Langsung ke konten utama

Catatan Haul Kiai Ageng Hasan Mimbar Majan 2021




Woks

Malam itu bertepatan 10 Dzulqa'dah 1442 Hijriyah hampir seluruh wilayah Tulungagung diguyur hujan tak terkecuali desa Majan. Desa Majan yang dulunya bersama Tawangsari dan Winong merupakan tanah perdikan dari mandat kerajaan Mataram Islam. Hingga saat ini melalui Yayasan Sentono Dalem Kasepuhan Majan setiap tahunya mengadakan haul memperingati jejak perjuangan Mbah Hasan Mimbar, tokoh di balik Islamisasi di daerah Ngrowo (Tulungagung tempo dulu).

Dalam acara malam dengan grimis yang syahdu itu jamaah telah memadati masjid Al Mimbar untuk mengikuti Majelis Dzikir wa Maulidurrasul ﷺ bersama jamaah Al Khidmah Tulungagung. Seperti biasa usai acara pembacaan yasin tahlil, manaqib Syeikh Abdul Qadir Jailani, maulid langsung diisi sambutan dan mauidhoh hasanah.

Dalam sambutannya, Raden Ali Shodiq mewakili keluarga ndalem memberikan motivasi kepada jamaah untuk terus meneladani para shalafuna shalih salah satunya Mbah Hasan Mimbar. Di mana dulu Mbah Hasan Mimbar telah berhasil dalam upaya dakwah serta menancapkan beberapa tradisi dan hukum yang masih terawat hingga kini. Konon perjuangan Mbah Hasan Mimbar pada 1727 M itu terilhami dari mandat kerajaan dan pendahulunya Mbah Kyai Abdurrahman (makamnya di Barat komplek Masjid al Mimbar).

Selanjutnya mauidhoh hasanah di sampaikan oleh KH. Muhammad Faruq dari Kediri. Beliau menyampaikan bahwa kita harus terus bersyukur sampai hari ini masih diberikan kenikmatan berupa iman. Sedang menurut Imam Ghazali, iman adalah termasuk nikmah kubro sedangkan dunia yang selalu kita anggap sebagai emas adalah nikmat syugro (kecil).

Beliau juga bercerita tentang Habib Quraish Baharun (Pimpinan Majelis Rasulullah Jawa barat). Pada suatu hari ketika beliau sedang di pesawat, beliau berbincang dengan seorang ibu yang ternyata hafal Qur'an, tafsir dan haditsnya. Hingga Habib Quraish merasa terpukau dengan segala macam penuturan ibu tersebut yang berdasar pada kaidah-kaidah Islam. Hingga ketika mereka akan berpisah sang ibu mengambil tas kopernya dari kabin pesawat lalu tas itu jatuh. Ketika akan mengambil tas kalung sang ibu keluar dan ternyata kalung itu adalah salib.

Habib Quraish pun tercengang ketika itu sang ibu memberi pengakuan bahwa ia memang seorang Kristiani yang mempelajari Islam. Dari itulah ia juga berkata bahwa entah sampai saat ini ia belum mendapat hidayah. Maka dari itu beruntung lah kita orang yang biasa saja masih diberi nikmat iman Islam.

Selanjutnya terutama di era pandemi seperti saat ini kita harus terus membentengi diri agar imam terus kuat. Kata Nabi agar iman tetap kuat kita harus terbiasa dzikir, memakmurkan masjid dan dekat dengan al Qur'an. Cara itulah merupakan resep yang ampuh untuk kita merawat keimanan. Satu tambahan lagi yaitu dengan thalabul ilmi. Kata Syeikh Junaid al-Baghdadi "aku mendapat ilmu bukan dari diskusi atau berdebat tapi duduk dalam sebuah majelis orang sholeh".

Beliau juga menjelaskan keistimewaan orang berdzikir. Salah satunya lewat cerita Imam Ahmad ibn Hambal yang suatu hari beliau kebingungan berjalan tanpa arah. Singkat cerita beliau sampai di sebuah masjid lalu shalat di sana. Hingga shalat usai beliau tidak pulang justru beristirahat di sana. Tanpa pikir panjang ada seorang marbot (pengurus masjid) yang melarang seseorang tidur di masjid hingga akhirnya Imam Ahmad di usir dari sana. Orang itu tidak tau jika ia adalah Imam Ahmad seorang fuqaha dan mufti besar di zaman itu.

Akhirnya Imam Ahmad sampai di sebuah toko kecil penjual roti. Ketika itu beliau diizinkan bermalam di sana. Saat Imam Ahmad tinggal di sana beliau mengamati si pembuat roti tak henti-hentinya berdzikir lantas beliau bertanya "mengapa dari tadi engkau ku lihat tak henti-hentinya berdzikir membasahi lisanmu dengan menyebut nama Allah?"

"Iya tuan, selama dzikir ini banyak dari keinginan ku sudah dikabulkanNya, tapi ada satu lagi yang belum".

"Apakah itu?", tanya Imam Ahmad.

"Aku ingin bertemu Imam Ahmad ibn Hambal", jawab pembuat roti itu. Ternyata sang Imam sudah ada di hadapanya.

Begitulah kiranya orang yang selalu berdzikir akan dipermudah segala hajatnya. Lantas jika menumui aral melintang hal itu biasa saja. Karena hidup memang banyak masalah tapi dengan dzikir insyaallah ada jalan keluarnya. Seperti kisah seekor rusa yang mencari air sedangkan ia dalam keadaan ingin melahirkan.

Singkat cerita sang rusa berpikir untuk menjauh dari hutan karena saat melahirkan ia ingin berada tidak jauh dari sungai. Lalu benar saja hutan terbakar oleh petir dan rusa itu selamat dan tepat di depanya ada sungai mengalir. Masalah baru saja datang ketika rusa akan berbelok ke arah kanan ternyata ada pemburu, ketika akan ke kiri ternyata ada harimau sedangkan ke belakang hutan terbakar dan di depannya ada sungai. Semua arah itu mengandung resiko, ke depan ia tenggelam, ke belakang ia terbakar, ke kanan ia tertembak dan ke kiri ia diterkam harimau.

Ia hanya bisa pasrah sambil berucap bahwa yang menyelamatkan semua ini hanya Allah rabbul alamin, hingga akhirnya datangnya hujan deras lantas ia pun memilih duduk. Hujan itu memadamkan api hutan, si harimau tertembak pemburu, sedangkan si pemburu itu berlalu karena hujan deras. Hingga akhirnya si rusa itu selamat. Begitulah hikmah dari berdzikir kepada Allah.

the woks Institute l rumah peradaban 22/6/21

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...