotor. Skenario, intrik dan dramanya sangat menjijikan. Bisa dibayangkan mereka yang membuat, yang membuka dan meramaikan. Rasanya aneh jika negara tidak tahu dalam kasus tersebut. Padahal petugas mereka tiap hari berjaga di sana. Karena pastinya petugas itu dibayar oleh negara.

Dalam hal ini negara memang sudah gagal. Apalagi lakon aktornya yang sangat kaku. Dalam bahasa para aktivis perbuatan mereka tidak lebih sebagai aktor tipu-tipu. Contoh riil adalah pengadilan militer yang jauh dari kata adil. Contoh lain yaitu napi dengan kejahatan berat, korupsi, pembunuhan dan kekerasan seksual yang lebih cepat menghirup udara bebas. Atas nama relasi, remisi dan keberpihakan akhirnya keadilan bagi korban tak pernah terdengar.

Hal di atas hanya sekian contoh betapa culasnya negeri ini terutama di sektor hukum. Untuk contoh lain pasti anda akan mudah menemukannya, bahkan sudah di level menjadi kebiasaan. Misalnya membuat KTP gratis tapi faktanya harus bayar dll. Itulah ironi negeri ini yang membuat kita terus berpikir apa gunanya memperingati hari kesaktian Pancasila.

Bukanya kita tidak ingin belajar sejarah. Tapi lebih tepatnya harapan kita selalu dipatahkan. Terutama oleh pejabat yang hanya tampak dipermukaan tapi tenggelam ketika rakyat berkoar. Sedih rasanya tapi apa mau dikata negeri ini sudah terlanjur sakit. Bahkan sampai sendi-sendi paling dalam. Pancasila harusnya menjadi pilar kini justru sekadar hafalan dan tema seminar.

Harusnya Pancasila bukan lagi diingat sebagai faktar sejarah tapi lebih dari itu. Pancasila adalah asas hidup bangsa dan kita mengamalkan bukan sebagai slogan tapi tumpukan kebangsaan. Jika Pancasila hanya dimaknai sebagai sejarah statis maka ia mati. Tapi jika Pancasila diamalkan sebagai nilai maka ia terus hidup.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Tuan Krabb, Uang dan Ajaran Zuhud

             ( Sumber gambar canva.com) Woks Jika anda penikmat serial kartun Spongebob Squarepants tentu tak asing dengan tokoh Eugene H. Krabs atau biasa disapa tuan Krab. Ia adalah tokoh kartun dengan jenis kepiting. Ia merupakan majikan dari Spongebob dan Squidward, pemilik restoran cepat saji paling terkenal selautan yaitu Krusty Krabs. Restoran yang menyajikan Krabby Patty alias Burger itu selalu berseteru dengan saingan utamanya yaitu Seldon Plankton. Tapi bukan itu yang dibahas, melainkan perilaku dari sang pemilik restoran yaitu tuan Krabs. Tuan Krab seperti judul tulisan ini ialah sosok yang digambarkan sebagai pecinta uang. Bahkan kecintaan kepada uang melebihi sayangnya pada anak semata wayangnya yaitu Pearl. Stephen Hillenburg sebagai pencipta tokoh kartun tersebut begitu ciamik dalam menyajikan karakter pada tokoh tuan Krab tersebut. Ia bahkan berhasil menciptakan penonton yang membuat gemas saat tuan Krab kikir terhadap karya...

Hierarki Rasa Menerbitkan Buku Perspektif Psikologi

Woks Bagaimana rasanya menulis, bagaimana rasanya jika tulisan tersebut dibukukan, terbit, beredar ke muka umum hingga tiba di hati pembaca. Tentu segala rasa itu sangat subjektif tapi sedikitnya bisa dijabarkan walaupun setiap orang punya pengalaman tersendiri. Saya punya 3 pendapat bagaimana rasanya punya buku dan sampai dibaca oleh orang lain. Secara psikologis hal itu dapat kita jabarkan secara singkat. Secara hierarkis 3 tingkatan rasa tersebut bisa kita lihat dari sejak kehadiran buku pertama hingga buku ke sekian. Pertama, akan muncul rasa bangga, senang, haru, campur aduk bahkan agak sedikit pamer atau semi-semi riya. Akan tetapi di fase ini penulis masih belum hilang rasa mindernya karena kepercayaan diri belum terbangun seutuhnya. Rasa percaya diri hanya terbangun untuk menerbitkan saja sehingga godaan untuk konsisten menulis bisa dilihat di sini. Fase ini biasanya terjadi pada buku pertama, bahkan buku antologi alias buku keroyokan pun jika lahir pertama begitu nampak berha...