Langsung ke konten utama

Kembali Ke Rumah

Woko Utoro

Saya selalu bahagia ketika bertemu teman-teman yang ingin belajar menulis. Walaupun niat mereka mungkin formalitas tapi setidaknya minimal sudah berupaya. Dalam bahasa sederhana mau saja sudah syukur lebih lagi mampu mengaplikasikan. Saya selalu bilang pada teman-teman bahwa menulis itu mudah asal mau saja pasti bisa. Hanya saja pertanyaan berkembang apa yang ditulis dan untuk apa tulisan tersebut.

Saya menjelaskan bahwa tulisan ilmiah sulit diakses oleh orang awam. Bukan karena mereka tidak memiliki akses lebih tepatnya soal butuh. Butuh atau tidaknya itulah yang jadi faktor mengapa tulisan ilmiah hanya berada di menara gading. Maka dari itu jika ingin dekat dengan masyarakat menulislah versi populer. Tulisan populer memungkinkan kita lebih dekat dengan masyarakat karena praktisnya. Itu sebabnya kita harus belajar mengubah tulisan ilmiah ke populer atau sebaliknya.

Pertanyaan teman-teman sejak dulu sama. Pengalaman saya mengisi acara pertanyaan yang muncul itu-itu saja. Misalnya bagaimana cara menulis ketika kehilangan ide. Bagaimana tips agar tulisan kita enak dibaca. Atau bagaimana pengalaman saya agar dapat menulis tiap hari. Sebenarnya sederhana saja. Kata saya dari para sesepuh literasi berkata bahwa menulis hanya soal latihan tiap hari. Latihan tersebut harus diimbangi dengan membaca. Jadi tak ada jawaban lain alias mutlak bahwa menulis ya harus membaca.

Problem kita hari ini adalah enggan membaca. Padahal buku dan sarana internet sudah lebih dari cukup sebagai bahan menulis. Kita mungkin bukan malas lebih tepatnya tidak ingin. Kita masih bingung untuk apa menulis. Jika orientasi keuntungan material mungkin menulis hanya bunga waktu. Padahal ada banyak hal yang kita dapatkan dari tradisi keberaksaraan tersebut. Inilah pentingnya kita pulang ke rumah. Pulang dalam arti kembali membaca. Jadikan bacaan sebagai rumah pertama untuk memahat pengetahuan. Jika kita malas membaca maka rumah ibarat bangunan kosong. Lebih lagi tak menulis maka rumah hanya seonggok bangunan biasa.[]

the woks institute l rumah peradaban 8/12/25

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Catatan Lomba Esai Milad Formasik ke-14 II

Woko Utoro Dalam setiap perlombaan apapun itu pasti ada komentar atau catatan khusus dari dewan juri. Tak terkecuali dalam perlombaan menulis dan catatan tersebut dalam rangka merawat kembali motivasi, memberi support dan mendorong untuk belajar serta jangan berpuas diri.  Adapun catatan dalam perlombaan esai Milad Formasik 14 ini yaitu : Secara global tulisan mayoritas peserta itu sudah bagus. Hanya saja ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Terutama soal ketentuan yang ditetapkan oleh panitia. Rerata peserta mungkin lupa atau saking exited nya sampai ada beberapa yang typo atau kurang memperhatikan tanda baca, paragraf yang gemuk, penggunaan rujukan yang kurang tepat dll. Ada yang menggunakan doble rujukan sama seperti ibid dan op. cit dll.  Ada juga yang setiap paragrafnya langsung berisi "dapat diambil kesimpulan". Kata-kata kesimpulan lebih baik dihindari kecuali menjadi bagian akhir tulisan. Selanjutnya ada juga yang antar paragraf nya kurang sinkron. Se...

Catatan Lomba Esai Milad Formasik ke-14 I

Woko Utoro Senang dan bahagia saya kembali diminta menjadi juri dalam perlombaan esai. Kebetulan lomba esai tersebut dalam rangka menyambut Milad Formasik ke-14 tahun. Waktu memang bergulir begitu cepat tapi inovasi, kreasi dan produktivitas harus juga dilestarikan. Maka lomba esai ini merupakan tradisi akademik yang perlu terus dijaga nyala apinya.  Perasaan senang saya tentu ada banyak hal yang melatarbelakangi. Setidaknya selain jumlah peserta yang makin meningkat juga tak kalah kerennya tulisan mereka begitu progresif. Saya tentu antusias untuk menilainya walaupun disergap kebingungan karena terlalu banyak tulisan yang bagus. Setidaknya hal tersebut membuat dahaga ekspektasi saya terobati. Karena dulu saat saya masih kuliah mencari esais itu tidak mudah. Dulu para esais mengikuti lomba masih terhitung jari bahkan membuat acara lomba esai saja belum bisa terlaksana. Baru di era ini kegiatan lomba esai terselenggara dengan baik.  Mungkin ke depannya lomba kepenul...