Langsung ke konten utama

Tentang Sebuah Tulisan


Woks

Beberapa kawan bertanya mengapa saya tidak menulis tentang agama dan keagamaan atau topik permasalahannya. Saya langsung menjawab dengan sederhana bahwa menulis atau bekerja harus sesuai dengan bidangnya. Saya merasa bahwa agama dan problematikanya belum sepenuhnya saya kuasai sehingga saya sedikit sungkan untuk menulis tema-tema agama.

Saya merasa bukan ahli agama sehingga yang saya tulis adalah yang saya yakini bisa dan hal itu sudah saya takar sesuai kemampuan. Saya ingat dalam sabda Nabi saw kepada Abdurrahman ibn Samurah bahwa jangan meminta jabatan dan jangan menyerahkan jabatan kepada yang bukan ahlinya. Hemat saya bahwa jabatan itu akan dimintai pertanggungjawaban. Artinya jika seseorang memberikan pada ahlinya-ahli maka akan menghasilkan intinya-inti begitu juga sebaliknya. Saya khawatirkan orang yang cacat dalam beragama ini menuliskan agama yang sempurna nanti hasilnya bisa kacau. Maka saya lebih baik mundur selangkah. Tujuanya sederhana yaitu pergi jauh untuk belajar dan berniat untuk mendekat kembali sepulangnya.

Saya akan menulis tentang hal-hal kecil di sekitar saya. Sehingga narasi tersebut saya produksi sebagai penyeimbang. Kita tahu bahwa sudah banyak kalangan alim yang menulis tentang tema agama dan harus diakui mereka ahlinya. Maka saya yang bukan ahli harus mencari genre apa yang harus saya tuliskan. Sehingga terbersitlah dalam hati untuk menuliskan apa saja sesuai yang saya temui, lihat dan rasakan. Maka pesan Nabi untuk berliterasi saya terjemahkan sangat luas bukan hanya tentang keilmuan agama, melainkan bisa apa saja. Pesan beliau bahwa lakukanlah apa yang kamu tulis dan tulislah apa yang kamu lakukan, begitu kiranya terjemah bebasnya.

Saya lebih memilih menulis dengan cara free-writing yaitu sebuah metode menulis sebas-bebasnya. Biasanya saya akan menulis seputar dunia pendidikan, sosial, budaya, politik dan lain sebagainya termasuk pengalaman yang pernah saya temui. Saya meyakini bahwa dengan menerjemahkan alam sekitar, kita bisa mendapat inspirasi banyak hal. Hasil dari menangkap fenomena alam, lingkungan sekitar dan gerak sosial bisa kita tuangkan dalam sebuah tuliskan.

Saya ingat pesan filsuf dari Padangan madzhab Ngantru bahwa warisan yang dimiliki siswa/mahasiswa adalah membaca dan menulis. Lantas saya pun menambahkanya selebihnya hanya omong kosong belaka. Pada kenyataan seperti saat ini kita memang hanya diperintah untuk belajar selebihnya tentu perlu aktualisasi. Akan tetapi aktualisasi tanpa pembelajaran hanya angan-angan saja. Maka dari itu belajar dalam hal ini menulis sangat penting bagi kita terutama insan akademis.

Apa saja saya tulis dan tulis saja apa yang saya temui. Begitulah kiranya mengapa saya sampai hari ini menjadi maniak menulis. Saya hanya ingin kesempatan menulis terus berkelanjutan walaupun kini sudah tidak berkecimpung dalam dunia pendidikan formal. Saya sepakat dengan logika Prof Mulyadi Kertanegara bahwa menulis adalah suatu bentuk daya kekuatan manusia. Berhenti menulis ialah kekurangan atau malah kematian daya potensi. Logika menulis ala Prof Mulyadi tentu menarik perhatian saya agar terus hidup walau suatu saat saya akan mati. Salah satu agar terus hidup adalah dengan menulis. Menulis yang dalam hemat saya ialah untuk merawat akal pikiran. Tentu saya tidak usah menjabarkan tentang manfaat menulis. Yang jelas apa yang kita lakukan pasti memiliki efek tersendiri bahkan kita sebenarnya sudah mengetahuinya.

Saya juga sangat senang menulis apa saja yang dalam pandangan orang hanya remeh temeh. Akan tetapi saya biarkan saja, toh mereka pun memiliki porsi untuk menilai. Akan tetapi saya punya idealisme sendiri bahwa apa yang saya lakukan tidak lebih dari sebuah hobi yang harus disalurkan. Dari pada setiap inspirasi mengendap dalam pikiran lantas cara menumpahkan dengan menulis. Dalam bahasa Jawa "eman-eman" jika saya sekolah sampai tinggi tapi tak sempat saya bagikan pengetahuannya kepada khalayak. Saya meyakini seperti apa yang dikatakan Philip Pullman bahwa salah satu kegembiraan dalam menulis adalah kita akan terus-menerus belajar akan hal-hal yang baru. Apa yang dikatakan Pullman sudah saya rasakan, misalnya dulu saya sangat kaku dalam berbahasa, namun saat saya belajar membaca lalu menuliskanya saya merasa terus hidup. Jika kata tak sempat terucap maka gagasan itu akan saya tuliskan, sehingga tidak ada alasan bagi saya untuk membisu.

Sekarang apalagi yang kita tunggu. Sungguh langit sudah tidak menurunkan Nabi lagi untuk membimbing kita belajar membaca dan menulis. Sekarang saatnya kita bangun dari tidur panjang bahwa tugas kita saat ini adalah belajar. Membaca dan menulis salah satu yang harus kita bangun lagi. Hidupkan gerak arus mereka sebelum kita benar-benar menyesal ternyata usia sudah di ujung batas. Mari menulis tentang kehidupan, sungguh alam ini terlalu kaya jika tidak kita tuliskan dalam sebuah kertas putih bernama cita-cita.

*Tulisan ini diterbitkan juga di blog MA Nurul Hikmah Haurgeulis Indramayu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...