Langsung ke konten utama

Sowan Pak Munir dan Pamitan

Woko Utoro

Malam itu saya bertemu Pak Munir di warkop utara POM Rejoagung. Awalnya saya ingin bertemu di rumah tapi ternyata bertepatan dengan jadwal ngaji istri beliau. Akhirnya warkop menjadi pilihan utama. Sembari menunggu Bu Ikfi ngaji saya pun berbincang dengan Pak Munir.

Kami berbincang sekitar satu setengah jam. Waktu yang terbatas tentunya. Karena malam itu saya sudah ditunggu teman di pondok. Akhirnya seperti biasa Pak Munir cerita tentang organisasi dan masa depan. Dalam perbincangan itu beliau sudah tahu maksud tujuan saya. Dan memang saya berniat pamit ke beliau untuk boyong dari Tulungagung.

Dalam perbincangan itu Pak Munir berpesan untuk terus mengasah diri. Karena skill jika tidak diasah akan tumpul. Tekuni terus kemampuan yang kita miliki sampai mahir. Jika sudah beridentitas tentu orang akan mencari sendiri. Selanjutnya jangan lupa terus berkoneksi. Karena koneksi itu tidak tahu kapan akan bertemu.

Hadapilah segala sesuatu dengan sabar dan tawakal. Karena setiap rumah tangga di awal pasti memiliki ujian yang serupa. Tinggal bagaimana kita menyikapinya. Sebab setiap problem hanya tentang sudut pandang. Jika kita bersikap baik insyaallah selalu ada jalan keluarnya.

Terakhir Pak Munir mendoakan semoga dimanapun tempat selalu dalam lindungan Allah, diberikan kesehatan, kemudahan dan dipertemukan dengan kesuksesan.[]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Hierarki Rasa Menerbitkan Buku Perspektif Psikologi

Woks Bagaimana rasanya menulis, bagaimana rasanya jika tulisan tersebut dibukukan, terbit, beredar ke muka umum hingga tiba di hati pembaca. Tentu segala rasa itu sangat subjektif tapi sedikitnya bisa dijabarkan walaupun setiap orang punya pengalaman tersendiri. Saya punya 3 pendapat bagaimana rasanya punya buku dan sampai dibaca oleh orang lain. Secara psikologis hal itu dapat kita jabarkan secara singkat. Secara hierarkis 3 tingkatan rasa tersebut bisa kita lihat dari sejak kehadiran buku pertama hingga buku ke sekian. Pertama, akan muncul rasa bangga, senang, haru, campur aduk bahkan agak sedikit pamer atau semi-semi riya. Akan tetapi di fase ini penulis masih belum hilang rasa mindernya karena kepercayaan diri belum terbangun seutuhnya. Rasa percaya diri hanya terbangun untuk menerbitkan saja sehingga godaan untuk konsisten menulis bisa dilihat di sini. Fase ini biasanya terjadi pada buku pertama, bahkan buku antologi alias buku keroyokan pun jika lahir pertama begitu nampak berha...

Tuan Krabb, Uang dan Ajaran Zuhud

             ( Sumber gambar canva.com) Woks Jika anda penikmat serial kartun Spongebob Squarepants tentu tak asing dengan tokoh Eugene H. Krabs atau biasa disapa tuan Krab. Ia adalah tokoh kartun dengan jenis kepiting. Ia merupakan majikan dari Spongebob dan Squidward, pemilik restoran cepat saji paling terkenal selautan yaitu Krusty Krabs. Restoran yang menyajikan Krabby Patty alias Burger itu selalu berseteru dengan saingan utamanya yaitu Seldon Plankton. Tapi bukan itu yang dibahas, melainkan perilaku dari sang pemilik restoran yaitu tuan Krabs. Tuan Krab seperti judul tulisan ini ialah sosok yang digambarkan sebagai pecinta uang. Bahkan kecintaan kepada uang melebihi sayangnya pada anak semata wayangnya yaitu Pearl. Stephen Hillenburg sebagai pencipta tokoh kartun tersebut begitu ciamik dalam menyajikan karakter pada tokoh tuan Krab tersebut. Ia bahkan berhasil menciptakan penonton yang membuat gemas saat tuan Krab kikir terhadap karya...