Woko Utoro
Banyak wali yang sudah saya ziarahi selama mukim di Tulungagung. Beliau-beliau tersebut lah yang menjadi kiblat spiritualitas selama saya menimba ilmu di sini. Hingga akhirnya saya melakukan pisowanan terakhir yaitu ke maqbarah Mbah Yai Ali Shodiq Uman PPHM Ngunut.
Ada kisah sebelum saya sowan Mbah Yai Ali. Kisah tersebut berawal dari mimpi. Setelah beberapa hari saya ziarah ke makam Mbah Fattah Mangunsari lalu Mbah Hasan Mimbar Majan. Malamnya saya bermimpi bertemu Gus Rouf (KH. Fathurrouf Sya'fii). Malam itu Gus Rouf bilang, "Lho Mas sampean ditimbali Mbah Yai Ali. Dawuh Yai, "Kok sampean ra rene le?". Dari dawuh itulah besoknya saya langsung gas ke Pondok Ngunut.
Setiba di makam Yai Ali saya membaca Yasin dan Tahlil. Selepas itu saya berdoa dan berwasilah semoga perjalanan selanjutnya dapat dilewati dengan baik. Saya juga berdo'a semoga wasilah Yai Ali dapat terus istikomah di jalur keilmuan. Seperti kita tahu Mbah Uman adalah sosok pecinta santri dan ilmu. Hingga tidak aneh jika Yai Ali menjadi alim dan berilmu.
Adapun terkait Gus Rouf di mimpi itu saya juga tidak paham. Yang jelas Gus Rouf sudah saya kenali sejak mondok di PP Panggung. Kebetulan beliau merupakan salah satu putra dari KH Syafi'i Abdurrahman. Sosok yang menjadi pecinta ilmu di tengah kota Tulungagung.
Sekian kisah singkat saya dalam berproses di Tulungagung. Terakhir semoga dari kisah ini saya mendapatkan keberkahan dari masyayikh yang saya sowani selama di Tulungagung.[]
the woks institute l rumah peradaban 2/8/26
Komentar
Posting Komentar