Langsung ke konten utama

Sowan Bu Hj Roudhoh dan Pamitan

Woko Utoro

Saya memanggil beliau Bu Roudhoh tanpa title hajjah dan memang itu yang beliau mau. Ini merupakan tujuan sowan terakhir saya selama di Tulungagung. Bu Roudhoh merupakan salah satu guru perempuan saya di Tulungagung. Selama itu pula kami seperti anak dan ibu, guru dan santri bahkan sahabat.

Singkat kisah setelah janjian sekitar seminggu lalu saya bisa sowan ke ndalem beliau. Pada saat itu tepat hari Sabtu sehari sebelum saya geser dari Tulungagung. Hari itu juga saya lupa jika ada anak-anak TPQ yang mengaji. Hingga benar saja perbincangan kita sebentar saja. Tapi walaupun demikian semoga hubungan ruhaniyah kita tak pernah putus.

Saya dapat wejangan banyak dari beliau. Katanya jangan lupa tetap istiqamah untuk terus berjuang di jalan Allah di manapun tempatnya. Apalagi jika urusan agamanya Allah kita harus terus gigih syiar dan tidak boleh loyo. Dari jalan apapun perjuangan harus terus diupayakan dan semuanya semampu kita. 

Selanjutnya sebagai seorang laki-laki dan sebentar lagi saya jadi ayah. Kata Bu Roudhoh harus kuat dan semangat. Didiklah anak dan keluarga dengan baik. Jadikan mereka sebagai sumber energi. Jangan lupa jika memiliki rezeki berbagilah dengan sesama. Tidak harus banyak asalkan bermanfaat itu yang penting.

Kata beliau terimakasih atas segala yang telah saya berikan. Dan mohon maaf atas segala kesalahan selama mengenal saya. Kata saya pun demikian dan semoga kita bisa berjumpa lagi. Di sini pun saya dilarang membayar bolen yang beberapa waktu sudah dipesan. Seperti biasa itulah salah satu kebaikan dari beliau.

Kami pun saling berdo'a. Dan kata beliau semoga Allah berikan kesuksesan buat saya. Jangan khawatir dengan hari esok karena ono amben pasti ono longane. Kami pun berpelukan tanda perpisahan. Saya pun menangis kecil "Ya Allah ibu semoga kita bisa bertemu lagi".

the woks institute l rumah peradaban 5/8/26

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Hierarki Rasa Menerbitkan Buku Perspektif Psikologi

Woks Bagaimana rasanya menulis, bagaimana rasanya jika tulisan tersebut dibukukan, terbit, beredar ke muka umum hingga tiba di hati pembaca. Tentu segala rasa itu sangat subjektif tapi sedikitnya bisa dijabarkan walaupun setiap orang punya pengalaman tersendiri. Saya punya 3 pendapat bagaimana rasanya punya buku dan sampai dibaca oleh orang lain. Secara psikologis hal itu dapat kita jabarkan secara singkat. Secara hierarkis 3 tingkatan rasa tersebut bisa kita lihat dari sejak kehadiran buku pertama hingga buku ke sekian. Pertama, akan muncul rasa bangga, senang, haru, campur aduk bahkan agak sedikit pamer atau semi-semi riya. Akan tetapi di fase ini penulis masih belum hilang rasa mindernya karena kepercayaan diri belum terbangun seutuhnya. Rasa percaya diri hanya terbangun untuk menerbitkan saja sehingga godaan untuk konsisten menulis bisa dilihat di sini. Fase ini biasanya terjadi pada buku pertama, bahkan buku antologi alias buku keroyokan pun jika lahir pertama begitu nampak berha...

Tuan Krabb, Uang dan Ajaran Zuhud

             ( Sumber gambar canva.com) Woks Jika anda penikmat serial kartun Spongebob Squarepants tentu tak asing dengan tokoh Eugene H. Krabs atau biasa disapa tuan Krab. Ia adalah tokoh kartun dengan jenis kepiting. Ia merupakan majikan dari Spongebob dan Squidward, pemilik restoran cepat saji paling terkenal selautan yaitu Krusty Krabs. Restoran yang menyajikan Krabby Patty alias Burger itu selalu berseteru dengan saingan utamanya yaitu Seldon Plankton. Tapi bukan itu yang dibahas, melainkan perilaku dari sang pemilik restoran yaitu tuan Krabs. Tuan Krab seperti judul tulisan ini ialah sosok yang digambarkan sebagai pecinta uang. Bahkan kecintaan kepada uang melebihi sayangnya pada anak semata wayangnya yaitu Pearl. Stephen Hillenburg sebagai pencipta tokoh kartun tersebut begitu ciamik dalam menyajikan karakter pada tokoh tuan Krab tersebut. Ia bahkan berhasil menciptakan penonton yang membuat gemas saat tuan Krab kikir terhadap karya...