Langsung ke konten utama

Belajar Pada Pohon Kurma




Woks

Di Indonesia barangkali pohon pisang, bambu, mangga dan pepaya bisa dijumpai dengan mudah. Berbeda lagi di jazirah Arab kurma menjadi buah utamanya. Karena jazirah Arab didominasi padang pasir maka kurma menjadi buah pemersatu. Berbeda dengan Indonesia yang tiap daerah memiliki buah endemik tersendiri. Lewat tulisan ini mari kita belajar pada kurma, buah primadona yang selalu dijumpai ketika Ramadhan tiba.

Kurma memiliki posisi yang krusial di jazirah Arab sehingga selain mata air kepemilikan pohon kurma adalah segalanya. Selain anggur, delima, gandum, kayu siwak, zaitun, unta dan minyak, kurma berada di posisi khusus bangsa Arab. Jika di Indonesia kurma masih berfamili dengan kelapa, lontar, palem, aren, nipah, dan pohon sagu. Tentu kita akan belajar dari pohon dan buah kurma yang khas itu. Kita juga tahu kandungan kurma kaya akan mineral, minyak, kalsium, sulfur, besi, kalium dan fosfor.

Dalam tradisi Budha pohon beringin sangat dihormati karena dulu pohon itu dianggap sebagai Bodhi. Bodhi adalah pohon yang dipercaya menjadi peneduh bagi Sidharta Gautama ketika dalam pertapaan. Dalam Islam kurma juga istimewa di mana dulu Siti Maryam melahirkan bayi Isa di bawah pohon dan pelepahnya. Bahkan Siti Maryam saat detik-detik melahirkan diperintahkan makan buah kurma. Kisah lain yang berkaitan dengan kurma juga sering dijumpai di antaranya kisah sebatang pohon kurma yang menangis karena rindu pada Nabi Muhammad SAW. Atau kisah buah kurma dan bijinya menjadi lelucon antara Rasulullah SAW dengan menantunya Ali bin Abi Thalib.

Tidak hanya cerita, dalam kesehatan dijelaskan bahwa makan beberapa buah kurma bagi ibu hamil dapat memperkuat dinding rahim dan mengurangi resiko pendarahan saat melahirkan. Tidak salah juga Nabi Muhammad SAW menganjurkan untuk makan kurma saat berbuka puasa. Kurma memang menjadi makanan yang hanya perlu 30 menit saja untuk dicerna tubuh.

Dalam tafsir Ilmi yang disusun oleh Kemenag RI disebutkan bahwa kurma atau an nakhl tercatat ada 20 kata. Empat di antaranya berisi tentang peringatan akan sifat buruk manusia, peringatan keraguan atas eksistensi Tuhan dan peringatan akan mempersekutukan Tuhan. Sembilan ayat lainnya bicara tentang pembagian rezeki dalam berbagai bentuk. Tiga ayat lainnya menjelaskan tentang teknologi dalam hal ini adalah fermentasi. Dua ayat terakhir berisi tentang kisah Siti Maryam dan Nabi Isa.

Salah satu yang menjadi pelajaran dari kurma adalah pohonnya. Masih dari tafsir Ilmi dijelaskan bahwa pohon kurma berdiri tegak, tinggi menjulang dan buahnya banyak. Kurma adalah anugerah karena ia pohon yang tetap kuat walaupun berada di tengah padang pasir. Kurma memiliki keistimewaan untuk beradaptasi pada suhu ekstrim dan akarnya kuat bertahan dari hempasan badai padang pasir.

Secara filosofis tipe persatuan di daerah padang pasir mudah dihempas badai. Akan tetapi ketika persatuan benar-benar diwujudkan bangsa Arab akan lebih kuat. Hal itu terbukti di mana suku Quraisy adalah salah satu bangsa yang cerdas dan mampu menguasai banyak hal utamanya politik dan niaga. Mereka seperti halnya pohon kurma, berdiri tegak lurus kuat akan pendiriannya. Dalam hal aqidah jika mereka sudah yakin maka sulit tergoyahkan. KH Maemun Zubair juga pernah mengatakan bahwa persatuan umat Islam ibarat pohon kurma yang cita-cita tinggi menjulang dan akarnya saling menguatkan.

Demikianlah sekilas pelajaran yang dapat kita petik dari pohon kurma. Walaupun kurma jarang disebut dalam bahasa sastra setidaknya kurma tidak kalah dari anggur. Bisa jadi kurma dihadirkan Allah di tengah gurun pasir hanya untuk pelajaran bagi setiap bangsa. Kurma sengaja diturunkan Allah dari surga untuk umat manusia.

Bahan bacaan :
Tafsir Ilmi, Tumbuhan dalam Perspektif Al Qur'an dan Sains, Lajnah Pentashih Al Qur'an Balai Litbang Kemenag RI, September 2011. Hlm 70-81.

the woks institute l rumah peradaban 25/5/23

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...