Langsung ke konten utama

Tegel




Woks

Rasa tega atau dalam frasa Jawa dikenal dengan tegel atau tego sering kita jumpai dalam bahasa keseharian di masyarakat. Rasa tega berkembang dan selalu tarik menarik dengan rasa lain berupa kerelaan, keridhoan, menerima hingga ikhlas. Satu kata ini memang mengandung arti rasa yang dalam kadang bahkan tidak bisa dilogika.

Tegel lebih jauh dimaknai sebagai satu ungkapan rasa yang mengandung penawaran dan keputusan. Di sana seseorang akan terasa berat jika dihadapkan dengan kata tersebut. Tentu konteks kata ini akan luas jika seseorang telah berstatus sebagai seseorang yang bertanggungjawab atas segala tindakan misalnya orang tua terhadap anaknya atau sesama saudara bahkan lebih luas kepada semua mahluk.

Ada tiga kisah yang akan saya suguhkan dalam tulisan sederhana ini perihal tegel. Bagaimana kita menyikapinya ketika kondisi itu dihadapi oleh seseorang yang entah bagaimana akhirnya. Pertama ada cerita seseorang sahabat yang kenal lama sejak mereka kecil hidup selalu bersama. Mereka sudah seperti saudara kandung kemanapun selalu satu visi bahkan hingga mereka kuliah dan akhirnya lulus.

Singkat cerita dua orang sahabat itu memiliki minat yang sama untuk menambatkan perasaanya pada seseorang yang ternyata ia sukai sejak di bangku kuliah. Singkatnya seorang sahabat sebut saja B merelakan jika seseorang itu dimiliki sahabatnya yaitu A. Dalam sebuah perjalanan memadu rasa akhirnya seseorang itu berpisah dari si A entah apa alasanya. Akhirnya baik si A, si B maupun seseorang itu tidak memiliki hubungan apapun. 

Pada masa yang panjang jodoh memang misteri ternyata seseorang itu menikah dengan si B sahabat si A yang telah lama ia kenal. Lantas dalam sebuah tragedi yang kita sendiri tidak menduganya apakah si B salah dengan sikapnya itu karena memilih dinikahi oleh seseorang itu. Ataukah seseorang itu telah tega membagi rasa kepada si B yang ternyata sahabat si A yang telah lama ia kenal. Lalu kita sebagai pembaca bagaimana menilai kejadian ini apakah tegel itu terjadi dalam kisah ini atau justru hal itu sebuah kewajaran?

Kedua ada kejadian di mana seseorang kaya dari Jakarta yang merasa hidupnya kehilangan arah padahal pada saat itu secara ekonomi ia tengah berjaya. Singkat cerita atas saran seorang teman ia disuruh untuk menemui KH. Ahmad Asrori Al Ishaqy Surabaya. Ketika sampai di sana seseorang itu mengutarakan keluh kesahnya dan Kiai Asrori mengetahui segala keluhannya.

Lalu Kiai Asrori pun menasehatinya bahwa jika ingin keluar dari masalah itu ia harus merelakan hartanya untuk di sedekahkan semua. Tanpa perlu berpikir apapun yang jelas ia pun tidak perlu meminta penjelasan. Akan tetapi Kiai Asrori memberi pesan singkat bahwa ia harus merelakan semua harta itu karena ia harus disucikan dengan sedekah. Karena harta yang kotor akan berakibat buruk bagi kehidupan utamanya pikiran dan badan.

Satu hal lagi kisah ketiga yang tak kalah menarikanya yaitu kisah Habib Umar bin Hafidz dan putri kesayangannya. Saking sayangnya beliau pada Zahra maka dibuatlah pondok putri yang diberi nama "Darul Zahra". Akan tetapi suatu ketika beliau mendapat kabar bahwa putri kesayangannya itu meninggal dunia saat berenang. Singkat cerita sang putri pun dimakamkan ba'da asyar dan Habib Umar walau nampak sedih beliau tetap tegar. Yang membuat kita heran adalah beliau selalu mengucap alhamdulillah. Ucapan itu bukan karena beliau suka terhadap peristiwa itu akan tetapi beliau hanya ridho akan nikmat dan ketentuan yang ditetapkan Allah swt. Satu hal lagi di tengah kesedihan itu beliau masih sempat untuk mengajar para santri bahkan hingga mengimami shalat malam.

Dari ketiga cerita tersebut tentu terdapat narasi tegel. Kita harus merelakan sesuatu hal walaupun itu terasa pahit baik itu soal perasaan, kekayaan hingga buah hati sekalipun. Sejak dulu memang tabiatnya manusia adalah menangis saat tertimpa musibah akan tetapi hal itu tidak membuat seseorang untuk menolak atas takdir yang digariskanNya. Kesedihan adalah hal dasar yang dimiliki manusia tapi lewat perasaan itu seseorang bisa menjadi sosok yang tegar.

Beberapa orang mungkin sering berkata, "kok tegel e ya mereka" dalam konteks ini mungkin bukan soal perasaan tapi lebih kepada pilihan. Seseorang memang harus punya sikap tegel karena sikap itu sejatinya tengah mendidik bahwa kita bukanlah pemilik asli dari sebuah kehidupan. Misalnya kita harus tegel memondokan anak dan harus rela berpisah dengan mereka. Dengan begitu kita tengah memantapkan keputusan agar supaya nanti anak bisa mandiri. 

Tegel memang terasa kejam akan tetapi dengan begitu seseorang memiliki prinsip ketegasan. Jangan sampai apa yang kita lakukan bersifat ambivalen yang tidak jelas akhirnya.

Lantas jika ada orang tua yang tegel sampai membunuh anaknya itu adalah tegel yang tak berperasaan sehingga hukuman atas ulah mereka adalah tidak lebih mulia daripada hewan. Bayangkan hewan saja memiliki sifat penyanyang terhadap anaknya sendiri mengapa manusia tidak. Di sinilah perlunya membuka kembali jangan-jangan ada yang salah pada sikap tegel kita.

the woks Institute l rumah peradaban 5/6/21

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...