Langsung ke konten utama

Jalan Dakwah Ruqyah Aswaja


Guru Kami: KH. Imron Rosyidi & Gus Amak Alauddin Shiddiqy, M.Pd.i


Woks

Apa pertama kali di benak mu ketika mendengar kata "ruqyah", pasti orang langsung berspekulasi ruqyah itu mistis, ghaib, ngeri, tidak logis, irrasional, tidak empiris, metodologinya tidak jelas dan lainya. Barangkali begitulah pendapat orang awam ketika pertama kali mereka mendengar kata ruqyah. Bahkan sampai hari ini ruqyah masih terkena stereotip bahwa ia tak ada bedanya dengan praktek perdukunan yang menakutkan. Padahal dulu sahabat Abu Said Al Khudri berkata bahwa jangan samakan ruqyah dengan santet (pen).

Hal-hal yang miring seputar ruqyah dan berkembang di masyarakat itulah yang menjadi jalan dakwah ruqyah Aswaja. Ruqyah Aswaja menilai bahwa yang diasumsikan masyarakat perlu banyak yang diluruskan salah satunya dengan terus mengedukasi mereka. Jalan dakwah majelis ilmu menjadi salah satu cara untuk menyasar mereka bahwa ruqyah memiliki dasar baik dari al qur'an maupun hadits.

Dasar melalui al qur'an di antaranya surat al-Isra’ ayat 82 :

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاء وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ
“dan Kami turunkan dari Al qur'an suatu yang menjadi obat penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman”.

Sedangkan hadits nabi juga menerangkan di antaranya ketika seorang sahabat yang terkena sengatan kalajengking lalu dibacakan surah al fatihah. Beliau juga pernah bersabda bahwa al fatihah adalah obat segala penyakit. Selain itu referensi dari berbagai kitab seperti Shahih Bukhari Muslim, Fathul Bari', Tafsir Ibnu Katsir juga banyak menjelaskan mengenai ruqyah.

Ruqyah adalah cara penyembuhan dengan membacakan ayat al qur'an. Nabi bersabda bahwa jika seseorang tidak meyakini kemukjizatan al qur'an maka usahanya tak akan disembuhkan. Ayat al qur'an di antaranya surah al fatihah disebut juga suraturruqyah atau salah satu surat untuk penyembuhan. Ruqyah juga bisa disebut jampi atau orang Jawa menyebutnya suwuk (sembur).

Hadirnya ruqyah Aswaja tentu angin segar yang memang tujuannya mengajak orang berobat dengan qur'an. Walaupun kita tahu bahwa penyakit itu terdiri atas penyakit jasmani dan ruhani akan tetapi justru al qur'an bisa menjadi wasilah kesembuhanya. Ruqyah Aswaja mendakwahkan bahwa al qur'an adalah obat utama dan pertama bukan sekedar slogan.

Mengapa orang tidak perlu takut berobat dengan cara ruqyah? karena sesungguhnya ruqyah itu sunnah yang pernah dicontohkan nabi dan termasuk dalam tibbun nabawi. Namun ironis memang ruqyah bernasib sial sudah terkena penyelewengan melalui oknum dan film sehingga orang terkonstruk untuk takut dengan pengobatan yang satu ini.

Dakwah ruqyah Aswaja memang memiliki misi besar yaitu meluruskan penyimpangan baik secara aqidah dan syariah. Maka dari itu tim di setiap daerah terus digembleng dibekali ilmu termasuk minta saran dan penguatan baik dari tokoh agama, akademisi hingga keamanan dalam hal ini TNI/Polri.

Perlu dipahami bahwa ruqyah itu bermacam-macam aliran dan secara garis besar minimal terdiri dari dua yaitu berdasar madzhab Ahlussunah Wal Jamaah (Aswaja) dan non-Aswaja. Ciri sederhananya untuk mengidentifikasi Aswaja atau bukan yaitu soal praktek di lapangan dan beberapa paham. Misal dalam menangani orang yang terkena gangguan jin, roqi (peruqyah) Aswaja akan mendakwahinya agar mereka bertobat dan tidak menggangu dan setelah itu memberiarkan mereka pergi atau dinetralisir, sedangkan pada non-Aswaja mereka akan mengancam agar jin keluar bahkan tak segan memukul.

Selanjutnya soal paham, misalnya ada jamaah yang membawa jimat maka ruqyah Aswaja tidak langsung bertindak sewenang-wenang akan tetapi mereka mendakwahi terlebih dahulu setelah itu menetralisir jimatnya. Jika jimat itu dalam bentuk cincin maka ketika sudah netral si cincin masih boleh dikenakan sedangkan non-Aswaja langsung menganggap hal itu sebagai syirik. Intinya ruqyah non-Aswaja selalu menganggap negatif kepada mereka yang misalnya ikut pencak silat, pengamal hijb, aurad dalail, rajah dan lainya sedangkan di ruqyah Aswaja justru malah dirangkul dan diedukasi agar tidak salah jalan.

Dalam penuturan tersebut ruqyah sesungguhnya mendeteksi mana penyakit dalam dan luar, yang disebabkan secara medis atau gangguan jin mahluk halus. Penyakit melalui ruqyah dan dalam alquran disebutkan salah satunya karena terlalu jengkel, mudah marah, sedih, emosi tidak terkontrol, soal kepemilikan harta, makanan dan lainya. Hal-hal itulah yang menyebabkan penyakit pada tubuh manusia sehingga perlulah kita berkaca pada diri sendiri bahwa kesehatan itu mahal harganya.

Dalam sebuah riwayat tafsir ada yang mengatakan bahwa tidak semua ayat al qur'an bisa sebagai ruqyah akan tetapi kita bisa meruqyah diri sendiri atau orang lain lewat petunjuk yang ada. Kita juga perlu media misalnya lewat perantara air dengan bacaan tertentu. Ruqyah tentu semakin ilmiah ketika hasil penelitian Masaru Emoto dari Jepang bahwa partikel air akan berubah ketika ia dibacakan sesuatu bacaan. Jika air itu dibacakan al qur'an maka air tersebut berubah kristalnya dan bisa menjadi pertikel positif bisa sebagai penyembuhan.

the woks institute l rumah peradaban 18/6/21


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...