Langsung ke konten utama

Menempuh Jalan Baru

Woko Utoro

Kabar Epy Kusnandar meninggal saya tidak kaget. Pemeran Kang Mus dalam serial Preman Pensiun tersebut memang sudah lama mengidap tumor otak stadium IV. Sebuah penyakit mematikan dan belum ditemukan obatnya. Bahkan dokter sebenarnya sudah wanti-wanti jika usianya di masa injury time. Hanya saja siapa yang tahu semua karena kehendak Allah SWT. Epy masih bertahan dan terus berkarya. Bahkan di sisa hidupnya Epy masih berjuang dengan Jukut Goreng Samali nya.

Walaupun demikian saya merasa kehilangan. Pasalnya Epy Kusnandar adalah pesohor yang keren. Salah satunya populer lewat peran Kang Muslihat sang tangan kanan Kang Bahar. Jika anda penikmat sinetron Preman Pensiun tentu Epy lah salah satu yang ditunggu. Epy memang bukan talenta biasa. Ia bahkan sempat kuliah di Institut Kesenian Jakarta (1989) dan mengikuti panggung pantomim.

Seperti dalam banyak keterangan Epy melewati banyak peran dengan baik. Bahkan ia terlibat dalam peran di sinetron maupun layar lebar. Tapi yang paling mengena tentu sinetron Preman Pensiun (2014). Yang paling dikenang publik yaitu Preman Pensiun 2 edisi terakhir di mana Kang Bahar memutuskan pensiun dari bisnis sebagai penguasa pasar. Kata Kang Bahar setelah berpamitan pada anak buahnya:

"Akang akan menempuh jalan baru. Sekarang kamu bukan tangan kanan Akang lagi. Kamu keluarga Akang. Kamu bisa datang ke rumah kapanpun. Kamu bisa menjenguk Akang, adik-adik, anak dan cucu", kata Kang Bahar.

Lalu Kang Mus, berkaca-kaca sambil berkata, "Kang saya mau ikut Akang menempuh jalan baru".

Kang Bahar pun memegang kepala Kang Mus, dengan tegas ia mengatakan. "Kamu punya jalan sendiri".

Scene dalam sinetron Preman Pensiun 2 tersebut menguras emosi penonton. Seperti yang kita tahu kini para pemeran sinetron yang shooting di Bandung itu dalam dunia nyata sudah berpulang. Kita tahu Kang Bahar, Murad, Pipit, Gobang dll dan kini Kang Mus alias Epy Kusnandar giliran menyusul mereka. Mereka semua telah-telah benar-benar pensiun dan menghadap sang pencipta. Husnul khatimah para Akang semua. Lahumul Fatihah.

the woks institute l rumah peradaban 4/12/25

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Hierarki Rasa Menerbitkan Buku Perspektif Psikologi

Woks Bagaimana rasanya menulis, bagaimana rasanya jika tulisan tersebut dibukukan, terbit, beredar ke muka umum hingga tiba di hati pembaca. Tentu segala rasa itu sangat subjektif tapi sedikitnya bisa dijabarkan walaupun setiap orang punya pengalaman tersendiri. Saya punya 3 pendapat bagaimana rasanya punya buku dan sampai dibaca oleh orang lain. Secara psikologis hal itu dapat kita jabarkan secara singkat. Secara hierarkis 3 tingkatan rasa tersebut bisa kita lihat dari sejak kehadiran buku pertama hingga buku ke sekian. Pertama, akan muncul rasa bangga, senang, haru, campur aduk bahkan agak sedikit pamer atau semi-semi riya. Akan tetapi di fase ini penulis masih belum hilang rasa mindernya karena kepercayaan diri belum terbangun seutuhnya. Rasa percaya diri hanya terbangun untuk menerbitkan saja sehingga godaan untuk konsisten menulis bisa dilihat di sini. Fase ini biasanya terjadi pada buku pertama, bahkan buku antologi alias buku keroyokan pun jika lahir pertama begitu nampak berha...

Tuan Krabb, Uang dan Ajaran Zuhud

             ( Sumber gambar canva.com) Woks Jika anda penikmat serial kartun Spongebob Squarepants tentu tak asing dengan tokoh Eugene H. Krabs atau biasa disapa tuan Krab. Ia adalah tokoh kartun dengan jenis kepiting. Ia merupakan majikan dari Spongebob dan Squidward, pemilik restoran cepat saji paling terkenal selautan yaitu Krusty Krabs. Restoran yang menyajikan Krabby Patty alias Burger itu selalu berseteru dengan saingan utamanya yaitu Seldon Plankton. Tapi bukan itu yang dibahas, melainkan perilaku dari sang pemilik restoran yaitu tuan Krabs. Tuan Krab seperti judul tulisan ini ialah sosok yang digambarkan sebagai pecinta uang. Bahkan kecintaan kepada uang melebihi sayangnya pada anak semata wayangnya yaitu Pearl. Stephen Hillenburg sebagai pencipta tokoh kartun tersebut begitu ciamik dalam menyajikan karakter pada tokoh tuan Krab tersebut. Ia bahkan berhasil menciptakan penonton yang membuat gemas saat tuan Krab kikir terhadap karya...