Langsung ke konten utama

Postingan

Membaca Gus Dur dalam Narasi Moderasi dan Pandemi

Woks Pada 14 Muharram 1443 H tepat 12 tahun berpulanganya KH. Abdurrahman Wahid atau dikenal dengan Gus Dur versi hitungan hijriyah dan kini sudah di 30 Desember bulan Gus Dur berpulang. Waktu tersebut tentu menarik kembali ingatan banyak orang betapa rindunya pada sosok pejuang kemanusiaan tersebut. Beliau memang telah banyak berkontribusi bagi keberlangsungan hidup masyarakat Indonesia sehingga ajarannya selalu relevan meski zaman silih berganti. Saat ini keadaan pandemi tentu Gus Dur tidak menjumpainya akan tetapi ada beberapa hal yang dapat kita tuangkan menjadi gagasan Gus Dur yang tidak cepat usang. Gus Dur telah membuktikan bahwa keberagamaan bangsa Indonesia harus terus dipupuk dan dipertahankan. Hal itu terbukti dari jargon, "yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan" bukan sekadar jargon tapi justru menjadi laku hidup beliau. Kita tentu tahu bahwa prolematika masyarakat justru sangat mudah ditemui pada umat beragama. Karena landasan teologis berbeda seseora...

Jagong Gayeng bersama Ustadz Fahyuddin

Woks Baru pertama ini aku bertemu beliau. Di tahun-tahun sebelumnya sangat sulit sekali bertemu dengan beliau. Ya, Ustadz Fahyuddin begitulah nama yang tak asing di lingkup Yayasan Nurul Hikmah Haurgeulis. Beliau merupakan menantu dari KH. Mukhtar Dahlan muassis Yayasan Nurul Hikmah Haurgeulis. Dari dulu hingga kini beliau tetap berposisi sebagai sekretaris yayasan. Di suasana malam yang dingin itu aku mencatat banyak hal dari diskusi bersama beliau. Pertama , dalam menghadapi hidup itu kita harus sabar. Kesabaran tentu kita tahu bahwa itu sikap yang sulit untuk diterapkan apalagi jika sudah dihadapkan dengan masalah. Di sanalah kesabaran akan nampak berharga. Selain itu keikhlasan adalah kunci utama. Jangan sampai perjuangan dan pengorbanan kita sia-sia cuma karena kita belum ikhlas. Maka dari itu keikhlasan adalah esensi dari ibadah yang ternilai. Kedua , jika masalah sudah ada di hadapan kita segeralah meminta solusi kepada Allah bahkan sebelum masalah itu ada. Berserah dan berpasr...

Ziarah Ke Makam Kiai Muiz Ali

Woks Siang itu aku bergegas menemui seorang teman untuk minta diantar ke makam Kiai Muiz. Langsung saja setelah ku temui temanku itu ia sangat bersedia. Temanku bernama Mar'isyam dan adiknya Akbar Riziq. Mar'isyam langsung bergegas tancap gas menuju ke makam beliau dan memang bertepatan di belakang rumah. Sesampainya di sana kami disambut oleh Mba Afroh dan ibu. Dua buah gelas kopi dan biskuit sudah menemani berbincang kita. Dengan tanpa sedih dan mencoba terus sumringah ibu bercerita bahwa kepergian bapak memang tidak terduga bahkan tidak ada isyarat khusus yang beliau rasakan. Akan tetapi kenangan bersama bapak tentu tak bisa dilupakan baik oleh keluarga maupun para siswa dan jamaahnya. Bapak memang tipe orang yang sederhana, humoris dan apa adanya. Tidak hanya itu beliau juga romantis. Suatu ketika beliau berseloroh kepada ibu, "Bu, bidadari ada 40 lhoo nanti buat bapak semua". Bapak mencoba membuat ibu cemburu, lantas ibu menjawab "Ya biarin pak, nanti juga 4...

