Langsung ke konten utama

Bersama Dengan Masalah

Woko Utoro 

Dalam hidup yang tidak kita inginkan adalah bertemu dengan masalah. Pernyataan tersebut tentu mustahil sebab hidup itu sendiri adalah masalah. Hal terpenting adalah bagaimana masalah bisa teratasi saat kedatangannya. Sejak awal tabiat manusia adalah ingin menghindar dari tekanan dan masalah. Padahal keinginan tersebut adalah tidak sepenuhnya benar.

Menurut Mbah Nun, hidup pasti menemukan masalah. Yang terpenting kita jangan membuat masalah. Hidup juga jangan takut dengan masalah. Justru masalah adalah nikmat. Orang dengan masalah pasti hidupnya terasa hidup. Karena dalam masalah terselip penekanan. Hingga akhirnya menjadi hikmah yang tidak pernah kita sadari. Dalam tekanan tersebut orang berusaha bagaimana cara keluar dari masalah. Misalnya mereka ikhtiar dan berdo'a kepada Allah SWT. Itu adalah cara agar kita bisa lebih dekat dengan Nya.

Masalah dan tekanan justru cara mendewasakan diri. Lewat cara itu Tuhan akan tahu seberapa kuat diri kita. Kekuatan itu bukan terletak pada otot atau sebentar mampu kita membayar sesuatu. Tapi kekuatan tersebut justru hadir ketika kita tetap bertahan dan menikmati momen dalam masalah tersebut. Jika kita terbiasa dalam problem solving maka di sanalah kesetiaan lahir. Kata Robert Greene yang membunuh kita bukan stres tapi rasa bosan. Di sinilah justru tekanan dibutuhkan agar kita terus berpikir. Orang berpikir tandanya hidup. Maka dari itu jangan sampai kita terjebak oleh hal-hal yang sebenarnya melemahkan.

Kita harus berjanji untuk menjadi hidup dengan sederhana. Dengan kata dan ucapan yang selaras. Seperti akar yang membuat pohon kuat karena cengkraman. Kita harus setia dalam kondisi apapun. Dengan kalimat dan tulisan yang membuat kita ada. Seperti udara yang tak pernah bosan hadir bersama kita walaupun berulang kali dicemari. Inilah hidup di mana hanya para petualang lah yang dapat menaklukkannya. Kita tak dibentuk untuk sempurna tapi setia ketika yang lain memilih menyerah.[]

the woks institute l rumah peradaban 1/1/26

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Catatan Lomba Esai Milad Formasik ke-14 II

Woko Utoro Dalam setiap perlombaan apapun itu pasti ada komentar atau catatan khusus dari dewan juri. Tak terkecuali dalam perlombaan menulis dan catatan tersebut dalam rangka merawat kembali motivasi, memberi support dan mendorong untuk belajar serta jangan berpuas diri.  Adapun catatan dalam perlombaan esai Milad Formasik 14 ini yaitu : Secara global tulisan mayoritas peserta itu sudah bagus. Hanya saja ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Terutama soal ketentuan yang ditetapkan oleh panitia. Rerata peserta mungkin lupa atau saking exited nya sampai ada beberapa yang typo atau kurang memperhatikan tanda baca, paragraf yang gemuk, penggunaan rujukan yang kurang tepat dll. Ada yang menggunakan doble rujukan sama seperti ibid dan op. cit dll.  Ada juga yang setiap paragrafnya langsung berisi "dapat diambil kesimpulan". Kata-kata kesimpulan lebih baik dihindari kecuali menjadi bagian akhir tulisan. Selanjutnya ada juga yang antar paragraf nya kurang sinkron. Se...

Catatan Lomba Esai Milad Formasik ke-14 I

Woko Utoro Senang dan bahagia saya kembali diminta menjadi juri dalam perlombaan esai. Kebetulan lomba esai tersebut dalam rangka menyambut Milad Formasik ke-14 tahun. Waktu memang bergulir begitu cepat tapi inovasi, kreasi dan produktivitas harus juga dilestarikan. Maka lomba esai ini merupakan tradisi akademik yang perlu terus dijaga nyala apinya.  Perasaan senang saya tentu ada banyak hal yang melatarbelakangi. Setidaknya selain jumlah peserta yang makin meningkat juga tak kalah kerennya tulisan mereka begitu progresif. Saya tentu antusias untuk menilainya walaupun disergap kebingungan karena terlalu banyak tulisan yang bagus. Setidaknya hal tersebut membuat dahaga ekspektasi saya terobati. Karena dulu saat saya masih kuliah mencari esais itu tidak mudah. Dulu para esais mengikuti lomba masih terhitung jari bahkan membuat acara lomba esai saja belum bisa terlaksana. Baru di era ini kegiatan lomba esai terselenggara dengan baik.  Mungkin ke depannya lomba kepenul...