Langsung ke konten utama

Sowan Pak Ridho dan Pamitan

Woko Utoro 

Malam itu selepas janjian saya berencana sowan ke rumah Pak Ridho Al Qodri dan Bu Viona. Tepat di malam minggu saya tiba di rumah beliau dengan membawa dua kotak terang bulan isi pisang. Beberapa menit setiba di sana saya belum bisa menemui Pak Ridho. Ternyata beliau sedang di kebun untuk memadamkan api. Hingga beberapa menit kemudian barulah Pak Ridho datang.

Singkat kisah seperti biasa kita ngopi lalu terjadilah ngobrol. Tanpa berlama-lama saya matur ke beliau jika ingin pamit dari Tulungagung. Bukan karena alasan problem, yang jelas ini memang kebutuhan di mana saya harus pulang ke rumah istri. Dari itu akhirnya Pak Ridho memberi pesan panjang lebar kepada saya.

Kata beliau nikmati saja prosesnya. Kehidupan awal menikah memang jamak seperti itu dan setiap orang mengalaminya. Tinggal bagaimana kita terus belajar dan adaptif terhadap tradisi budaya yang berlaku. Setelah itu barulah kita menyelami kehidupan di sana bersama istri. Karena esok kita membangun rumah tangga bukan dengan yang lain melainkan bersama istri.

Selanjutnya ingat rasa hormat. Dalam hal apapun kehormatan harus dijunjung tinggi. Jangan sampai seseorang diinjak kehormatannya. Jika hal itu terjadi maka ketegasan harus diterapkan. Karena bagaimanapun juga kehormatan selalu ada pada diri setiap orang.

Jangan sampai tertipu rasa iba. Karena alasan membantu justru rasa iba itu menjebak. Rasa iba itu racun. Banyak orang yang gagal dan hancur karena jebakan rasa iba. Awalnya kasihan misalnya ingin membantu. Tapi ternyata rasa ia hanya membuat kita terlena. Kasus paling umum adalah soal hutang apalagi jika melibatkan saudara. Ini yang perlu diwaspadai.

Jangan lupa sering bermusyawarah terutama dengan istri. Karena gesekan antar keluarga itu sering terjadi. Dengan musyawarah setidaknya kita tahu bagaimana mengatur dan mencari solusi. Hidup itu tidak boleh bermain rahasia-rahasiaan. Hidup harus terbuka dan bijaksana. 

Sebagai laki-laki harus kuat dan visioner. Jangan sampai menunggu diperintah oleh orang lain. Anggap semua berjalan sesuai dengan baik dan kita optimis atas segala yang terjadi. Bagaimana pun juga laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya. Maka dari itu laki-laki dan perempuan perlu harus saling bekerja sama.[]

the woks institute l rumah peradaban 5/8/26

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Hierarki Rasa Menerbitkan Buku Perspektif Psikologi

Woks Bagaimana rasanya menulis, bagaimana rasanya jika tulisan tersebut dibukukan, terbit, beredar ke muka umum hingga tiba di hati pembaca. Tentu segala rasa itu sangat subjektif tapi sedikitnya bisa dijabarkan walaupun setiap orang punya pengalaman tersendiri. Saya punya 3 pendapat bagaimana rasanya punya buku dan sampai dibaca oleh orang lain. Secara psikologis hal itu dapat kita jabarkan secara singkat. Secara hierarkis 3 tingkatan rasa tersebut bisa kita lihat dari sejak kehadiran buku pertama hingga buku ke sekian. Pertama, akan muncul rasa bangga, senang, haru, campur aduk bahkan agak sedikit pamer atau semi-semi riya. Akan tetapi di fase ini penulis masih belum hilang rasa mindernya karena kepercayaan diri belum terbangun seutuhnya. Rasa percaya diri hanya terbangun untuk menerbitkan saja sehingga godaan untuk konsisten menulis bisa dilihat di sini. Fase ini biasanya terjadi pada buku pertama, bahkan buku antologi alias buku keroyokan pun jika lahir pertama begitu nampak berha...

Tuan Krabb, Uang dan Ajaran Zuhud

             ( Sumber gambar canva.com) Woks Jika anda penikmat serial kartun Spongebob Squarepants tentu tak asing dengan tokoh Eugene H. Krabs atau biasa disapa tuan Krab. Ia adalah tokoh kartun dengan jenis kepiting. Ia merupakan majikan dari Spongebob dan Squidward, pemilik restoran cepat saji paling terkenal selautan yaitu Krusty Krabs. Restoran yang menyajikan Krabby Patty alias Burger itu selalu berseteru dengan saingan utamanya yaitu Seldon Plankton. Tapi bukan itu yang dibahas, melainkan perilaku dari sang pemilik restoran yaitu tuan Krabs. Tuan Krab seperti judul tulisan ini ialah sosok yang digambarkan sebagai pecinta uang. Bahkan kecintaan kepada uang melebihi sayangnya pada anak semata wayangnya yaitu Pearl. Stephen Hillenburg sebagai pencipta tokoh kartun tersebut begitu ciamik dalam menyajikan karakter pada tokoh tuan Krab tersebut. Ia bahkan berhasil menciptakan penonton yang membuat gemas saat tuan Krab kikir terhadap karya...