Langsung ke konten utama

Pesan Santri Sepuh Untuk Kemajuan (1)




Woks

Di pondok hidup bersama santri lawas biasanya diperlukan sebagai penyeimbang. Santri lawas digunakan sebagai panutan setidaknya dalam pengalaman. Jadi di sebuah pondok pesantren komposisi santri harus bervariasi. Tujuannya sederhana yaitu agar pondok menjadi media pembelajaran kehidupan. Memang sejak dulu pesantren adalah miniatur masyarakat. Dengan mondok berarti kita tengah belajar menjadi masyarakat.

Kehadiran santri lawas memang menarik untuk diamati. Salah satunya soal sebutan yang berkembang di pesantren. Santri lawas atau juga santri sepuh sering dipanggil Mbah. Karena saking lamanya mondok. Entah bagaimana yang jelas santri sepuh selalu memiliki pandangan khusus terkait kehidupan. Barangkali karena faktor X dan pengalaman hidup yang membuat tahu lebih dulu dari juniornya.

Di PPHS tempat kami menimba ilmu ada seorang santri sepuh. Barangkali ia menang secara usia, pengalaman dan pengetahuan. Sehingga darinya kita belajar akan arti kehidupan yang sesungguhnya. Beberapa hal dapat dipelajari darinya yaitu melalui pesan yang biasanya dilontarkan ketika ada perkumpulan. Beberapa hal tersebut di antaranya:

Bab hati dan niat harus sinkron tidak boleh berseberangan. Dalam hal pemikiran mungkin masih bisa dikompromikan namun soal niat dan hati harus satu paket. Hati adalah juru kemudi sedangkan niat adalah konten utamanya. Jangan sampai salah niat. Jika kita seorang santri maka niat menimba ilmu adalah yang utama. Sedangkan khidmah dan hal ini menjadi bagian dari keharusan sejarah.

Belajar dengan tekun adalah kunci kesuksesan. Di sekitar kita mungkin banyak orang pintar tapi sedikit orang yang cerdas. Orang pintar hanya mengukur sesuatu berdasarkan kuantitas akan tetapi orang cerdas melihat sesuatu berdasarkan kualitas. Dalam konteks dunia santri diperlukan pembelajaran sepanjang masa. Artinya bahwa mental belajar perlu dibangun sejak dini. Orang yang lebih menghargai proses ketimbang hasil. Sehingga dari itu orang lebih menikmati suatu perjalanan daripada berpikir kapan sampai. Kita memang perlu menghayati apa yang disebut Prof Ngainun Naim, wong kudu sinau tekun insyaallah bakal tekan najan to nggo teken (orang harus belajar ketekunan, insyaallah akan sampai walaupun berjalan dengan dipapah tongkat).

Mengulang pelajaran adalah kewajiban, di pesantren dikenal dengan istilah muthala'ah. Mengulang pelajaran berarti ada upaya mencatat dan tradisi membaca kembali. Hal tersebut sangat penting bagi santri utamanya mempelajari ilmu yang sedikit njlimet. Setelah tradisi membaca dan mencatat sudah dilakukan maka ilmu harus ditransmisikan menjadi laku. Maka mondok itu bukan soal lamanya waktu tapi soal upaya mengamalkan ilmu walaupun setahap demi setahap. Di sinilah tantangan seorang santri agar tetap belajar walaupun esok berstatus boyong dari pondok. Intinya harus terus mengaji, dan belajar tiada henti. Seorang guru mengatakan bahwa santri yang tidak mau mengaji maqamnya la yamutu wala yahya, tidak bermutu dan hanya menghabiskan biaya.

Riyadhoh adalah mengolah sesuatu yang bersifat spiritual. Bagi seorang santri yang memahami dunia pesantren tentu sangat familiar dengan istilah riyadhoh. Istilah yang akan terus menyambungkan antara guru dan murid. Riyadhoh bisa apa saja yang terpenting sudah diijazahkan oleh guru. Dengan riyadhoh seorang murid akan selalu mengingat pesan gurunya. Lewat jalur itu pula ilmu akan ditransfer. Karena bagaimanapun juga riyadhoh adalah upaya penempaan yang dhohir dan batin. Dengan begitu santri tak khawatir untuk terbawa arus zaman yang melenakan.

Mengambil tradisi baru yang baik dan tidak melupakan tradisi lama yang mashlahah. Ajaran tersebut perlu diperhatikan oleh santri karena bagaimanapun kita tak boleh tertinggal dari kemajuan. Kita hanya perlu memiliki prinsip menguasai zaman dan tanpa harus terbawa arus. Bagaimanapun juga perkembangan zaman adalah keniscayaan. Maka perlu menanamkan sejak dini bahwa masa kini dilahirkan karena masa lalu. Jadi kemarin, hari ini dan hari esok adalah pelajaran berharga. Kita akan terus belajar sesuai dengan zamannya.

the woks institute l rumah peradaban 7/5/23

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...