Langsung ke konten utama

Obituari : Pak Sofyan Sang Perantauan

Woko Utoro

Kemarin tetangga saya berpulang, namanya Pak Sofyan. Saya dikabari adek jika beliau meninggal malam hari. Memang beberapa waktu beliau bolak-balik rumah sakit untuk kontrol kesehatan. Tapi takdir berkata lain beliau dipanggil sang kuasa. Beliau merupakan tetangga kami dekat. Bahkan rumahnya berjarak 5 meter dengan mushola yang tiap saat kami datangi untuk shalat.

Pak Sofyan itu aslinya dari Tegal, sedangkan istrinya Bu Sutarmi asli Pati Jawa Tengah. Beliau dikarunia 3 anak yaitu Mas Arif, Akbar dan Firda. Akbar itulah anak Pak Sofyan seangkatan dengan saya. Sejak kanak-kanak hingga kini kami masih berteman baik dengan anak-anaknya. Anak-anak Pak Sofyan sudah berkeluarga semua. Mas Arif di Jakarta, Akbar di Tangerang dan Firda hidup bersama beliau di Indramayu.

Jika ingat Pak Sofyan tentu saya hanyak cerita tentang beliau. Salah satunya tentang perjuangan hingga wafatnya dan pastinya Al Zaytun. Terlepas dari kontroversinya Al Zaytun memiliki kontribusi bagi masyarakat BBT Mekarjaya Gantar di awal pendiriannya. Dulu saya ingat ketika Idul Adha, Al Zaytun selalu qurban sapi sebanyak 100 ekor. Sedangkan saat zakat fitrah mereka selalu membagikan beras tidak kurang dari 100 ton. Tapi sekarang Al Zaytun sudah berbeda dan beberapa persen santer dalam pemberitaan yang negatif.

Saya juga ingat mungkin mengapa hingga kini saya masih membaca. Mungkin salah satunya ada kontribusi Pak Sofyan. Dulu kata bapak saya rajinlah membaca dan apapun dibaca termasuk majalah. Nah ketika saya main di rumah Akbar, Pak Sofyan selalu membawa Majalah Al Zaytun. Pak Sofyan pulang setiap bulan dan selain membawa majalah juga membawa makanan. Dari sanalah saya membaca Al Zaytun secara lebih dekat.

Ya rerata orang Al Zaytun adalah perantauan dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, salah satunya Pak Sofyan. Saya ingat di awal dulu Pak Sofyan dan keluarganya ngontrak ke sana ke sini. Hingga akhirnya kini memiliki rumah sendiri. Bahkan rumah yang ditempati saat ini merupakan kontrakannya dulu. Kontrakan itu beliau beli dengan cara mencicil hasil kerja puluhan tahun di Al Zaytun. Lebih jauh lagi kini beliau sudah mampu membuatkan rumah baru untuk Firda, anak ketiganya.

Dulu jika ingat keluarga beliau rasanya nelangsa. Bahkan untuk makan saja istrinya harus bekerja menjahit siang malam. Tapi kini rumah dan sawah sudah beliau miliki. Anak-anaknya pun sudah mentas semua dan bahkan bergelar sarjana. Kini istri beliau hidup bersama anak dan cucunya. Semoga jika ada kebaikan Pak Sofyan bisa menjadi pahala jariyah untuk beliau. Aminn. Al Fatihah.

the woks institute l rumah peradaban 20/8/26

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Ngaji Ngopi: Edisi Konsep Dakwah di Era Milenial

               (Ngaji Ngopi: doc penulis) Woks Ngaji Ngopi kali ini begitu istimewa sebab acara tersebut kedatangan narasumber yang keren bahkan hingga dipenuhi sesak jamaah. Narasumber tersebut tak lain merupakan founder dari masing-masing orang yang telah memiliki jamaahnya tersendiri dan sesuai bidang kajian yang diampunya. Mereka yaitu Pak Nurwakhidun founder Ngaji Gayeng, Gus Abdillah Subhikin founder Kampung Sufi dan Gus Muhammad Balyahu founder A.T.I (Anak Thariqoh Indonesia). Ngaji Ngopi edisi kali ini tentu membicarakan konsep dakwah dari masing-masing founder tersebut guna mengajak kepada semua orang terutama generasi milenial agar terus membumikan hal-hal baik di kehidupan. Tentu dari masing-masing halaqoh yang mereka nahkodai memiliki ciri khasnya tersendiri sehingga bisa menjadi pilihan anak muda untuk menggali ilmu. Maka dengan adanya mereka dan kelompok binaanya setidaknya menjadi alasan kuat untuk kita terus menc...

Hierarki Rasa Menerbitkan Buku Perspektif Psikologi

Woks Bagaimana rasanya menulis, bagaimana rasanya jika tulisan tersebut dibukukan, terbit, beredar ke muka umum hingga tiba di hati pembaca. Tentu segala rasa itu sangat subjektif tapi sedikitnya bisa dijabarkan walaupun setiap orang punya pengalaman tersendiri. Saya punya 3 pendapat bagaimana rasanya punya buku dan sampai dibaca oleh orang lain. Secara psikologis hal itu dapat kita jabarkan secara singkat. Secara hierarkis 3 tingkatan rasa tersebut bisa kita lihat dari sejak kehadiran buku pertama hingga buku ke sekian. Pertama, akan muncul rasa bangga, senang, haru, campur aduk bahkan agak sedikit pamer atau semi-semi riya. Akan tetapi di fase ini penulis masih belum hilang rasa mindernya karena kepercayaan diri belum terbangun seutuhnya. Rasa percaya diri hanya terbangun untuk menerbitkan saja sehingga godaan untuk konsisten menulis bisa dilihat di sini. Fase ini biasanya terjadi pada buku pertama, bahkan buku antologi alias buku keroyokan pun jika lahir pertama begitu nampak berha...