Review Buku Matinya Kepakaran Karya Tom Nichols

Woks Siapa yang disebut pakar itu? apakah setiap orang bisa disebut pakar karena keahlianya. Misalnya para profesor apakah disebut pakar karena telah menemukan berbagai teori dan penemuan. Bisa jadi mereka disebut pakar karena telah lebih concern ketimbang kita yang merasa serba tahu. Dalam buku Matinya Kepakaran yang disebut pakar yaitu mereka secara pendidikan mencapai puncak dan konsentrasinya, lalu mereka memiliki bakat dalam bidang yang digelutinya, telah melewati panjangnya pengalaman dan mendapat pengakuan dari orang lain. Jadi di luar itu pakar hanya ilusi alias bisa diklaim sepihak oleh siapa saja. Hal itulah yang terjadi di media sosial dewasa ini. Bagi Nichols para pengguna media sosial itu sudah kelewat batas misalnya soal pilihan kata, masih banyak orang yang menyebut orang lain bodoh ketimbang tidak tepat. Di dunia kampus pun demikian tak ubahnya seperti toko yang berjualan. Nichols mengkritik guru yang kaku bahwa mereka benar dan murid salah. Juga termasuk kampus yang ...

Muktamar NU Dalam Catatan

Woks Dalam perdiskusian panjang perhelatan muktamar NU selalu menjadi topik menarik sekaligus sorotan baik media dalam maupun luar negeri. NU dan sejarahnya memang selalu asyik disimak karena organisasi ini sudah antik sejak didirikan tahun 1926 tersebut. Salah satu keunikan NU dalam perhelatan muktamar ada sebuah pernyataan yang saya dengar bahwa muktamar di luar Jawa akan selalu sejuk dan adem. Berbeda muktamar yang dihelat di pulau Jawa suhu ketegangannya benar-benar sangat terasa. Salah satu sumbu ketegangan muktamar bisa kita ingat pada waktu muktamar ke-33 di Jombang. Bahkan saking tegangnya Pjs Rais Aam KH. Mustofa Bisri sampai berkata apa perlu menciumi satu persatu kaki muktamirin yang sulit meredam emosinya. Begitulah muktamar dan pernak perniknya. Yang jelas dalam muktamar ke-34 di Lampung juga tak kalah menariknya untuk dicermati. Tentu perhelatan muktamar sejak awal NU berdiri hingga kini memiliki kekhasanya tersendiri. Dulu sejak 1926 hingga menjelang kemerdekaan muktamar...

Hari Ibu Yang Diperdebatkan

Woks Di Indonesia setiap memperingati hari tertentu pasti ada saja sesuatu yang ramai. Keramaian itu minimal terdapat komentar miring seputar momen peringatan hari tersebut. Misalnya saja tiap tahun kita tak pernah usai berdebat soal ucapan selamat natal setiap tanggal 25 Desember termasuk 22 Desember hari ibu kemarin. Misalnya seseorang dengan sinis mengatakan, "hari ibu kok tanggal 22, hari ibu itu setiap hari". Sebenarnya tidak salah ungkapan tersebut cuma apa salahnya jika kita memperingati hari tersebut. Kadang orang yang sinis tersebut pun belum tentu melakukan hal-hal baik untuk ibunya di setiap harinya. Hal itu hanya dalih ketidaksukaan karena momen peringatan hari-hari tersebut dibuat oleh orang non-muslim. Sebenarnya tidak salah memperingati hari ibu setiap tanggal 22 Desember tersebut. Salah satunya pesan dari Ustadz Nuryani seorang pendidik Bahasa Arab di UIN Tulungagung berkata bahwa setiap hari adalah hari ibu tapi hari ini titik tolak untuk mengingatkan yang al...

Perlukah Kita Mempercayai Sains?

Woks Di awal tahun 2021 kita sempat geger sekaligus asyik dengan perdebatan menarik seputar sains yang melibatkan para pesohor di laman Facebook. Mereka saling memberi argumen sekaligus menganulir berbagai hal mengenai mispersepsi soal pandemi secara umum. Orang-orang itu di antaranya budayawan adiluhung Gunawan Mohamad (GM), AS. Laksana, Ulil Abshar Abdalla, Hamid Basyaib, FK. Sitorus, F. Budi Hardiman hingga si bungsu Taufiqurrahman. Tulisan ini tentu berangkat dari judul e-book si bungsu Taufiqurrahman yang berjudul "Mengapa Sains Layak Dipercaya?" (Antinomi, 2021). Dari beberapa nama yang disebutkan tentu Taufiqurrahman adalah pendatang baru akan tetapi beberapa tulisanya yang juga mengkritik GM dan Ulil barangkali tidak bisa dianggap remeh. Ia mengkritik GM yang menaruh kecurigaan berlebihan terhadap sains, ingin memberi ruang pada misteri dan karena alasan gaya tulisanya yang selalu mencuplik tokoh dan ketokohan "cherry picking" itu hanya sekadar legitimasi g...